Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Sarapan pagi


__ADS_3

Pagi itu setelah jogging di sekitar rumah Daniel menaruh sepatu ketsnya seperti biasa, di belakang pintu kamar. Namun setelah dilihat-lihat lagi ternyata memang lebih rapi kalau di taruh di lemari kaca tempat semua sepatunya bersemayam.


Daniel kemudian menjinjing sepatunya dan menaruhnya di lemari kaca seperti yang dilakukan oleh Indah kemarin. Padahal sebelumnya dia marah-marah tapi sekarang dia membenarkan pekerjaan si tukang cuci setrika.


Pria berkulit putih dan bermata sipit itu kemudian pergi mandi karena kulitnya berkeringat setelah olahraga pagi. Ia memang kerap bangun pagi meskipun tidak ikut menunaikan shalat subuh bersama keluarganya karena agama mereka berbeda.


Sejak kecil ia memang ikut mama tirinya namun sang mama tak mengajarinya tentang agama Islam karena mami kandungnya masih beragama Katolik.


Kini Daniel sudah memakai pakaian kerja lengkap dan terlihat rapi. Setelan jas yang ia kenakan sangat cocok dengan tubuh dan wajah tampannya. Tinggal mencari dasi yang warnanya senada dengan pakaiannya. Ia memejamkan mata saat mendapati dasinya tidak berada di tempat biasa. Ia paling benci kalau asisten rumah tangga ikut campur menata barang-barang miliknya tanpa perintah darinya.


Nafasnya naik turun karena kesal yang datang tiba-tiba. Satu nama yang berkelebat dalam pikirannya. Siapa lagi yang berani memindahkan barang-barang nya tanpa meminta izin dulu darinya kalau bukan Indah. Gadis yang kemarin kena semprot mulut jahatnya.


Selama ini mbok Jah tidak pernah berbuat salah. Menata barang-barang pribadinya sesuai dengan perintah.


Dari lantai atas Sinyo berteriak ke arah dapur para pembantu.


"Panggilkan Indah!!! Suruh naik ke atas!!"


Suara Daniel menggema ke seluruh penjuru. Untungnya tuan dan nyonya sedang tidak ada di rumah. Kalau tidak bisa dipastikan dia akan kena marah.


Para pembantu pun berlarian mencari sosok yang membuat majikan muda mereka marah. Si tersangka ternyata berada di tempat biasa sedang memilah pakaian yang akan dicucinya.


Dengan takut-takut gadis yang bernama Indah itu mengetuk pintu kamar sang majikan. Meski pintunya terbuka namun ia tahu diri. Kemarin dia hanya boleh berdiri di depan pintu seperti sekarang. Barulah setelah tidak bisa menemukan sepatu yang dicari, Indah diperbolehkan masuk untuk menunjukkan keberadaan barang yang dicari oleh sang majikan.


"Tok tok tok...!!".


"kenapa masih berdiri di situ?? Masuk!!!"

__ADS_1


Indah menghela nafas sambil mengusap dada. Ya..h beginilah jadi pembantu harus siap dicaci dan dimaki sesuai mood majikan. Kemarin nggak boleh masuk, sekarang cuma berdiri di depan pintu masih saja dibentak lagi. Pokoknya dimata majikan pembantu itu selalu salah dan di mata para pekerja, majikan itu selalu benar tidak pernah salah.


"Dimana dasi I yang warna biru yang ada garis kuningnya ?"


"Miring?"


" What do you say? Miring ? You pikir I tidak waras?"


"Apa garis kuningnya motifnya miring tuan?" Jelas Indah sambil melihat tuannya. Hanya sebentar kemudian ia menunduk kembali.


"Tanya yang jelas!"


Sinyo menatap Indah dengan emosi. Merasa di sepelekan. Padahal kemarin jelas-jelas ia melihat kalau sosok Indah ini adalah gadis penakut tapi hari ini dia sudah berani membantahnya.


"Buruan...! I mau meeting...!" Daniel berkacak pinggang dengan pongahnya.


Pria muda itu membelalakkan mata saat melihat Indah membuka lemari pakaiannya.


