
Indah sudah meminta izin pada Mbok Nah melalui telpon kalau hari ini ia akan masuk siang karena akan mengunjungi suaminya dulu. Makam suaminya cukup jauh dari tempat tinggalnya saat ini meskipun masih berada dalam satu kota. Butuh waktu kira-kira empat puluh lima menit untuk sampai ke sana.
Kini ibu dan anak itu terpekur di depan gundukan tanah yang sudah lama mengering. Di depan makam suaminya Indah menangis tergugu. Menumpahkan semua rasa rindu lewat doa dan bacaan Yasin nya. Seandainya tak ada Lana di dekatnya mungkin ia akan berkeluh kesah menceritakan segala sesuatu yang sudah terjadi padanya.
"Bang, Lana sekarang sudah sampai jilid 3 ngajinya. Tahun ini Lana akan mulai masuk sekolah....Hiks" Indah berkali-kali mengusap air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipi.
"Kami baik-baik saja disini bang. Semoga Abang juga bahagia di sisi Nya. Mendapatkan curahan Rahmat dan kasih sayang Nya.... hiks..."
Indah tak lagi bisa meneruskan kata-kata yang ingin ia sampaikan pada suaminya. Kalimat panjang yang ingin diutarakan kini tercekat dalam tenggorokan karena tangisnya tak kunjung mau berhenti malah ia semakin terisak di depan pusara sang suami.
Lana hanya mengusap punggung ibunya tanpa berkata apa-apa. Anak laki-laki itu bisa merasakan kalau ibunya sedang bersedih hati tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Lana memeluk Indah karena ikut merasa pilu mendengar tangisan sang ibu.
Indah menarik nafas dalam-dalam agar tangisnya bisa berhenti. Masih ada Lana yang akan menemaninya melewati hari-hari selanjutnya. Masih ada putra semata wayangnya yang harus melanjutkan kehidupan di dunia. Ia berdo'a Semoga kelak mereka bisa bersama-sama lagi di dalam surga Nya yang abadi.
"Kami pulang bang, doakan kami...." Kata Indah tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Ia harus segera pergi agar tak menangis lagi.
"Assalamualaikum abang..." Katanya sambil berbalik. Menyudahi kunjungannya yang selalu berakhir dengan kesedihan karena tak lagi bisa bersama-sama lagi.
Ibu dan anak itu berjalan bergandengan tangan meninggalkan area pemakaman. Matahari sudah mulai merangkak tinggi. Menemani aktifitas penduduk bumi tanpa kenal lelah dan banyak bertanya. Memberikan sinar terangnya untuk segala keperluan manusia, hewan bahkan tumbuhan.
Indah melihat cahaya mentari yang mulai berwarna kuning jingga. Masih ada harapan untuk hari esok selagi masih ada matahari yang menyinari bumi. Ia menguatkan dirinya sendiri agar bisa tabah menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat meski tak didampingi suami.
Kalau tidak bisa seperti matahari yang setiap hari hanya memberi banyak kebaikan untuk setiap makhluk di muka bumi tanpa mengharap kembali setidaknya dia harus bisa memberi kebahagiaan untuk keluarganya sendiri.
"Sebentar bu...." Kata Lana sambil mengambil beberapa bunga kamboja yang berjatuhan di tanah kuburan.
__ADS_1
Lana berjalan dengan cepat ke makam ayahnya. Ia menaruh bunga-bunga yang baru dipungutnya kemudian berkata, "Lana janji akan jaga ibu yah!"
Lelaki kecil itu kemudian berlari kecil menghampiri sang ibu yang mengamatinya dari jauh. Keduanya kemudian berjalan lagi sambil bergandengan tangan. Saling menopang dan menguatkan.
Selagi masih di daerah yang sama Indah mengajak putranya untuk mengunjungi keluarga suaminya. Hubungan mereka terjalin dengan baik. Meski bukan hanya Lana cucu dari keluarga itu namun Lana juga tetap disayang. Kadangkala saat mereka ke kota mereka akan singgah untuk menengok Lana.
Indah dan Lana diterima dengan baik saat mereka sampai ke sana. Semua orang mengajak Lana berbicara dan menjelaskan silsilah keluarga.
"Ponakan e pak dhe wis gedhe rupane" (Keponakane pak dhe sudah besar rupanya).
