Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Masa lalu


__ADS_3

Hari-hari Daniel kini lebih banyak dia habiskan di rumah. Kongkow-kongkow setelah kerja sudah jarang dia lakukan. Ajakan bergadang dari teman-temannya tak dihiraukan. Maunya pulang cepat sebelum jam empat agar bisa melihat si gadis berkerudung, berkulit coklat bermata bulat.


Indah sudah mengalihkan dunianya. Nama itu berputar-putar di kepalanya. Saat di kantor dia sering kedapatan memantau CCTV yang ada di kamar nya melalui ponsel. Melihat apa saja yang dilakukan oleh si gadis manis.


Kebiasaan Daniel yang lain sekarang adalah paling suka pergi ke dapur belakang mencari ini dan itu hanya demi melihat Indah sedang apa. Hari ini dia pakai baju apa, kerudung warna apa. Daniel tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Setiap pagi celingak-celinguk mencari sosok Indah bahkan kini ia sering berolahraga di taman belakang, tempat Indah bersemayam. Mencuri-curi pandang pada gadis pujaan sampai semua orang hapal dan tahu kalau den Sinyo mereka sedang kasmaran.


Satu-satunya pembantu yang tidak peka hanya Indah seorang. Bukannya dia tidak tahu sekarang Sinyo sering mencarinya. Hanya saja hatinya meyakini kalau itu cuma tipu muslihat saja. Indah punya kisah kelam dengan orang kaya sebelum dia menikah dengan suaminya.


Ada seorang lelaki bernama Nassar anak kepala desa yang mendekati Indah saat usianya beranjak dewasa di kampung nya dulu. Saat itu Indah masih buluk, belum mengerti merawat diri. Mukanya masih kucel. Kulit wajah maupun tubuhnya coklat dan kusam. Sehari-hari Ia sering jadi bahan ejekan para tetangga.


Lelaki kaya dan punya kekuasaan itu bersikap baik dan selalu bisa membuat Indah tersipu malu oleh kata-kata manisnya. Mungkin saat itu Indah masih lugu atau memang cara berpikirnya memang lambat.


Terlebih bukan hanya Indah yang didekati tapi juga kedua orang tuanya. Ternyata ujung-ujungnya dia meminta agar orang tua Indah bersedia untuk menjual tanah dan rumah mereka.


Rumah keluarga Indah letaknya berdempetan dengan pabrik yang baru beroperasi dan membutuhkan lahan tambahan. Kabar yang beredar kepala desa akan mendapatkan banyak bonus dari pabrik tersebut jika bisa membuat orang tua Indah bersedia menjual tanah nya.


Ketika cara pertama tidak berhasil kepala desa kemudian menyebarkan rumor kalau Indah mencoba merayu anaknya agar diambil menantu olehnya.


"Dia itu sering datang ke rumah buat ngerayu Nassar. Hati-hati loh ibu-ibu yang punya anak bujang. Dia itu kayak pendiam tapi nyatanya langsung praktek. Nggak usah babibu. Saya pernah melihat dia sudah buka pakaian buat merayu Nassar untungnya anak saya itu kuat iman. Kalau nggak habis sudah keperjakaan anak saya..."


"Masa sih Bu kades...? Anaknya kayak alim banget ya"


"Orang tuanya juga alim lho bu kades masa anaknya kayak gitu...."


"Suatu saat nanti kalian akan tahu sendiri...!!!" Kata Bu kades sambil meninggalkan kerumunan ibu-ibu.

__ADS_1


Hal seperti itu berlangsung lama dan keluarga Indah hanya mengurut dada mencoba bersabar dan tidak menghiraukan desas-desus yang beredar.


Tapi bodohnya lagi Indah sudah terlalu menyukai lelaki itu sampai tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Dia berkeyakinan kalau Nassar benar-benar menyukainya. Indah bahkan yakin dengan janji Nassar yang akan menikahinya suatu saat nanti.


Sampai suatu malam Indah yang saat itu berusia 15 tahun diminta datang ke rumah kepala desa untuk membantu mencuci piring. Ia dan keluarganya memang sudah biasa disuruh mencuci baju atau membantu memasak oleh para tetangga. Tidak melulu dia mendapatkan bayaran berupa uang kadang ia dikasih beras dan mi, terkadang juga makanan yang sudah matang.


Untung takdir menolongnya. Indah yang tidak tahu jika sedang dijebak sudah bersiap-siap pergi ke rumah pujaan hatinya. Sesuatu yang saat itu ia asumsikan sebagai kecelakaan seiring berjalannya waktu kini ia tahu itu adalah pertolongan Alloh untuknya.


