Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Daniel


__ADS_3

Kepalaku rasanya mau meledak kalau aku tak melihatnya secara langsung. Aku ingin bicara padanya dengan bertatap muka. Aku akan minta maaf padanya. Rasanya bisa gila kalau aku tetap melanjutkan bekerja di kantor sedangkan pikiran ku sudah tidak di sini lagi.


Buru-buru aku naik ke lantai paling atas tempat paling prestisius di gedung ini. Satu lantai yang dikuasai oleh si kobas, Koko Babas, itu julukan dari Sofiyah saat ia sedang kesal pada kakakku itu.


Begitu lift terbuka terlihat bang Mike duduk di meja sekretaris. Asisten sekaligus sekretaris yang ditasbihkan oleh Sofiyah. Ia tidak rela kalau sekretaris koko seorang wanita. Jadilah Mikail yang menghandle semuanya.


Pegawai paling setia pada kakakku itu menoleh padaku lalu menatapku tanpa berkedip. Nggak ada hormat-hormatnya dia. Nggak tahu apa kalau aku ini termasuk salah satu pewaris perusahaan tempatnya bekerja.


"Mek pinjam motornya!" Kataku to the point.


"What for ?" Tanyanya balik dengan kedua tangan bersedekap.


"Cepetan mana kuncinya? I harus pulang cepet!" Kataku mencoba menggertak.


"Belum waktunya pulang" Jawab Mikail sambil melihat jam tangannya.


Bikin kesel aja ini orang.


"Abang Mike yang tampan rupawan... saya mau pinjam motor untuk pulang karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan..." Kataku merajuk sambil menangkap kan kedua telapak tangan untuk mendapatkan simpati dan belas kasih.


"Bos..... Sinyo mau pulang" Mikail malah melapor pada bosnya melalui sambungan telpon.


"Biarkan dia pergi, bikin pusing kalau lihat wajahnya masih berseliweran disini tapi... Potong gajinya sepuluh persen. Dikira perusahaan nenek moyang. Seenak jidat saja pulang pergi...." Koko menjawabnya dengan suara keras.


"Masa bodoh...! buruan pinjam motornya !!" Seruku tak perduli.


Karena terlalu lama menunggu Mikail yang masih saja duduk sambil memandangiku, aku pun segera mencari kunci kontak motornya tapi tidak kutemukan . Dengan tak sabaran aku mencoba meraba saku celananya mungkin disitu dia menyimpannya.


"Nyo.... jangan kurang ajar ya....! Aku masih normal!!" Mikail mencoba menghindar tapi terlambat. Tanganku sudah masuk ke dalam saku celananya dan menemukan kunci sepeda motor kesayangannya.

__ADS_1


"Dapet!!" Kataku sambil mendongak dan....


gluk


Wajah kami berhadapan. Kontan saja aku mendorong Mikail menjauh dari tubuh ku dan sebaliknya. Dia juga mendorongku sehingga kami berdua hampir saja terjatuh.


"Kalian bukan pelangi kan?"


Kami berdua menoleh dan mendapati koko bersandar pada kaca sedang memperhatikan kami berdua.


"What the f*ck...!!" umpat Mikail.


"Crazy..." umpat ku balik sambil pergi meninggalkan duo sahabat sableng itu.


Perjalanan sampai ke rumah tak butuh waktu lama karena aku bisa nyelip sana sini dengan motor Mikail yang dia beri nama Queen. Ada gila gilanya juga dia. Masak sepeda motor cowok tapi namanya Queen.


Rasanya Dejavu. Sepertinya aku pernah merasakan hal yang sama seperti ini sebelumnya. Aku pernah ketakutan seperti sekarang saat dulu mantanku meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Sampai akhirnya semua terkuak dengan sendirinya.


Mantanku datang bersama sahabat karibku dengan membawa sebuah undangan pernikahan. Dunia serasa runtuh di depan mataku. Ingin kuhajar wajah sahabatku itu sampai babak belur namun aku tak punya kekuatan. Badanku langsung lemas tak bertenaga. Bahkan melihat wajah keduanya pun aku tak sanggup. Aku hanya menundukkan kepala membaca kata-kata dalam undangan mereka.


