Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
1


__ADS_3

Sinyo buru-buru mematikan telpon saat Indah datang ke kamarnya. Dia berdehem untuk menyembunyikan kegugupannya. Ia kemudian menatap layar laptopnya, berpura-pura sedang serius bekerja. Mouse nya ia goyangkan ke kiri dan ke kanan tapi sebentar kemudian matanya melihat pada sosok cantik yang langsung bekerja membersihkan kamarnya.


"Pagi tuan..."


"Hem..."


Indah mulai bekerja, melipat selimut si pria rese.


"Emmm...."


"Apa? ngomong aja! You jangan berbelit-belit !" Kata Daniel penasaran.


"Anu tuan, kok bisa tahu rumah saya?"


Daniel menatap Indah yang sedang memegang bantal. Ia belum menyiapkan jawaban untuk hal itu. Untuk saat ini ia belum bisa bicara jujur.


"Kebetulan lewat di depan situ" Jawab Daniel ambigu membuat Indah makin bingung. Pertanyaannya apa jawabnya apa.


"Kalau ada perlu apa-apa tolong jangan ke rumah tuan!"


"Kenapa memangnya? Kamu nggak punya suami kan?"


Indah menarik nafasnya dengan berat kemudian menghembuskannya pelan-pelan.


"Kan setiap hari saya disini. Kalau mau nanya apa-apa disini saja, nggak usah ke rumah!"


"You mulai ngatur-ngatur I ?"


"Bukan begitu tuan, nggak enak sama tetangga"


"Alasan! Cepetan selesaikan pekerjaan you. Abis itu kita keluar !"


"Ke-kemana tuan?"


"You nggak lupa kan mau jelasin tentang syarat-syarat qurban apa saja?"


"Saya bisa jelaskan disini nggak usah keluar "


"I yang mau hangout. I butuh penyegaran buat kamar I ini. I pingin kamar I kayak gini...." Daniel menunjukkan sebuah foto kamar dengan desain minimalis yang ada di handphonenya.


Indah mendekat kemudian melihat dengan seksama dekorasi kamar yang diinginkan oleh tuannya.


"Tapi hari ini hari Minggu ?"


"Minggu kemarin you juga keluar sama Cici kan? You nggak ada kerjaan di rumah kan? I kasih dua kali lipat dari yang cici kasih"


"Tapi tuan..."


"Izin sama keluarga you. Bilang mau keluar karena ada pekerjaan tambahan. Nanti I yang antar you pulang"

__ADS_1


Indah tak bisa berkelit lagi karena memang tak punya alasan. Di hari libur biasanya dia akan mencuci baju dan bantu bersih-bersih rumah. Meskipun sang ibu melarang karena kasihan melihatnya harus bekerja setiap hari. Tapi Indah ingin sesekali membantu pekerjaan di rumah saat ia libur kerja.


Mendengar kata dua kali lipat dari yang dikasih oleh Sofiyah hati Indah jadi berbunga-bunga. Ia bercita-cita ingin qurban, ingin punya rumah lagi, ingin adiknya kuliah. Sedikit banyak ia jadi bersemangat.


Ia keluar dari kamar Sinyo untuk mengabari adiknya kalau dia tidak pulang cepat karena ada pekerjaan.


"Halo ... assalamualaikum..."


Indah heran karena tidak biasanya ibunya yang menjawab panggilan.


"Waalaikumsalam warahmatullah. Lho kok ibu yang ngangkat, Budi mana bu?"


"Adikmu sudah keluar barusan sama Lana"


"Kok hapenya ditinggal bu?"


"Iya sejak kemarin hapenya ditinggal. Katanya dia sudah punya hape lagi. Ini biar di rumah barangkali kamu nelpon. Katanya begitu. terus ibu diajarin bagaimana cara nerima telpon"


"Sudah punya hape? Kok indah nggak tahu ya bu? Uang Budi kok banyak ya bu? Dia belum waktunya gajian kan? Dia dapat uang darimana ya bu?"


"Katanya dapat bonus atau apa gitu..."


"Bonus?" Indah mengerutkan kening mencoba untuk berpikir.


"Bilangnya begitu..."


"Ya sudah bu nanti kita bahas lagi. Indah cuma mau bilang nggak bisa pulang cepet soalnya ada kerjaan tambahan "


"Iya bu..."


.


.


.


Setelah memberi kabar pada ibunya, Indah bekerja kembali membersihkan kamar Daniel. Sedangkan Sinyo malah asyik di depan laptop memandang si asisten rumah tangga kesayangannya melalui layar laptopnya. Iya, dia sedang memvideokan Indah yang lumayan kikuk karena harus bekerja di bawah pengawasan majikan muda.


Indah kemudian memunguti baju-baju Sinyo yang tergeletak dimana-mana. Di atas tempat tidur ada baju dan celana, di tempat wardrobe nya ada baju kimono, dikamar mandi ada pakaian dalam yang disampirkan begitu saja. Indah kemudian memasukkannya dalam keranjang dan membawanya ke bawah.


