
Pagi itu Sinyo kembali ke kamarnya setelah olahraga pagi. Ia mengernyitkan kening saat melihat kamarnya masih berantakan seperti saat ia tinggalkan tadi.
Kemana Indah? Apa dia sakit? Atau masih sibuk dengan cuciannya? Batin Daniel.
Pria muda yang sudah banjir keringat itu kemudian menangguhkan rasa penasarannya dan melangkah menuju ke kamar mandi.
"Apa Mbok Jah sudah bekerja lagi? Kenapa sudah sembuh mbok?" Daniel menggerutu menyalahkan Mbok Jah yang tak tahu apa-apa sementara tangannya sedang membasuh kulit putihnya dari busa sabun yang menempel.
Raganya ada di dalam sana tapi nyawanya berada di tempat lain. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Indah lagi yang membersihkan kamarnya seandainya mbok Jah sudah masuk kerja lagi.
Sinyo mematut dirinya di cermin sambil berpose tampan.
"Pantas saja para wanita selalu terpesona dengan wajah I yang tampan ini. Garang sekaligus menggemaskan" Ia mengangkat dagunya dengan ibu jari dan telunjuk nya.
Setelah dirasa tampilannya rapi dan maksimal, ia pun keluar dari kamar dengan kepercayaan diri yang membumbung tinggi.
Ia menoleh ke samping kanan kiri pintu berharap Indah menyambutnya seperti dua hari kemarin . Sinyo menghela nafas, tidak tahu kenapa ini ia sangat ingin melihat Indah.
" Do I miss her? No no no... I tak merindukannya. Hanya suka pekerjaannya saja" Si pria bermata sipit itu menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk meyakinkan dirinya kalau saat ini ia tidak sedang dilanda kasmaran.
"I cuma main-main sama dia dan akan menaklukkannya. Setelah itu melupakannya begitu saja seperti yang lainnya"
Daniel pun berlari kecil menuruni anak tangga dengan pikiran piciknya. Langkah panjangnya membawa Sinyo menuju dapur untuk mencari wanita tua yang sudah bertahun-tahun membersihkan kamarnya. Wanita yang dulu menjadi pengasuhnya dan kini menjadi orang yang paling dipercaya oleh keluarganya untuk mengurus berbagai keperluan rumah tangga.
Dan benar saja ia melihat sosok mbok Jah sedang mengawasi anak-anak yang sedang mempersiapkan sarapan.
"Mbok.... sudah sehat?" Tanya Daniel basa-basi.
"Sudah den Alhamdulillah...."
"Mbok.!.."
"Ya den..."
"Mulai hari ini tidak perlu membersihkan kamar I lagi biar Indah saja yang melakukannya " To the poini
__ADS_1
"Ke-kenapa den? Apa mbok melakukan kesalahan ?"
"Nothing.... Just... Mbok kan sudah tua. I kasihan lihat mbok naik turun tangga. I juga tak mau mbok sakit-sakit lagi. I miss you a lot "
"Ya baiklah... mbok memang sudah tua tak sepandai anak muda dalam berbagai hal" Kata si mbok merajuk.
"Jangan begitu mbok... itu karena I sayang sama mbok.." Daniel merangkul lengan pengasuhnya yang sudah tua.
"Indah sekarang di mana mbok?" Tanya Daniel sambil celingukan karena sedari tadi belum melihat gadis manis yang senyumnya tak mudah ia lupakan.
"Di belakang, di tempat laundry "
Mbok Jah memandang kepergian Daniel dengan mata tuanya. Ia merasa ada sesuatu antara majikan mudanya dengan Indah tapi ia tak berani menduga tanpa ada buktinya.
Mata sipit Daniel mengitari bagian rumah belakang yang hampir tidak pernah ia tapaki kecuali sewaktu ia kecil saja. Tak banyak yang berubah hanya taman kecil dengan beberapa tanaman buah dan satu bangunan khusus tempat laundry dan menjemur baju.
