
"Coba jelaskan apa saja syarat dan rukunnya Qurban!"
"Eh....Oohh.... itu..." Indah menegakkan tubuhnya kemudian bersandar agar lebih nyaman. Kali ini ia bisa memakai sabuk pengaman sendiri karena seminggu yang lalu ia sudah diajari Sofiyah bagaimana cara memakainya.
Han yang duduk di belakang sedikit tertarik dengan pertanyaan yang dilontarkan pamannya namun ia masih melihat ke arah jendela. Ia memang selalu ingin tahu tentang ilmu agama, hanya saja ia tak mendapatkannya di rumah maupun disekolah. Kedua orang tuanya biasanya pergi ke pesantren untuk belajar ilmu agama tapi ia belum diizinkan untuk ikut serta dikarenakan pembahasannya tentang masalah rumah tangga.
" Kurban hukumnya Sunah Muakkad, Sunnah yang sangat dianjurkan atas orang-orang yang memenuhi syarat." Jawab Sofiyah santun.
"Menyembelih binatang kurban bisa dilakukan pada Hari Raya Idul Adha selepas salat hari raya dan pada hari-hari Tasyrik"
"Jadi bukan pas hari raya aja ya aunty?" Tanya Han antusias.
"Bukan. Kita boleh menyembelih hewan kurban kita pada hari-hari tasyrik. Misalnya sekarang hari raya tapi ada orang yang mau menyembelih hewan kurbannya pada keesokan harinya itu boleh dan sah. Takbiran juga begitu boleh dibaca sampai Ashar tanggal 13 bulan Dzulhijjah". Indah menjawab pertanyaan Han dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah belakang.
"Kalau apa tadi.. Sayrik itu apa aunty?" Tanya Han yang kini sudah menghadapkan wajahnya ke depan sehingga mereka seperti berbicara sambil berhadapan-hadapan.
"Tasyrii..k, tasyrik itu artinya adalah hari yang diharamkan untuk puasa pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Di disunnahkan untuk umat Islam makan daging qurban pada hari-hari itu"
Daniel mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Indah. Hatinya selalu tertarik pada ajaran agama Islam. Hanya saja dia tidak begitu menanggapi panggilan hati. Menurut pandangannya ajaran-ajaran Islam selalu relevan dengan kehidupan di berbagai zaman tapi ia masih enggan untuk mencari tahu lebih jauh lagi.
" Kalau anak kecil yang mau kurban hukumnya apa aunty?"
"Boleh tapi pahalanya untuk kedua orang tuanya karena salah satu syarat kurban adalah Baligh. Syarat dalam berkurban itu ada empat yaitu Beragama Islam, Merdeka, bukan hamba sahaya, Baligh dan berakal, dan syarat yang terakhir adalah mampu untuk berkurban"
"Hewan yang boleh dipakai untuk berkurban itu apa saka aunty?" Tanya Han.
"Naah hewan yang bisa dijadikan kurban itu harus memenuhi tiga syarat. Yakni
Pertama, harus hewan ternak, yaitu unta, sapi, kambing, domba atau kerbau.
Kedua, harus mencapai usia minimal yang telah ditentukan oleh syariat.
__ADS_1
Kalau domba harus mencapai minimal usia satu tahun lebih, atau sudah berganti giginya.
2. Kambing kacang (ma’z) harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.
3. Sapi dan kerbau harus mencapai usia minimal dua tahun lebih.
4. Unta harus mencapai usia lima tahun atau lebih.
Ketiga, harus sehat, tidak cacat, dan tidak berpenyakit". Indah menjawabnya dengan gamblang.
"Kerbau? Kerbau termasuk hewan yang boleh dikurbankan? Kok nggak pernah dengar ya aunty?" Tanya Han lagi.
"Di kampung saya dulu ada yang kurban kerbau. Karena orang tuanya beragama Hindu, ia tidak ingin menyakiti hati keduanya. Orang hindu itu kan sangat menghormati sapi" Jelas Indah.
Daniel menoleh sebentar ke arah Indah sekejap dan bertanya, " Jantan atau betina nggak ada masalah?"
"Sebagian besar ulama membolehkan berkurban dengan hewan jantan atau betina . Tapi kalau menurut Mazhab Syafi'i paling bagus dan afdhal atau yang paling utama adalah berkurban dengan hewan jantan."
"Aunty tahu semua itu darimana?" Tanya Han penasaran.