"Saya sudah sering membuka lemari ini tuan. Itu adalah tugas saya untuk menata pakaian kembali ke tempatnya semula. Hanya saja karena sekarang saya disuruh membersihkan dan menata ruangan ini jadi ....."


"What is this?" Daniel berjalan mendekat ke arah Indah yang sedang menghadap lemari. Kini ia berdiri tepat di belakang Indah yang berdiri mematung karena Jarak mereka sangat dekat membuat bulu kuduk si cantik bergidik. Meski sudah pernah menikah namun ia sangat menjaga diri dari lelaki yang bukan mahromnya. Perlahan ia pun berjalan menyamping agar ada jarak di antara mereka.


Mata Daniel menangkap gerakan Indah yang sepertinya menghindar , lebih tepatnya menjauh darinya. Tapi kemudian matanya segera beralih pada dasi yang digantung rapi pada gantungan yang terletak di balik pintu lemari.


"Dari mana you mendapatkan ini?" Tanya nya sambil telunjuknya meneliti dasi-dasi yang tergantung rapi. Jujur hatinya lebih suka dengan tatanan Indah daripada kebiasaannya yang menggulung dasi-dasi miliknya dengan rapi kemudian menatanya dalam laci.


"Dari laci bawah sana tuan!" Indah menunjuk laci yang dimaksud dengan telapak tangan tanpa berani menatap wajah sang majikan.

__ADS_1


"Memang you istri I? sampai berani menata barang-barang yang ada disini?"


"Baiklah akan saya kembalikan ke tempat semula..."


Daniel tak mengiyakan tapi juga tak menolak. Ia menggerakkan kepalanya ke arah pintu keluar membuat gadis itu lega karena ia bisa bernafas dengan semestinya.


Di luar kamar Indah mengusap dadanya sambil menghembuskan nafas lewat mulutnya.


"Kenapa?" Tanya Sofiyah tiba-tiba.


"Ya Alloh non...!! Bikin kaget aja !!" Lagi-lagi Indah mengusap dadanya karena sepagi ini berkali-kali dikejutkan dengan hal-hal tak biasa. Selama tiga bulan dia bekerja di kediaman Tuan Adi dan Nyonya Rosi baru kali ini ia kena semprot secara langsung oleh tuan muda yang disebutnya Tuan Sinyo.


Sofiyah melongokkan kepala ke dalam kamar adik iparnya tapi tak melihat siapa-siapa karena si empunya kamar sedang berada di ruangan wardrobe nya.


"Permisi non...!" Indah menundukkan kepala meminta izin untuk turun ke bawah


******


Keesokan harinya Sinyo yang sudah rapi dan sudah memakai dasi, membuka laci tempat biasanya dia menaruh penjepit dasi tapi tidak menemukan barang yang ia cari.


Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berjalan keluar kamar. Dari atas lantai dua dia melihat ke arah dapur para pembantu yang sedang sibuk menyiapkan keperluan para majikan. Ia tidak melihat Indah di sana.


"Indahhh!!! Naik ke atas!!!" Daniel berteriak dengan nada emosi meski hari masih pagi.


"Iya den saya panggilkan sebentar....!" Kata Bi Juliati sambil tergopoh-gopoh mendatangi Indah di tempat kerjanya, tempat cuci dan setrika yang berada di bagian belakang kediaman utama.


"Ndah....!! Dicari den Sinyo. Kamu apakan sih kamarnya den Sinyo ? Tiap pagi sampai teriak-teriak begitu? Nggak usah dirubah-rubah kenapa Ndah? Jangan bikin masalah deh Ndahhh.... !!! Kita semua yang kena sasaran... Pagi-pagi bukannya sarapan malah kena ocehan " Kata Bi Juliati dengan muka masam.

__ADS_1


"Maafin Indah bi...." Indah menaruh pakaian yang tadi dipilah-pilah di keranjang terpisah kemudian segera bergegas menuju ke lantai atas.


Baru saja Indah mau mengetuk pintu tapi ternyata tuan mudanya itu sudah menunggunya. Sinyo bersandar di dinding dengan kedua tangan bersedekap.


__ADS_2