
Indah membawa beberapa paper bag ke atas, ke kamar Babas dan Aya. Selama menemani Aya berbelanja ia yang punya dompet pas-pasan harus berpikir seribu kali untuk membeli sesuatu. Beda dengan kalangan sultan.
Ia tak habis pikir dengan kelakuan orang kaya. Mereka membeli barang yang aneh-aneh dan tidak begitu dibutuhkan. Sepertinya mereka hanya ingin menghambur--menghamburkan uang yang tak terhitung jumlahnya. Mengambil apa saja tanpa melihat harganya terlebih dulu.
Kaum elit dan kalangan rakyat jelata memang bagaikan langit dan bumi. Mereka bersedia membayar mahal asal mendapatkan barang sesuai yang mereka inginkan. Sedangkan kalangan rakyat jelata berusaha mengeluarkan seminimal mungkin untuk mendapatkan barang yang benar-benar dibutuhkan saja
"What is this?"
Indah tersentak kaget mendengar suara Daniel yang muncul tiba-tiba di dalam kamar koko Babas. Sesaat kemudian ia menggelengkan kepala.
Daniel membuka salah satu paperbag yang sudah di tata Indah sesuai yang diinstruksikan oleh Aya.
Daniel memperhatikan pakaian aneh yang ia buka lebar dengan tangannya. Indah ikut melihat pakaian yang sedang direntangkan oleh si tuan muda.
"Ini bukannya seperti pakaian-pakaian yang ada di anime?" Daniel menoleh pada Indah yang ikut melihat pakaian aneh yang dibentangkan oleh si tuan muda.
Indah tanpa sadar menganggukkan kepala. Ia jadi ikut berpikir untuk apa nona mudanya itu membeli pakaian seperti itu padahal dia berkerudung.
"Sinyo !!!! Kembalikan ke tempatnya !!" Kata Aya yang baru masuk kamar setelah memakan camilan di bawah.
"Buat apa you beli kayak gini?" Sinyo mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan kelakuan sang kakak ipar.
"Taruh nggak??!!" Sofiyah berkacak pinggang dengan raut muka marah.
Buru-buru Indah mengambil pakaian penuh misteri dari tangan Sinyo kemudian segera memasukkannya dalam paper bag yang kosong.
"Keluar sana!! Atau aku panggilin koko ya..!" Kata Sofiyah penuh emosi.
Daniel beringsut menjauh dari Sofiyah tapi ternyata tidak sampai keluar dari kamar.
"Tunggu sebentar ya....!" Kata Aya pada Indah dengan raut muka yang berbeda.
Wanita berdagu terbelah ini hanya berdiri sambil memperhatikan seisi kamar sang majikan. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar Babas dan Aya. Luasnya sama seperti kamar Daniel. Kalau dibandingkan dengan rumah kontrakannya mungkin lebih besar kamar mereka.
Tempat tidurnya super luas bahkan bisa menampung lima orang sekaligus. Kiri kanannya ada meja kecil dengan lampu tidur yang menjulang sedikit lebih tinggi dari nakas. Di sana juga terdapat Sofa sekaligus meja yang bisa dipakai untuk bekerja. Ada televisi dan satu bufet juga disana.
Ruangan itu di sekat dengan lemari-lemari besar tempat menyimpan pakaian dan pernak-perniknya. Sepatu dan aksesoris penunjang juga tersedia. Ada kamar mandi dan balkon yang semua itu bisa menjadi bangunan satu rumah di lingkungan tempat tinggalnya.
Hanya dekorasi dan cat dindingnya yang membedakan antara kamar satu dengan kamar lainnya di rumah besar itu. Juga foto besar yang menggantung di dinding, foto mesra nona Sofiyah dan koko Babas yang terlihat bahagia.
Indah tersenyum melihat foto besar yang dipajang tepat di atas pembaringan dan hal itu tak luput dari pandangan Daniel yang sedari tadi tak bisa lepas dari sosok manis yang bernama Indah.
__ADS_1
"This is for you. Not a new but still.... lumayan lah" Kata Sofiyah sambil memberikan ponsel lamanya pada Indah.
"Maaf non... nanti yang lainnya pada iri kalau cuma saya yang dikasih. Lagian saya juga nggak butuh-butuh amat sama benda pipih ini. Nanti saya harus keluar uang tiap bulan buat beli paket data. Hehe..." Indah menjelaskan dengan gamblang alasan penolakannya.
"You tahu paket data?"
"Tahu non... dulu saya pernah punya hape android tapi sekarang sudah dijual....."
"Tolong diterima ya.... Barangkali nanti aku ada perlu nelpon you gimana? Nanti I isikan paketannya tiap bulan " Pinta Sofiyah dengan sedikit manja karena merasa sangat cocok dengan Indah.
"Nanti saya kasih nomer adik saya ya non. Ada di tas saya di bawah..."
"You ini kenapa sih? Every one panggil I cici, kenapa you masih nan non nan non....?" Gerutu Aya.
