
Daniel terpaku di tempatnya, melihat Indah dengan segala pesonanya. Kulit sawo matangnya bersinar di bawah terik matahari. Tanpa make up yang melekat kecuali celak di matanya. Membuat wajahnya nampak ayu berseri bagai bidadari yang turun dari kahyangan. Ini menurut Daniel yang sudah terlalu sering bergaul dengan orang-orang berkulit putih. Kulit coklat menjadi lebih eksotis dan lebih menarik di matanya.
Indah yang belum sadar dengan kehadiran tuan mudanya melakukan pekerjaannya seperti biasa. Mengambil jemuran yang sudah kering kemudian ditaruh di pundaknya. Sampai hanya tersisa tiga jemuran lagi.
Wanita yang hari ini berkerudung merah jambu itu terdiam tatkala menyadari ada Sinyo yang berdiri diantara jemurannya. Tapi beberapa detik kemudian dia melanjutkan mengambil jemuran yang tersisa sampai habis tak bersisa.
Indah menundukkan kepala untuk menyapa Daniel. Meski ia marah dan kesal tapi ia tahu diri. Posisinya hanyalah seorang pembantu yang tidak sepantasnya marah pada majikannya.
Setelah itu ia berjalan ke tempat kerjanya, ke tempat laundry.
Daniel mengikutinya di belakang Indah tanpa mengucap sesuatu. Bibirnya kelu padahal dia ingin mengucap kata maaf. Rasanya ia jadi tak punya keberanian untuk mengakui kesalahannya.
Wanita muda itu berhenti di ambang pintu saat menyadari kalau Daniel mengikutinya. Ia berbalik karena tak ingin terjadi sesuatu yang bukan-bukan. Ia takut Daniel bertindak di luar batas. Apalagi saat ini mereka berada di bagian rumah paling belakang.
"Apa ada yang bisa dibantu tuan?" Tanya Indah dengan raut muka datar.
Gluk
__ADS_1
Daniel menelan ludah mendengar panggilan Indah. Kemarin wanita itu sudah mau bicara agak banyak dengannya bahkan sudah memanggilnya koko tapi sekarang raut wajahnya kembali datar .
Daniel menekuk kakinya, bertumpu di atas kedua lututnya. Ia menatap Indah dengan penuh penyesalan.
"Jangan seperti ini! Tolong bangun tuan! Apa kata orang-orang kalau lihat tuan seperti ini ...?" Indah buru-buru masuk dan menaruh pakaian-pakaian yang sudah kering tadi di keranjang baju.
"I am sorry.... " Kata Daniel sambil menundukkan kepala. Ia tak sanggup melihat kesedihan Indah akibat ulahnya. Mata Indah memang terlihat masih bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Saya maafkan tolong jangan seperti ini.... saya tidak pantas menerima hal seperti ini..... Tolong bangun tuan !! Nggak enak kalau dilihat sama ibu nanti..."
"Tak perlu pedulikan orang lain, lihat saja aku...!" Kata Daniel sambil mendongakkan kepala.
"Permisi saya mau lewat tuan. Kalau tuan masih mau disini silahkan!" Kata Indah tak berani menatap mata daniel yang sedang memperhatikannya.
"I promise I tak akan begitu lagi. I Swear...!" Kata Daniel dengan dua jari membentuk V.
Indah mengangguk tapi terlihat tak ikhlas.
__ADS_1
"Indah ..... I bersedia lakukan apa saja asal you mau memberi maaf..." Daniel akhirnya berdiri. Ia menepuk lututnya yang kotor terkena debu.
"Saya maafkan tuan...." Kata Indah sambil beranjak pergi.
"Tolong jangan pergi. I bersedia melakukan apapun tapi jangan pergi...!" Bujuk Daniel.
"Saya mau makan saya lapar...." Jawab Indah asal padahal dia hanya tidak ingin berduaan dengan majikannya yang sedang melow itu.
Daniel pun mengikuti Indah, kemana pun wanita itu melangkah dia akan mengikutinya.
"Aunty....!!!" Suara Han yang tiba-tiba mengagetkan Indah dan Daniel yang sedang berada di dapur para pekerja.
"Aunty....! Ayo lanjutkan ceritanya! I am sorry..... I ketiduran kemarin..." Jelas Han sambil menggandeng tangan Indah menuju ke meja makan keluarga.
"Saya mau makan disini saja den Sinyo...." Kata Indah karena meja makan keluarga bukanlah tempat para pekerja.
"Memangnya kenapa kalau makan di sini? Nggak papa mbah Uti?" Tanya Han dengan polos pada neneknya yang sedang di meja makan untuk makan buah.
__ADS_1
Nyonya rumah itu memandang Indah dengan sorot mata tak terbaca tapi kemudian dia pergi meninggalkan mereka tanpa kata.