Ia mulai memisahkan pakaian Sinyo berdasarkan warna dan jenis kainnya kemudian mulai memasukkannya ke dalam mesin cuci.


Ternyata sinyo membuntutinya membuat Indah sedikit jengah. Ia merasa tidak nyaman diperhatikan oleh majikan sampai sedemikian.


"Tuan di sana saja nanti kalau saya sudah selesai saya akan ke sana!" Kata Indah merasa tak nyaman berduaan di tempatnya bekerja dan Sinyo menurut saja tanpa ada perlawanan sama sekali.


Satu jam kemudian Indah sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghampiri Daniel yang sedang memanasi mesin mobilnya. Expander hitam miliknya yang benar-benar ia beli dari hasil kerjanya sendiri.


Di garasi rumah itu ada beberapa mobil yang terparkir tapi itu bukan miliknya. Dua milik Basofi sedangkan dua lainnya milik sang papa. Dua mobil mewah untuk acara-acara tertentu dan dua lainnya untuk keperluan biasa. Tapi sinyo hanya memakai Expander miliknya saja untuk berbagai kegiatan. Dia bukan orang yang gila mobil seperti papanya yang sering gonta ganti mobil.

__ADS_1


Daniel kemudian membukakan pintu mobil depan saat melihat Indah sudah berdiri tak jauh dari tempatnya. Kali ini Indah nampak sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya lebih segar dan bercahaya.


"Apa tidak sebaiknya saya di belakang tuan?" Tanya Indah sedikit ragu.


"I am not your driver !"


"Apa artinya?" Tanya Indah.


Tiba-tiba si kecil Han menjawab pertanyaan Indah, "Aku bukan sopir kamu"


Indah dan Daniel menoleh pada si kecil yang datang tanpa diundang. Ia kemudian menggunakan dagunya untuk menunjuk pintu mobil belakang dan menatap sang paman.


Daniel kemudian menoleh ke belakang dan melihat kedua orang tua Han sedang mengamatinya.


"Nanti kalau uncle nakal lapor sama papi ya Han!" Kata Sofiyah mengejek adik iparnya.


"Kalian.....!" Daniel menahan geram karena ingin berduaan tapi malah di beri momongan. Hancur sudah angan-angannya.


"Nggak boleh berduaan saja belum waktunya. Bukan apa-apa.... tapi aku sayang sama Indah. Aku nggak mau terjadi yang enggak-enggak sama dia " Jawab Sofiyah .


"I know... I nggak bakal ngapa-ngapain dia!" Jawab Daniel.


"Ya sudah kalau nggak ngapa-ngapain berarti ada Han juga nggak ada masalah kan?" Sofiyah membukakan pintu untuk putranya kemudian berkata, " Be carefoul honey! Jangan lupa nanti telpon papi ya!"


Han kemudian memasang sabuk pengamannya sendiri karena merasa sudah besar dan tak ingin dianggap seperti anak kecil.


"Ayo buruan berangkat biar nggak terlalu siang. Nanti kepanasan lho. Hati-hati ya!" Sofiyah memaksa Indah masuk ke dalam mobil kemudian menutup nya sambil tersenyum menggoda.


Daniel yang kesal kemudian berjalan memutar dan masuk ke dalam mobilnya, duduk di depan kemudi. Dengan muka cemberut ia pun mulai menjalankan mobilnya.


Untuk beberapa saat keadaan di mobil hening karena ketiganya tidak ada yang memulai percakapan. Untuk kali ini Sinyo benar-benar tidak ingin ada Han diantara mereka.


"You nggak mau gitu keluar with your parents?" Tanya Daniel.


"Uncle nggak suka Han ikut ? Ya sudah turunkan saja disini! Han akan pesan grab buat balik ke rumah" Kata Han dengan suara datar.


"Not like that..... Ok I am sorry.... Uncle minta maaf..... !!" Kata Daniel dengan suara pelan karena merasa bersalah.


Tak ada jawaban dari Han yang membuat suasana dalam mobil menjadi tidak nyaman terutama buat Indah.


"Uncle Daniel suka kok Aden ikut.... Cuma pingin tahu aja kenapa nggak pingin keluar sama papi maminya? Aden Han kayak sayaaangh banget sama uncle nya, makanya kemana-mana mau ikut terus ya ..." Kata Indah mencoba menengahi.


"Siapa yang sayang siapa? Biasa aja" Jawab Han sambil memalingkan muka.


"Jangan panggil Aden-aden gitu aunty. It is weird, aneh..." Kata Han lagi.


Daniel tersenyum karena Indah membelanya di depan sang keponakan.


"Ok deh uncle yang sayang banget sama You. Too much love for you" Kata Daniel sambil melirik kaca spion tengah melihat keponakannya.

__ADS_1


Setelah itu ketiganya terdiam lagi beberapa saat. Daniel kemudian mencoba memecah kesunyian


"Coba jelaskan apa saja Syarat rukunnya Qurban!"


__ADS_2