Indah yang sedang tergesa-gesa berjalan keluar rumah jatuh tersandung sepatu bakiak milik ayahnya. Tubuhnya berdebum ke tanah, kakinya terkilir dan pinggang nya serasa patah sehingga dia tidak bisa pergi ke rumah kepala desa.


Tentu saja para warga yang sudah siap menunggu kejutan dibuat kecewa karena orang yang dijadikan biang keladi ternyata tak datang meski sudah ditunggu hingga beberapa jam kedepan.


Keesokan harinya para tetangga yang baik pada keluarga Indah mengabarkan tentang makar kepala desa dengan beberapa orang warga untuk menjebak Indah semalam. Untungnya Indah tak datang. Kalau tidak ia akan berakhir diarak keliling desa tanpa pakaian.


Indah syok mendengarnya tapi masih saja belum percaya. Ia ingin mendengar hal itu langsung dari mulut Nassar sendiri. Ia menunggu anak kepala desa itu lewat untuk bertanya secara langsung.


"Siapa yang mau sama gadis buluk macam kamu. Jangan kegeeran Ndah. Ndak sudi aku karo jelek macam kamu. Ngaca sana! Udah kere belagu. Kalau bukan gara-gara bapak yang nyuruh yo mana mau aku sama kamu. Udik, buluk sok cantik lagi....."


Untungnya saat itu masih ada handphone jadul. Dan tak semua orang memilikinya. Handphone yang baru punya fitur telepon dan sms saat itu hanya dimiliki oleh orang tertentu yang benar-benar kaya dan lebih harta. Saat itu handphone adalah barang mewah untuk kalangan menengah ke atas di desanya.


Semenjak saat itu warga ada yang menaruh simpati pada Indah dan ada pula yang menggunjing di belakang mereka. Indah kemudian melanjutkan sekolah menengah atas di pesantren di luar kota.


Setelah lulus sekolah ia kemudian dijodohkan dengan salah satu ustadz dan akhirnya mereka menikah dan menetap di kota sang suami.


Hingga pada akhirnya ibu dan adiknya menyusul Indah ke kota karena sang ayah sudah tiada dan mereka tak kuat menanggung derita dikucilkan tetangga dan dihina oleh keluarga kepala desa yang hingga saat itu masih berkuasa.


Mereka hidup bahagia meskipun hidup pas-pasan. Yang penting bersama dan masih ada yang bisa dimakan setiap harinya itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Lahirnya Maulana menambah kebahagiaan keluarga itu sampai takdir berkata lain. Suami Indah yang merupakan seorang ustadz meninggal karena kecelakaan saat akan pergi ke pesantren untuk mengajar.


Sejak saat itu uang hasil penjualan rumah dan tanah sedikit demi sedikit terkikis habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mau tak mau Indah harus bekerja. Pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain yang akhirnya semakin menjauh dari keluarga suaminya.


Indah menjadi tulang punggung keluarga dan berusaha sebisa mungkin agar adiknya tetap bisa melanjutkan sekolah dan biaya kehidupan keluarganya sehari-hari bisa ia cukupi.


Keluarga sang suami masih sering mengirim uang atau beras untuk Maulana tapi tentu saja itu akan habis dalam beberapa hari saja dan Indah pantang menyerah. Ia bersedia bekerja apa saja yang penting halal.


Sampai akhirnya ia bisa bekerja pada keluarga Bapak Adi dengan gaji yang lumayan besar. Indah pun bertahan bekerja di rumah itu sudah selama hampir empat bulanan.


Kini kalau Sinyo Daniel tiba-tiba berubah seperti perhatian padanya Indah mengasumsikan kalau itu hanya main-main saja. Sinyo hanya ingin memanfaatkan tenaga Indah agar mau membersihkan kamarnya dengan baik.


Terlebih lagi sudah beberapa kali ada gadis yang datang dan mengaku punya hubungan dengan tuan muda Daniel. Wajahnya tentu saja cantik-dan glowing. Nggak ada yang wajahnya kusam seperti wajahnya.


Indah tidak sadar kecantikannya itu berbeda di mata Daniel. Kecantikan alami seorang gadis desa tanpa polesan apalagi make up berlebihan. Wajah ayu alami cantik berseri bagai bidadari yang baru selesai mencuci.


Wkwkwkw.......k


*************


"Masih lama?" Sofiyah bertanya sambil melongokkan kepala di kamar Daniel pada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan kamar majikan.


"Sepuluh menit lagi ya non..." Jawab Indah dari dalam kamar.


"Ci-ci..." Pinta Sofiyah agar memanggilnya dengan lebih akrab.


Indah hanya tersenyum dan itu terlihat oleh Daniel yang pagi ini masih berada di kamar.

__ADS_1


"Mau kemana ?" Tanya Daniel pada kakak iparnya.


"Kamu nanyak? Kamu bertanya-tanyak?"


__ADS_2