
"Non.... !"
"What?"
"Ehm.... anu.... itu.... kalau....anu"
"Apa si Indah Permatasari...?"
"Ish.... non mah ... Indah nur salim non...."
"Apa apa ada apa? You mau nitip pesan sama sinyo? Ngomong aja nanti I sampein ke dia..."
"Bukan atuh non.... non mah..."
"Iya you mau ngomong apa? Belibet amat kayaknya.."
"Itu non... Kata adik saya kemarin, hapenya ini harganya mahal. Diatas sepuluh jutaan gitu..." Indah menunjukkan handphone iPhone pemberian Daniel untuknya.
"Terus....?"
"Kalau misalnya saya jual terus saya beliin yang biasa aja den sinyo marah nggak ya non?"
Pagi itu Indah sudah selesai merapikan tempat tidur tuan muda sinyo dan sekarang ia sedang berada di kamar Sofiyah. Niatnya mau mengambil pakaian-pakaian kotor yang harus dicuci dan mau bertanya sesuatu pada nona mudanya.
"Dijual? Buat apa?" Sofiyah penasaran dengan pemikiran Indah. Dia juga pernah hidup susah jadi dia tahu pasti ada sesuatu yang penting yang ingin dibeli oleh Indah.
"Ehm....." Indah menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada yang mendengar percakapan rahasia mereka.
"Itu non... sebentar lagi kan mau Idul adha, saya pingin qurban. Sebenarnya saya sudah coba nabung tapi baru dapat sejuta, ada.... aja pengeluaran mendadak yang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba ibuk sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Pernah udah dapat hampir sejuta buat bayar sekolah adik. Ini kan udah dikasih ke saya jadi kalau saya jual buat beli kambing terus sisanya saya belikan hape yang biasa aja, boleh nggak non?" Indah sekarang memang dekat dengan nona mudanya, bahkan kini sudah berani lebih terbuka dan terkadang dia suka curhat juga.
"Ayy.....!" Babas yang baru selesai dari kamar mandi memanggil istrinya yang sedang asyik ngegosip ria padahal hari masih pagi.
"Ya ko bentar....!!" Jawab Sofiyah.
"Gini ajah...gima...." Belum selesai Sofiyah Babas sudah teriak lagi.
"Ayy handukku mana?"
"Ya salam.... kita lanjutin nanti lagi. Takut tuan muda marah!" Kata Aya sambil menepuk lengan Indah dengan pelan kemudian bergegas mendatangi sang suami.
"Ya sayang......" kening Sofiyah berkerut saat melihat suaminya ternyata sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit di bagian bawah tubuhnya. Ia menengklengkan kepalanya, meminta penjelasan dari Basofi yang barusan bertanya tentang handuk padahal dia sudah memakainya.
"Biarkan saja mereka !" Kata Basofi ambigu.
"Maksudnya?" Tanya Sofiyah.
"Kamu nggak usah ikut campur urusan sinyo sama gadis itu" Katanya sambil berkacak pinggang.
"Koko tahu kalau sinyo suka sama Indah?"
__ADS_1
"Tahulah"
"Ceileh.... diam-diam perhatian sama adiknya" Goda Sofiyah.
"Semua orang juga tahu Ay.... orang kelihatan banget gitu"
"Koko kayaknya masa bodoh tapi ternyata cayang cama adiknya...Utu utu utu...." Aya mencubit kedua pipi Babas dengan gemas.
"Apa sih Ay..." Basofi mencoba menyingkirkan tangan sang istri dari wajahnya. Ia kemudian tersenyum devil sambil melepas handuknya.
"Aaahhh...!!! Koko!!!" Sofiyah berteriak sambil menutup muka dan membalikkan badan memunggungi Basofi.
"Kayak nggak pernah lihat aja Ayy..!" Kata Babas menggoda istrinya.
"Beda lah ko...."
" Jangan boleh ada yang masuk ke kamar kita. Kalau aku tiba-tiba keluar dari sini tanpa pakai baju terus ada perempuan tadi gimana?"
"Ihh..... amit-amit naudzu billahi min dzalik...."
"Untung saja tadi aku dengar kayak ada orang ngobrol. Kalau nggak mungkin aku sudah keluar cuma pakai handuk tadi..."
"Iya iya... sorry honey....!"
"Kamar itu privasi kita jangan biarkan orang masuk kesini. Bahkan Han sekalipun jangan dibiasakan kemari..."
"Kenapa?" Tanya Babas ketika melihat raut muka istrinya yang tampak kecewa. "Pingin ya...?" Katanya lagi.
Bibir Aya semakin maju kedepan mendengar ledekan sang suami.