Daniel berjalan perlahan menuju ke satu-satunya ruangan yang ada di sekitar situ yang tak lain adalah tempat Indah bekerja. Dari tempatnya berdiri ia melihat Indah sedang memegang baju. Melihatnya terlebih dahulu barangkali ada kotoran atau noda yang harus ia bersihkan dulu. Memilah pakaian berdasarkan warna dan tingkat luntur tidaknya. Ia juga menyisihkan pakaian-pakaian yang istimewa yang butuh penanganan khusus. Kain-kain berbahan dasar kulit atau sutra misalnya.
Tangan indah bekerja dengan cekatan sementara bibirnya menyenandungkan solawatan. Suaranya terdengar merdu di telinga Daniel membuat hati pria yang sedang mengintip itu damai dan tenang.
Untuk yang kedua kalinya Indah mengambil si segitiga milik Daniel dengan cara yang sama. Kali ini sambil memalingkan muka.
"You.....!!!!" Daniel tak kuasa untuk tak bicara.
"Astaghfirullahal adziim...." Indah yang tersentak kaget langsung memegang dadanya dengan barang krusial milik Daniel yang ikut terdekap di dadanya.
"Mengagetkan saja tuan...!!" Nafasnya naik turun karena kedatangan tuan muda yang tak disangka-sangka.
"Kenapa you pegang my underwear ?" Tanya sinyo sambil berkacak pinggang. Entah kenapa rasanya malu saat Indah yang memegang CD miliknya padahal dia sudah biasa pasang buka daleman dengan para kekasihnya.
"Hah?" Indah yang tak mengerti dengan kata-kata Sinyo hanya plonga plongo saja.
"Ha he ho ha he ho.... Kenapa you pegang celana milik I??!" Jelas Daniel yang semakin gusar karena mata Indah menatapnya tanpa berkedip.
"Celana??" Indah yang masih belum sadar karena kekagetannya, masih memegang penutup barang krusial milik Daniel pada dadanya.
__ADS_1
Dagu si tuan muda menunjuk pada dada Indah yang terdapat barang pribadinya.
Si manis berdagu terbelah itu pun menunduk melihat ke arah pandangan Daniel dan
"Aaagghh...!!!!" Indah refleks mengibaskan tangannya untuk membuang celana milik tuannya. Naasnya barang itu jatuh tepat mengenai muka pemiliknya.
Muka Daniel menjadi merah padam. Ia segera memasukkan segitiga penutup asetnya dalam saku celana.
"Bersihkan kamarku sekarang juga!!!" Kata Daniel sambil berpaling meninggalkan tempat laundry dengan wajah yang tak bisa ditebak. Entah karena malu atau karena dadanya yang berdetak berloncatan tak seperti biasanya.
Tapi baru beberapa langkah saja dia memutar haluan kakinya dan kembali ke tempat Indah yang masih belum kembali normal sepenuhnya. Masih kaget dengan kejadian memalukan barusan.
Daniel memandang Indah dengan raut muka marah campur kecewa. Bagaimana pembantunya itu melempar barang krusialnya seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. Ini penghinaan untuk orang setampan dirinya.
Ia mengambil celana milik nya dari saku celana kemudian membentangkannya di hadapan Indah.
"Kenapa you membuang my underwear seperti melihat barang yang menjijikkan. Lihat ini!! Milik I bersih dan wangi..." Katanya dengan tak tahu malu.
Muka Indah menjadi merah padam karenanya. Ia memejamkan mata sambil memalingkan wajahnya.
"Jangan sok-sokan You....! You sudah biasa pegang underwear milik koko dan papa kan? Apa you juga membuangnya seperti tadi?"
"Bapak sama tuan koko dicuci tidak pernah nitip barang begituan. Dicuci sendiri..." Kata Indah belum mau membuka mata.
Daniel terkesiap sesaat.
'Hanya I saja yang menitipkan barang seperti ini untuk dicuci olehnya?' Pikirnya.
Ia cukup malu tapi tak mau mengaku
"Bersihkan kamar I sekarang!!!" Kata nya dengan suara tinggi untuk menutupi hatinya yang diserbu malu.
"Ada mbok Jah tuan...!"
"You..!! You sudah berani membantah ya?"
__ADS_1
"Maaf tuan... Akan saya kerjakan"