Bodohnya aku sampai tidak tahu pacarku bermain api di belakangku. Parahnya lagi dengan sahabat karibku sendiri. Dan saat mereka berpamitan pulang aku hanya mampu menatap kepergian keduanya dengan hati tertusuk sembilu. Bagaimana sahabatku itu memegang perut pacarku yang sudah terlihat sedikit membuncit. Ternyata sudah sampai sejauh itu mereka mempermainkan perasaanku dan menghianatiku.


Berhari-hari aku meratapi kebodohanku karena ditipu oleh gadis lugu sepertinya. Gadis yang kukira polos dan baik hati. Bahkan aku sampai masuk rumah sakit karena tak berselera makan dan dehidrasi.


Semenjak saat itu aku tak percaya pada makhluk bernama wanita. Aku bahkan terjerumus pada lembah hitam penuh dosa karenanya. Awalnya aku tak menghiraukan ajakan mereka tapi mereka malah datang untuk menggodaku dengan berbagai cara dan menawarkan kebahagiaan sesaat di atas ranjang dengan cara-cara yang vulgar.


Aku lelaki muda yang normal dan tentu saja ingin tahu sensasi dan rasanya. Meski butuh waktu lama untuk meyakinkan hatiku dan membawa perempuan-perempuan itu ke atas tempat tidur.


Bukan hal yang mudah untuk menaklukkan diriku dan membawaku ke atas ranjang karena aku bukan tipe orang yang suka melakukan **** dengan sembarang orang. Jadi aku perlu membangun chemistry dengan mantan-mantanku itu.

__ADS_1


Dan anehnya para perempuan itu semakin penasaran dibuatnya. Mencoba merayuku lewat apa saja dengan berbagai cara agar bisa bersamaku.


Tapi aku tidak mau melakukannya dengan orang yang sama dua kali. Tidak ada feel-nya lagi. Jadi yang datang ke rumah adalah perempuan-perempuan yang merasa kutinggalkan dan kucampakkan begitu saja setelah kami bergumul dalam jebakan setan.


Begitu juga saat aku melihat Indah yang polos dan lugu. Aku hanya ingin bermain-main saja dengannya. Kepuasan sendiri saat aku bisa menaklukkan wanita dan membuat mereka menangis setelahnya. Aku seperti melakukan balas dendam pada mantan pacarku padahal mereka orang yang berbeda.


Psikopat juga aku ini.....


Sayangnya Indah tak bisa kutaklukkan dengan mudah. Penampilannya seperti orang jaman dulu, udik dan sedikit bodoh tapi dia punya prinsip yang dipegang teguh. Membuat hatiku tertawan karenanya.


Kini aku yang dibuat kalang kabut olehnya. Entah kenapa di kepalaku selalu berputar-putar bayangan wajah manisnya. Senyumannya.


Aku bahkan mencari berbagai cara agar bisa bersamanya. Mencuri-curi waktu agar bisa bertemu. Bahkan aku sudah mulai mendekati keluarganya. Aku sudah bertemu dengan adiknya yang bernama Budi untuk melancarkan misiku.


Aku berharap semoga dia akan menjadi tambatan hati terakhirku, yang mau menemaniku sampai mati. Aku tak ingin kehilangan lagi seperti dulu. Akan ku usahakan semampu yang aku bisa agar dia mau menerimaku dan setia padaku.


Perbedaan keyakinan bukan masalah besar untukku. Kalau sudah cinta mau apa. Kami akan tetap memegang keyakinan masing-masing tanpa ikut campur satu sama lain. Itu masalah hati dengan sang Pencipta.


Tapi sayangnya Indah belum membuka hatinya untukku. Kata-kata vulgarku kemarin justru membuatnya marah padaku.


Indah..... jangan pergi... aku butuh kamu.


Aku berlari menuju ke belakang mencari sosoknya. Semoga dia belum pergi kemana-mana.


Aku terdiam terpaku saat melihatnya di antara jemuran baju yang melambai-lambai. Ia seperti malaikat yang turun bumi untuk memberi sinar kebahagiaan pada penduduk bumi.


Aku memegang dadaku yang berdetak tak karuan. Berlarian seperti sedang berpacu dalam perang.


Indah.....

__ADS_1


__ADS_2