
Keesokkan paginya semua Art sudah berkumpul di ruang tengah. Termasuk tukang kebun dan sopir. Hanya mang Nanang yang tetap berjaga di pos satpam.
Ini pertama kalinya mereka dikumpulkan oleh Sinyo sehingga kusak-kusuk terjadi. Mereka mencoba menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa mereka akan mendapat hadiah seperti yang dikatakan oleh Bi Paiti atau mereka akan mendapat murka karena melakukan kesalahan tanpa sadar.
Sinyo menatap satu persatu para asisten rumah tangga dengan menyipitkan matanya yang aslinya memang sudah sipit.
"Yang punya hape berdiri di sebelah kanan yang tidak punya hape berdiri di sebelah kiri!" Perintah Daniel dengan kedua tangan bersedekap.
Mereka pun membelah diri sesuai kriteria ke tempat masing-masing. Hanya ada tiga orang yang tidak punya hape. Indah, Pak Parlan si tukang kebun dan Bi Juliati.
"Untuk beli paket data" Kata Sinyo sambil membagi uang seratus ribuan pada masing-masing orang yang berdiri di sebelah kanan.
"Makasih den Onyo....."
"Makasih den.... Yang sering-sering aja den...!"
"Makasih den semoga rejekinya tambah berkah"
"Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya ya den...."
Tentu saja mereka senang. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba tuan mudanya ini memberikan bonus secara cuma-cuma diluar kebiasaan.
"Kalian boleh pergi!" Kata Sinyo setelah memberikan uang pada orang paling belakang yang berdiri di sebelah kanan.
Daniel kemudian memberikan kotak berisi handphone pada pak Parlan dan pada Bi Juliati. Yang terakhir ia memberikan handphone tanpa kotak pada Indah.
"Ini bukan hape baru tapi semuanya masih berfungsi dengan baik. Kalian tinggal beli nomer saja karena sekarang daftarnya harus pakai KK" Daniel menjeda ucapannya kemudian memberikan uang 100 ribu pada Pak Parlan dan Bi Juliati. "Beli paket datanya sekalian!"
"Makasih den..."Ucap keduanya sambil undur diri.
"Hem..." Jawab Daniel.
Indah yang ditinggal sendirian oleh teman-temannya kini jadi kikuk sendiri.
Mereka hanya berduaan di ruangan terbuka tapi rasanya jadi aneh saja.
Pada akhirnya Indah kemudian ikut pamit dengan menundukkan kepalanya sebentar.
"Saya permisi tuan...." Katanya ragu-ragu.
"Siapa yang mengizinkan you pergi?" Daniel menatap Indah tanpa berkedip membuat janda beranak satu ini berdiri mematung di tempatnya.
"Sini...!" Ia kemudian mengambil ponsel dari tangan Indah.
"You tinggal pakai saja. Sudah ada nomer dan paket datanya" Katanya sambil mengetikkan nomernya sendiri di dalam ponsel Indah yang tidak baru tapi kondisinya masih mulus dan bagus. Meski bukan tipe terbaru tapi merk nya iphone.
__ADS_1
Kalau saja Indah tahu berapa harganya mungkin dia ingin menukarnya dengan yang mentah saja.
Daniel kemudian mencoba membuat panggilan melalui ponsel Indah ke nomernya sendiri. Ia tersenyum mendapati kelicikan dirinya kini. Menyimpan nomernya dalam ponsel Indah dengan nama yang spesial. Ia menampilkan foto dirinya yang terbaik sebagai background.
"Ini ponsel bekas punya I, so...." Daniel tak melanjutkan perkataannya karena ingin mendengar Indah bicara tapi si gadis diam saja tak seperti yang diharapkan oleh Daniel.
"Ini, for your brother...!"
Daniel mengangsurkan hape lain pada Indah membuat si cantik yang hari ini memakai kerudung abu-abu itu mengernyit.
"Nggak usah tuan, ini saja.. Saya bisa pakai yang lama. Yang ini biar dipakai adik saya"
Kontan saja jawaban Indah membuat mata Sinyo terbelalak. Dia menyimpan banyak foto dirinya sendiri dengan berbagai pose dalam galeri agar Indah bisa melihat dengan jelas bagaimana tampannya wajah Daniel. Ini malah mau diberikan pada adiknya.
"Berikan ini buat adik you. Ini perintah. I nggak mau dibantah "
Tapi Indah menggelengkan kepala, rupanya dia sekarang sudah berani menatap Sinyo tanpa ragu, bahkan berani membantah majikan mudanya.
"Berani sekali you membantah. Disini siapa yang jadi majikan?" Tanya Daniel tak bisa menahan emosi.