"Masya Alloh putune mbah ngguanteng tenan tho yo...! " (Masya Allah cucunya mbah tampan sekali)
"Tahun iki wis wayahe sekolah TK yo lek?" ( Tahun ini sudah waktunya sekolah ya te?)
Semuanya terlihat bahagia menyambut kedatangan Indah dan Lana meskipun Indah datang hanya membawa gula dan mi saja. Terburu-buru berangkat membuatnya lupa untuk membawa oleh-oleh. Maka ketika berjalan menuju ke rumah mertuanya ia menyempatkan mampir di kios untuk membeli gula 3 kilo dan sebungkus mi eko.
Kakak iparnya tiba-tiba berbicara yang membuat semua orang menjadi terdiam. Ingin mendengar jawaban Indah. Kepo semua rupanya.
" Pak e Lana pasti juga sudah ikhlas kalau kamu mau berumah tangga lagi nduk...." Mertua perempuannya ikut menimpali.
Indah tersenyum dengan paksa. Niat hati ingin menghilangkan gundah gulana nyatanya di tempat yang berbeda ia masih saja dihadapkan pada masalah yang tak jauh beda, tentang pria.
"Belum kepikiran sampai kesana bu" Jawab Indah sambil menunduk dan meremas jari jemarinya.
"Lana juga butuh sosok ayah..." Kata kakak iparnya.
__ADS_1
"Lagipula predikat janda itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Mudah digunjingkan, sering jadi sasaran kalau ada mata lapar. Suami mereka yang jelalatan tapi jandanya yang disalahkan. Padahal si janda nggak berbuat aneh-aneh. Pakaiannya tertutup rapat kayak kamu gitu tapi masii....h saja disalahkan"
"Shuuuttt ...Sudah-sudah....kamu itu ngmongin siapa sih? Sudah, biarkan dulu Indah menikmati hari-hari nya bersama Lana. Menikah lagi bukan perkara mudah. Pasti banyak pertimbangan yang harus dipikirkan oleh ibuk e Lana. Masalah hati itu ndak bisa dipaksa. Kalau nanti sudah waktunya pasti ketemu jodohnya lagi. Sudah kamu tenang saja! Yang penting berbuat baik dan benar. Minta dijaga oleh Alloh, selebihnya kita tinggal pasrah saja" Kata ibu mertuanya memberi petuah.
Indah menundukkan kepala berusaha mati-matian jangan sampai air matanya jatuh lagi.
"Ayo sarapan dulu ayo.....! Sarapane wis siap. Sarapan ala wong ndeso. Krawuan sama tahu tempe. Kalau di kota ndak ada yang kayak gini le...." Mbah Uti mengajak cucunya untuk sarapan bersama di ruang tengah. Menggelar tikar berkumpul bersama seluruh keluarga menikmati makanan seadanya.
"Sama saja bu....Di kota juga ada krawuan. Saya minta maaf, datang-datang langsung makan..." Indah merasa malu karena tidak ikut membantu di dapur tapi langsung ikut makan.
"Ndak papa nduk... kita ini keluarga. Lagipula tidak setiap hari kita kumpul seperti ini" Kata ibu mertuanya lagi.
Saat berpamitan pulang setiap orang memberi uang saku Lana. Meski nominalnya tidak seberapa tapi itu tanda cinta dari semua orang untuk si kecil Lana. Para keponakan juga memesankan mobil online untuk perjalanan pulang Indah. Biar tidak perlu menunggu angkutan umum terlalu lama. Mereka juga membayar ongkosnya sekalian.
Indah dan Lana pulang ketika hari beranjak siang. Naik mobil Grab dengan membawa beberapa oleh-oleh dari sanak saudara di sana. Ibu yang sedang merangkul putranya itu lagi-lagi menangis. Ia merasa terharu dengan perhatian dan kasih sayang keluarga mendiang suaminya.
.
.
.
Sementara itu di kantor Daniel tak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Berkali-kali ia memantau CCTV yang terpasang di kamarnya. Tak ada pergerakan manusia sejak ia berangkat tadi pagi.
"Kemana dia?"
__ADS_1
"Sebegitu marahnya?"
"Jangan-jangan dia sudah tidak mau bekerja lagi ...."