"Tahan ya... Nanti malam aja! Daripada pas lagi enak-enaknya, anak kamu teriak-teriak jadi ambyar semuanya"
"Nanti cepetan pulangnya...!" Kata Sofiyah sambil memainkan kancing baju Basofi.
"Duh... istriku makin menggemaskan aja kalau begini. Sekarang udah nggak malu lagi kalau pingin, langsung minta. Kamu dulu nggak gini lho Ay....! "
"Ish.... koko ah...!!!. ngeledek terus. Ini juga gara-gara belajar sama koko. I jadi begini sekarang ....." Rajuknya sambil menyandarkan kepala di dada bidang sang suami.
"Nggak usah kerja aja gimana koh?"
"Kamu makin manja aja Ay. Jangan-jangan Han mau punya adik lagi ini"
"Pingin.... kok lama ya koh? Padahal I udah lama nggak KB. .."
"Mungkin belum waktunya...."
"Hiks....hiks...."
"Kok jadi nangis sih sayang...? Kamu kenapa... hem?"
__ADS_1
"Pingin punya anak lagi..."
"Iya... nanti malam kita usaha ya.... Sekarang suaminya mau kerja, mau ibadah mencari nafkah buat istri dan anak kita. Boleh berangkat nggak?" Babas mencoba merayu istrinya yang tiba-tiba merajuk manja.
Sofiyah melepaskan pelukannya dengan berat hati. Entah kenapa sekarang emosinya menjadi amburadul. Mungkin dia stress karena sangat ingin hamil lagi tapi harapannya belum kesampaian juga.
.
.
.
"Non....!" Indah menarik Sofiyah ke pojokan agar tak terlihat keluarga majikan yang sedang sarapan bersama.
"Nggak usah bilang deh non... Nggak jadi. Saya akan nabung lagi aja biar suatu saat nanti bisa kurban..."
"Ada apa?" Tiba-tiba Sinyo hadir diantara mereka dengan suaranya yang mengintimadasi.
"Ini Indah...." Suara Sofiyah terpotong karena Indah membekap mulut sang nona. Lupa aturan pada majikan karena takut rahasianya dibeberkan.
"Kenapa dia?" Tanya sinyo penasaran.
Tiba-tiba Basofi juga sudah berdiri tak jauh dari mereka bertiga.
"Ayyyy! Kamu nggak dengar aku ngomong apa tadi?" Suara berat Basofi menggelegar memenuhi ruangan membuat semua orang yang ada di lantai bawah melihat ke arah mereka.
"Iya ko maaf.... Udah ya ..... Fiah yang salah, maaf..." Sofiyah jadi ketakutan plus malu karena mereka kini jadi pusat perhatian para pekerja dan mertuanya. Ia segera memeluk lengan Basofi dan mengajaknya pergi menjauh tapi koko Babas tak bergerak. Ia malah menatap tajam pada Indah.
"Kamu....!!! kalau mau ngomong apa-apa langsung ke orangnya, nggak usah lewat istriku....!"
"Apa sih ko?!" Daniel yang belum faham apa-apa tak terima saat Indah dimarahi oleh kakaknya.
"Udaahh ayo....!!" Sofiyah menarik lengan Babas agar segera pergi meninggalkan mereka.
"Urus tuh gebetan kamu! Jadi cowok yang gentle sedikit kenapa?!" Sifat bar-barnya Babas muncul lagi karena cemburu kalau istrinya dekat dengan adiknya.
"Ayo sarapan dulu ko...Malu dilihat sama Han....." Sofiyah mengusap lengan Babas agar emosinya turun dan mereda.
Basofi kemudian melihat anaknya yang sudah duduk manis bersama kedua orang tuanya di meja makan. Lelaki kecil itu bersedekap sambil menggelengkan kepala kemudian ibu jarinya ia arahkan ke bawah membuat Basofi mengalihkan pandangan karena merasa jengah dengan kelakuan anak lelakinya.
Sementara itu Sinyo menarik tangan Indah menuju ke halaman belakang. Meski janda cantik itu mencoba melepaskan tapi cengkeraman tangan Daniel begitu kuat dan tentu saja kekuatan mereka tidak seimbang.
Sesampainya di tempat Indah bekerja barulah Sinyo melepaskan genggaman tangannya. Indah melihat pergelangan tangannya yang terasa panas dan membekas warna merah di sana.
Daniel yang melihat hal itu merasa bersalah kemudian mencoba mengambil tangan Indah lagi tapi si pemilik menariknya terlebih dulu sebelum tangan mereka berdua bersentuhan.
"You mau ngomong apa?" Tanya Sinyo dengan suara sedikit melunak.
Indah menjawab pertanyaan sinyo dengan menggelengkan kepala. Daniel yang masih emosi dengan sikap kakaknya semakin kalap karena Indah bungkam tak mau menjawab pertanyaannya
__ADS_1