Gadis di depannya ini kenapa pikirannya sulit sekali dibaca. Tinggal ikuti perintah apa susahnya. Sinyo merasa Indah menolak maksud baiknya mentah-mentah
Ia semakin mendengus kesal saat Indah pergi meninggalkan ruangannya. Tapi bukan Daniel namanya kalau dia menyerah begitu saja. Justru hal seperti itu memantik jiwa mudanya untuk berusaha lebih keras lagi.
.
.
.
"Indah.... You sudah punya hape sekarang?"
Sofiyah yang sedang mempersiapkan bekal si kecil Han melihat Indah membawa Hape dan ia sudah mendengar berita dari para asisten rumah tangga kalau adik iparnya baru saja bagi-bagi uang dan Hape untuk para pekerja.
"Iya non .... ini dikasih Tuan Sinyo" Jawab Indah sambil memperlihatkannya pada Sofiyah.
"Kemarin I kasih nggak mau.... Sekarang dikasih sama sinyo mau...." Sofiyah memanyunkan bibirnya.
"Bukan begitu non...." Indah merasa tak enak hati karena kemarin telah menolak pemberian nona mudanya.
Aya membolak-balik kan hape milik Indah. Bibirnya berkedut ingin tertawa tapi ditahannya. Background nya saja bergambar muka Daniel. Itu artinya Sinyo sudah tidak merahasiakan perasaannya. Sofiyah kemudian melihat isi galerinya ternyata hanya berisi wajah Daniel dengan berbagai pose sok keren.
Ia kemudian melihat kontak dan hanya ada satu nama disana 'my future'
Sofiyah rasanya ingin tertawa terbahak-bahak tapi ditahannya.
__ADS_1
Istri Babas itu kemudian menyimpan nomernya ke dalam kontak. Sejenak kemudian jiwa usilnya keluar. Ingin menjahili adik iparnya. Mau lihat bagaimana ekspresi Indah maupun sinyo nantinya.
Ia memanggil nama 'my future' kemudian menempelkan hapenya di telinganya sendiri dan menunggu dengan seksama apa yang pertama kali akan diucapkan oleh Daniel.
"Non.... nelpon siapa non?" Tanya Indah yang melihat lagak Sofiyah yang tak biasa.
"Shutt!!" Aya menempelkan jari telunjuknya di bibir meminta Indah agar tak bicara.
"Halo?" Suara Daniel terdengar berbeda di balik telepon.
Aya menjepit hidungnya agar tak tertawa kemudian memberikan hape tersebut di telinga Indah.
"Ada apa?" Suara Daniel terdengar lebih lembut di telinga Indah. Berbeda dengan saat mereka berbicara secara langsung yang seringkali cuma marah-marah saja.
"Halo? You dimana?" Daniel menjadi panik karena Indah tak menjawab apa-apa.
Terdengar derap langkah orang berlari yang membuat Indah dan Sofiyah menoleh pada sumber suara. Daniel menuruni anak tangga dengan tergesa, dengan raut muka panik dan dengan ponsel yang masih berada di telinga.
"You.....! Kenapa you telpon kalau nggak mau ngomong apa-apa ?" Tanya Daniel marah pada Indah yang diam mematung di tempatnya. Padahal Indah tertegun dengan suara lembutnya di telpon barusan. Sungguh berbeda di dunia nyata dan di dunia maya.
"Sa-saya...." Indah mejadi ketakutan saat Daniel semakin mendekat padanya dengan tatapan kesalnya.
"Sori nyo..... I yang telpon barusan. I penasaran dengan my future yang ada di kontak Indah" Kata Sofiyah mencoba menenangkan adik iparnya.
Daniel kemudian menatap Sofiyah sama kesalnya. Sesaat kemudian ia berbalik pergi meninggalkan keduanya.
"Sorry...!" Kata Sofiyah pada Indah.
"Dikembalikan aja ya non.... Takut..." Kata Indah yang belum bisa menetralisir detak jantungnya yang ketakutan melihat kemarahan sinyo barusan.
"Enggak....! Tenang aja! Dia mah sebenarnya sayang sama kamu tapi nggak berani ngomong. Cemen dia!"
"Ayy!!!!"
"Mommm!!!!"
"Yes.... I am coming sayang....!"
Sofiyah bergegas lari menaiki anak tangga ketika mendengar teriakan suami dan putranya. Gara-gara jahil ia sampai lupa untuk meyiapkan keperluan suami dan si kecil Han.
Sedangkan Indah, ia menjadi bengong sendiri setelah mendengar pernyataan nona mudanya kalau tuan muda sinyo menyukainya.
Ia menggelengkan kepala tak percaya.
"Bagaimana bisa? Itu mustahil" Katanya untuk menjaga hati agar tak menyimpan rasa lebih pada si tampan yang kini lebih sering memperhatikannya.
__ADS_1