Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Handphone


__ADS_3

Pagi itu hari Minggu dan semua orang mendapat giliran libur sesuai yang disepakati kecuali Indah seorang. Semenjak Sinyo mendeklarasikan hanya Indah saja yang boleh memasuki kamarnya, tiap hari Minggu wanita itu harus bekerja selama beberapa jam untuk membersihkan kamar Si tuan muda barulah setelah itu ia diperbolehkan pulang.


Untung rumahnya tak terlalu jauh Nyo...!


"Masih lama?" Sofiyah bertanya sambil melongokkan kepala di kamar Daniel. Aya bertanya pada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan kamar Sinyo Daniel.


"Sepuluh menit lagi ya non..." Jawab Indah dari dalam kamar.


"Ci-ci..." Pinta Sofiyah agar memanggilnya dengan lebih akrab.


Indah hanya tersenyum dan itu terlihat oleh Daniel yang pagi ini masih berada di dalam kamar.


"Mau kemana ?" Tanya Daniel pada kakak iparnya.


"Kamu nanyak? Kamu bertanya-tanyak?" Sofiyah malah meledek Daniel yang kentara sekali kalau sedang penasaran.


"Ini hari Minggu. Where do you want to go ? Dia waktunya libur"


"Orang Indahnya aja nggak masalah. You kepo amat sih .... Lagian kita sudah janjian dari kemarin..... I tunggu di bawah ya..." Sofiyah melambaikan tangan pada Indah dan meninggalkan Daniel yang masih berusaha mengorek informasi dimana mereka berdua akan pergi.


"I ikut...." Daniel membuntuti Sofiyah yang berjalan santai melewati tangga.


"Bilang sama koko!" Jawab Sofiyah acuh tak acuh.


"Apa dia ikut?" Tanya sinyo.


"Of course. Koko yang nyupirin kita berdua. My special driver...!!"


Daniel langsung cemberut dan kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan laptop tapi matanya mengawasi Indah. Sinyo heran kenapa Indah ini pendiam sekali. Kalau tidak diajak bicara dia diam saja. Kalau ditanya jawabnya juga seperlunya.


Sinyo menghela nafas sambil sesekali membaca tulisan yang terdapat di layar tapi pikirannya tidak bisa


fokus. Mata nakalnya lebih suka melihat sosok indah yang sedang bekerja.


Setelah Indah selesai dan pamit undur diri Sinyo menghadangnya. Ia memberikan sepuluh lembar uang berwarna pink pada wanita di depannya.


"Pakai ini...!"


Indah sejenak memandang pada uang kertas yang membuat matanya jadi berkedip-kedip tak percaya. Tak dipungkiri ia memang suka tapi ia punya harga diri dan pantang meminta-minta.


"Tuan mau menitip sesuatu ?"


"For you. Pakai buat beli sesuatu !"


Indah menggelengkan kepala. Sejenak kemudian menundukkan kepala sebagai formalitas untuk undur diri.

__ADS_1


Daniel sudah tak bisa bersabar lagi. Ia menarik tangan Indah dan menaruh uang itu dalam telapak tangan si gadis kemudian menutupkan jemari Indah dengan gerakan cepat.


Indah menarik tangannya karena kaget Sinyo tiba-tiba menyentuh kulitnya. Uang-uang tadi berhamburan dan Indah segera memungutnya kemudian menaruh nya di atas meja.


"Saya sudah digaji sama ibu"


"Anggap saja ini uang tip "


"No. thank you"


Sinyo terkesiap mendengar jawaban Indah. Gadis pendiam itu menolaknya, dengan menggunakan bahasa Inggris pula. Ia terpaku cukup lama ditempatnya. Entah ia ingin tertawa dengan aksennya atau menertawakan dirinya sendiri yang mendapat penolakan dari seorang gadis secara mentah-mentah.


Kenapa gadis polos itu sulit sekali digapai jalan pikirannya. Apa susahnya menerima uang yang kebanyakan disukai para wanita. Lagipula satu juta adalah uang receh baginya.


"Apa mungkin ini masih kurang banyak? " Pikir Daniel.


"Ehem !!!" Suara deheman seseorang menyadarkan Sinyo ke alam dunia.


"Jaga Han aku mau pergi jalan-jalan !"


"Kenapa kalian tidak mengajaknya?" Tanya Sinyo yang selalu saja tidak bisa menghabiskan weekend nya dengan bersenang-senang bersama teman-temannya.


Tapi Basofi mana mau dengar. Dengan kedua tangan masuk ke dalam sakunya ia bersiul-siul sambil menuruni anak tangga. Masa bodoh dengan keluhan adiknya yang penting ia bisa menemani istrinya.


Dari lantai atas Daniel melihat ke bawah dan memperhatikan interaksi antara Sofiyah dan Indah. Ia bisa melihat kalau Indah ternyata bisa tersenyum dan bercanda saat bersama kakak iparnya. Lalu kenapa saat berduaan dengan dirinya Indah lebih banyak diam. Bibirnya seolah terkatup rapat tak bisa dibuka.