"Habisnya enon cantik banget sih.... kayak boneka hidup" Kata Indah sambil tersenyum.
Daniel yang sedari tadi memperhatikan Indah dibuat takjub akan senyuman Indah yang membuatnya mabuk kepayang.
"Iya cantik...." Kata Daniel tanpa sadar.
"Tumben you muji I?" Sofiyah merasa heran sekaligus tak percaya dengan kata-kata adik iparnya.
"Not you....!" Jelas Daniel saat ia sudah sadar.
Wajah Daniel memerah karena malu. Ia pun segera berlalu meninggalkan kedua wanita tadi agar tidak ketahuan kalau dirinya sedang tersipu.
Daniel turun ke bawah untuk mencari mamanya. Ia cari di dapur dan area taman tapi tak ada. Ternyata sang mama sedang berbincang-bincang dengan papanya di beranda depan. Melihat cucu mereka sedang bersepeda mengitari halaman rumah yang cukup luas.
"Ma, mama punya handphone bekas berapa?"
"Punya mama kan bekas kamu. Kalau handphone bekas kamu sama koko ada mungkin kalau lima biji. Mama simpan di lemari. Buat apa?" Tanya sang mama.
"Ada deh.... I minta semua boleh ya ma?"
"Mau kamu jual lagi?"
"Enggak lah ma"
"Buat apa sih nyo?"
"Itu buat para asisten yang nggak punya handphone. Kasian kan ma? Masa hari gini nggak pegang handphone ?"
__ADS_1
"Ishh..... Tumben-tumbenan perhatian sama ART? Ada angin apa?"
"Orang mau berbuat baik malah di sangsikan?"
"Nggak biasanya soalnya..." Jawab Sang mama masih tak percaya dengan niat baik anak tirinya.
.
.
"Besok pagi suruh kumpul semua ya bi!!" Kata Daniel pada salah satu asisten yang berada di dapur.
"Ada apaan den?" Tanya Bi Paiti yang saat itu dapat giliran masuk kerja.
"Mau dikasih hadiah" Jawab Sinyo asal-asalan sambil berjalan hendak kembali ke kamar tapi Ia melihat Indah seperti hendak pulang karena ia memakai tas selempang di pundaknya.
Sinyo mendekatinya tanpa malu-malu. Tak takut ketahuan para pekerja kalau dia sering menguntit Indah.
"Berapa nomer adik you?" Tanya Daniel menghadang jalan Indah.
Indah kemudian mengeluarkan buku kecil dari dalam tasnya dan membacakan nomer yang tertera atas nama adiknya. Pria berkulit putih bermata sipit itu kemudian menyimpan nomer tersebut dengan nama Brother.
"Nggak ada wa nya?" Daniel mengernyit tak percaya dan itu sukses membuat Indah tertawa yang lagi-lagi membuat si pria bagai melayang di atas awan dengan jantung yang berdetak kencang. Ia hampir saja tak percaya kalau Indah tertawa di depannya. Untuknya.
"Itu kan hape jadul, mana bisa ada wa nya tuan?"
Daniel semakin bahagia karena hari ini Indah bicara lebih banyak dari biasanya.
"Memangnya dia umur berapa ?" Tanya Daniel lagi.
"Umur berapa ya? Lupa. tapi.... dia kelas dua SMA sekarang " Indah menjawabnya dengan lugas. Ia memang tak ingat berapa umur adiknya karena mereka memang tidak pernah merayakan ulang tahun sama sekali.
Keduanya kini saling bertatapan membuat Indah kikuk dan salah tingkah.
"Nyo.... ada yang nyariin....!!" Suara sang mama yang memanggilnya dari arah depan membuat keduanya menoleh bersamaan pada sumber suara.
Seorang gadis berpakaian kurang bahan sudah berada di ruang tamu yang terlihat dari posisi mereka.
Entah kenapa Daniel merasa tidak enak pada Indah. Ia seperti kepergok punya selingkuhan padahal mereka tidak punya ikatan apa-apa. Dipandanginya Indah, ingin melihat reaksinya bagaimana.
Indah melihatnya sekilas kemudian menundukkan kepala sekejap untuk pamit pulang. Ini bukan pertama kalinya ada gadis yang mencari Daniel. Selama empat bulan ia bekerja di rumah besar itu sudah beberapa kali ada gadis yang datang mengaku teman ada pula yang mengaku pacarnya Daniel. Sudah bukan hal aneh lagi bagi para pekerja.
__ADS_1
Maklum orang tampan dan beruang pasti dikejar-kejar wanita, batin Indah sambil keluar lewat pintu samping. Entah kenapa ia sedikit kecewa pada Daniel yang akhir-akhir ini sering membuntutinya.
"Kenapa pula harus memikirkannya. Itu bukan urusanku. Urusan orang kaya dan rakyat jelata itu sungguh berbeda. Yang satu di langit yang satu di bumi" Kata Indah menggerutu tak jelas.