"Oh.... itu den Sinyo... dulu...saya pernah belajar pada seorang ustadz...."
Air muka Indah langsung berubah. Tubuhnya ia gerakkan seperti semula. Duduk bersandar pada jok dengan mata melihat ke depan ke arah jalanan. Bayangan suaminya tiba-tiba berkelebat di kepalanya. Saat-saat indah yang mereka lalui bersama terlintas di begitu saja. Ia jadi rindu pada si belahan hati yang telah berpulang lebih dulu menghadap Ilahi.
Indah ingat bagaimana sabarnya ayahnya Lana itu. Tidak pernah marah dan selalu membimbingnya. Mengajarinya tentang agama bukan hanya teorinya saja tapi juga di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
"Sekarang ustadznya kemana aunty?" Tanya Han yang berhasil membuyarkan lamunan si pemilik dagu terbelah.
"Dia.... dia sudah meninggal sekarang...."
"I am sorry aunty...." Kata Han menyesal dengan pertanyaan nya barusan yang membuat Indah menjadi sedih.
__ADS_1
Daniel yang berada di sebelah Indah sempat melirik si janda ayu nan manis itu. Ia mengira kalau ustadz yang dimaksud Indah mungkin saja adalah kekasihnya dan mereka tidak bisa bersama karena takdir yang telah memisahkan mereka berdua.
Setelah itu keadaan menjadi hening kembali. Hanya suara motor dan klakson yang terdengar di sepanjang jalanan yang mereka lalui sampai akhirnya mereka tiba di mall terbesar yang ada di kota.
Daniel yang terlebih dulu turun dari mobil kemudian bergegas membukakan pintu untuk pegawainya. Terlihat aneh tapi itulah yang terjadi. Hatinya sudah dipenuhi gelombang cinta sehingga ia tak perduli apa kata dunia.
Indah yang selalu bergamis panjang itu sedikit kikuk saat diperlakukan demikian. Jujur saja itu pertama kalinya ia diperlakukan bak seorang putri oleh seorang pangeran nan tampan dan rupawan.
Indah hendak menggandeng tangan Han tapi si tuan muda kecil itu menolak.
"I sudah besar aunty....." Kata Han.
"Yes I know" Indah terkikik mendengar ucapannya sendiri. Ia kemudian melihat Han untuk melihat reaksinya. Apa ia akan ditertawakan oleh majikan kecilnya karena ikut-ikutan sok kebulean?
Han memandang Indah sebentar kemudian bersedia mengulurkan tangannya.
" I melakukan ini karena tidak mau aunty nanti menangis" Kata Han sambil memalingkan muka.
"Iya... ini aunty hampir saja menangis..." Kata Indah sambil memandang Han. Wanita bergamis hijau matang itu menggigit bibirnya. Ia jadi ingat Lana. Seandainya saja bisa mengajaknya jalan-jalan seperti ini pasti menyenangkan, batinnya.
"Ayo....!" Ajak Daniel yang langsung menggandeng tangan sang keponakan.
Kini Han berada diantara keduanya. Dari belakang mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Ini adalah kali kedua Indah menapaki mall itu. Minggu yang lalu ia menginjakkan kaki di mall itu untuk pertama kalinya. Meski begitu ia masih saja terpana saat melihat pintu yang bisa terbuka sendiri saat ada orang yang mau melewatinya.
'Apa ada orang yang mengendalikannya dari suatu tempat? Atau apakah ia memakai sensor atau sejenisnya?' Pikirnya.
Kalau tidak ingat umur rasanya ia ingin bolak-balik di situ untuk mempermainkan si pintu ajaib. Lucu saja menurutnya
"Kenapa you senyum-senyum begitu?" Tanya Daniel yang melihat Indah senyum-senyum tak jelas padahal tak ada sesuatu yang lucu.
"Itu tuan, pintunya ajaib bisa nutup buka sendiri, kayak punya mata" Kata Indah sambil melebarkan senyuman kagumnya.
__ADS_1
Daniel menarik lengan Indah karena kali ini ia betul-betul terlihat udik. Ia tidak ingin Indah ditertawakan orang-orang yang ada di sana meskipun hatinya bersorak bahagia melihat kepolosan wanita pujaan hatinya. Ia begitu sederhana tapi disaat-saat tertentu ia juga tetap memegang prinsip-prinsip yang ia yakini kebenarannya.