Tapi dimana rumahnya? Bagaimana kalau dia bertemu orang tuanya? Sinyo jadi berpikir setengah mati gara-gara Si Indah.


"Are you ready ?" Tanya Sofiyah saat melihat Indah.


"Ready...!" Jawab Indah kemudian terkikik geli mendengar kata-katanya sendiri.


Setiap hari berinteraksi dengan tuan muda dan nona nya yang sering memakai kata-kata berbahasa Inggris memantik dirinya untuk ikut ke dalamnya. Ingin belajar meski tidak secara formal tapi belajar langsung melalui kedua majikannya.


Sofiyah kemudian memeluk lengan Basofi yang baru turun dari tangga.


"Ini nggak gratis ya ....?" Bisik Basofi di telinga Aya.


Sang istri justru mengerlingkan mata menanggapi candaan sang suami.


"Aya punya kejutan buat koko... " balasnya dengan suara yang dibuat sensual.


Basofi mencium pipi Aya saking gemasnya. Ia tak perduli ada yang sedang melihat tingkah mereka dengan salah tingkah. Malu sendiri melihat kemesraan mereka.


Indah justru memalingkan wajahnya karena ingat dengan kenangan masa lalu. Tiba-tiba ia jadi merindukan suaminya yang sudah tiada. Ia ingat bagaimana bahagianya saat bisa bercanda mesra dengan kekasih halalnya.

__ADS_1


"Aya di belakang ya ko?" Pinta Aya saat berada di samping mobil.


"Di depan..." Jawab Basofi tegas tak menerima bantahan.


"Maaf ya ....!!" Kata Sofiyah pada Indah yang harus duduk di belakang sendirian.


"Nggak papa non..." Indah merasa rendah diri. Kasta diantara mereka terlihat kentara di saat seperti ini. Bagaimana bagusnya baju yang di pakai oleh kedua majikannya sungguh berbanding terbalik dengan baju buluknya.


Saat sudah duduk di dalam mobil dan Babas sudah mulai menjalankan mesinnya Sofiyah menoleh ke belakang. Ia ingin menunjukkan dekorasi yang ia impikan.


"I pinginnya yang kayak gini. Tapi yang digambar ini kan lebih ngejreng warnanya. I pingin yang warnanya soft gitu. Yang lembut. Kan cat tembok nya warna biru muda kayak gini...."


"Duduk yang benar Ay...!" Kata Basofi tanpa melihat ke arah istrinya.


"Pingin nunjukin Indah maunya aku kayak gimana gitu koh ..."


"Kirim lewat wa!!"


"Oh iya ya. Why Am I stupid?" Katanya sambil menoyor kepalanya sendiri.


"Nggak stupid. Kadang aja lambat berpikir.." Babas malah menggoda Sofiyah.


"Sama aja kokoh! Ugh!!" Aya memukul paha Basofi sambil mengerucutkan bibir.


"Aww.... sakit sayang... Kamu harus tanggung jawab kalau aku kenapa-napa !" Jawab Basofi dengan mimik muka serius.


"Ya.... I want to bring you tukang urut. Mau?"


"Jahatnya istriku.... Kalau suaminya sakit dipijitin, disayang-sayang jangan malah dikasihkan ke orang..."


"Nggak jelas!" Kata Aya sambil memalingkan muka.


Indah yang duduk di belakang hanya tersenyum melihat bagaimana tuan muda koko yang biasanya dingin dan tidak banyak bicara kini seperti ibu-ibu cerewet saat bersama istrinya. Pandai menggombal pula.


"Oh iya... Berapa nomor you Indah?" Tanya Sofiyah saat mengingat ada manusia lain diantara dia dan suaminya.


Indah kemudian tersenyum malu, "Saya ndak bawa hape kalau lagi kerja. Hapenya dibawa adik saya non..."


Sofiyah menoleh dan memandang Indah tak percaya. Bagaimana mungkin di jaman semodern ini masih ada orang yang bisa hidup tanpa memegang handphone? Sebentar kemudian ia dan Basofi saling berpandangan.


"Lalu kalau ada apa-apa gimana?" Tanya Sofiyah.


"Memangnya ada apa non?" Indah justru merasa lucu dengan pertanyaan majikannya yang baik hati. Ia bukan orang sibuk yang punya segudang aktifitas dan diburu waktu atau dicari banyak orang jadi untuk saat ini handphone bukan barang yang terlalu penting yang harus ia miliki.


"Ya misalnya your family ada apa-apa terus mau nelpon gimana?"

__ADS_1


"Ohhhh ... saya kasih nomernya mbok Jah sama Bi Paiti non. Jadi jika sewaktu-waktu keluarga saya ada perlu mereka bisa menelpon ke nomernya mbok Jah atau Bi Paiti..." Jelas Indah yang sukses membuat Sofiyah melongo.


__ADS_2