Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Indah


__ADS_3

Kami sudah sampai di kediaman keluarga Adi tapi aku tak bisa langsung keluar dari mobil karena tuan muda Han tertidur di pundakku. Tadi saat aku bercerita ternyata dia mendengarkan sambil terkantuk-kantuk rupanya.


Tuan Sinyo membuka pintu di sebelah keponakannya untuk mengambil si kecil yang masih pulas dalam tidurnya meski posisinya tidak nyaman. Sepertinya dia melihatku sejenak tapi aku pura-pura tidak tahu. Meski aku hanyalah seorang pembantu tapi aku tidak mau dilecehkan oleh majikan seperti tadi.


Aku jadi ingat suamiku, dulu dia sangat menghormati wanita, terutama aku. Sebelum kami menikah dia sama sekali tidak pernah mengatakan hal-hal tabu semacam itu. Hanya setelah menikah saja dia kadang menggodaku dengan hal-hal vulgar yang membuatku malu sampai ke ujung kakiku.


Jadi saat Sinyo edan itu mengatakan hal-hal pribadi seperti tadi, aku langsung marah, bukan malu. Emosiku langsung naik ke ubun-ubun. Panas dan berkobar-kobar seperti api. Refleks ku tadi mungkin terlalu tidak sopan. Aku mengambil salah satu celana berbentuk segitiga yang berjajar rapi dan melemparkannya tepat ke mukanya lalu segera pergi meninggalkan majikan gila itu.


Aku langsung keluar tanpa menghiraukannya. Terserah dia mau berpikir bagaimana, yang pasti aku merasa terhina. Meski begitu aku tetap menunggunya di luar. Bukan tak ingin pulang sendiri tapi aku tak ingin uangku berkurang. Masih banyak pengeluaran yang harus kupikirkan disamping itu aku juga harus menabung sebanyak-banyaknya untuk pendidikan Lana dan Budi nantinya.


Sebenarnya aku takut juga kalau seandainya nanti dia akan memecatku tapi emosi ini masih mendominasi. Lihat saja nanti, kalau memang dipecat oleh Sinyo ini aku akan minta bantuan pada nona Sofiyah.


Sinyo singkek itu menggendong tuan muda kecil ke dalam rumah dan aku mengikutinya dari jauh sambil membawa beberapa paper bag. Saat tuan Sinyo masuk ke kamar tuan muda Han aku segera menyelinap masuk ke dalam kamarnya untuk menaruh barang-barang belanjanya. Setelah itu aku bergegas keluar tak ingin bertemu dengan orang itu. Tapi sebelum sampai di pintu ternyata dia sudah berada di depanku.


Dia memandangku tanpa berkata apa-apa. Aku pun menunduk sebentar untuk pamit kepadanya. Tak ingin berlama-lama bersama dengannya.


"Tunggu dulu...!" Katanya mencegahku untuk berjalan meninggalkan nya.


Mau tak mau aku pun menghentikan langkah kakiku dan berbalik padanya.


Sinyo Daniel mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu kemudian mengulurkannya padaku.


Tanpa rasa sungkan aku menghitung uang di depannya. Dua juta rupiah. Aku mengambil uang lima ratus ribu dan lima belas lembar uang berwarna merah itu aku kembalikan padanya.


"Ambil saja semua!" Kata den Daniel dengan suara pelan tanpa menerima uang yang ku ulurkan.


Karena dia tak mau menerima uangnya aku pun menaruhnya di meja kecil di samping tempat tidur.


"Ini bayaran saya atas pekerjaan saya tadi, terima kasih!" Kataku sambil menunduk lagi kemudian berjalan keluar meninggalkan pria sipit itu sendirian.


'Untung aku belum terpesona pada karismanya. Ternyata dia hanya hanya mau melecehkan aku saja. Cuma ingin menghinaku seperti tadi. Dasar buaya darat.' Rutukku dalam hati.


Setelah berpamitan pada Bi Nah aku pun bergegas pulang. Sudah rindu rumah. Ingin bercanda dengan Lana dan Budi. Mendengar celotehan mereka berdua yang mirip seperti adik kakak.


"Aku antar!"

__ADS_1


Suara Den Onyo tiba-tiba sudah berada di dekatku saat aku keluar lewat pintu samping. Entah dia datang dari mana. Tidak mungkin kan dia menungguku sedari tadi ?


"Saya bisa pulang sendiri tuan" Kataku tak ingin berduaan saja dengannya. Pasti kikuk nantinya.


" I sudah janji tadi!" Kata den Onyo sambil membuka pintu mobilnya.


Aku tak ingin berdebat lagi, lebih baik diam saja. Segera naik ke mobil dan duduk di depan di samping sang pengemudi agar bisa segera sampai di rumah. Selesai masalah.


Keadaan di dalam mobil menjadi hening karena tidak ada yang memulai bicara sama sekali. Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah kontrakan ku yang jaraknya tak seberapa jauh, hanya saja karena keadaan menjadi sunyi senyap perjalanan kami menjadi terasa lama. Kira-kira hanya sepuluh menit saja.


Tapi sebelum masuk gang aku memintanya untuk menghentikan mobilnya.


"Tolong berhenti di sini tuan!" Kataku pelan tapi aku yakin terdengar jelas ditelinganya.


"I antar sampai rumah!"


"Please...! Tolong berhenti disini tuan ! Aku mohon! Tidak enak sama tetangga" Pintaku.


Aku tidak mau jadi gunjingan tetangga karena melihat den sinyo mengantarkan aku pulang ke rumah. Wajahnya yang tampan rupawan akan mudah membuat orang salah paham. Apalagi pakaiannya yang terlihat elegan . Ditambah lagi kendaraan mewahnya yang bisa menyita perhatian.


"This is for you!" Katanya sambil memberikan sebuah paper bag padaku.


"Apa ini?"


"Lihat saja nanti!"


"Maaf tapi saya tidak bisa menerimanya" Jawabku sambil melepaskan sealtbelt.


"Terima ini atau I turunkan you di depan rumah?"


Aku memandangnya dengan jengkel. Ternyata dia itu pemaksa. Kuterima saja agar aku tak berlama-lama dengannya.


.


.

__ADS_1


.


.


Setibanya di depan rumah aku mendapati Lana sedang bermain panahan di depan rumah. Entah kenapa aku jadi rindu pada sosok ayahnya. Seandainya dia masih ada pasti saat ini aku tak perlu bekerja seperti ini. Mungkin aku bisa menemani Lana lebih lama, melihat tumbuh kembangnya dan bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga. Menjalani hari-hari dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan yang selalu menyelimuti rumah kami.


"Ibu......!!! Lana dibelikan man Budi panahan!!" Teriak Lana saat melihatku.


Aku merentangkan tangan dan dia segera lari menghambur ke pelukanku. Kupeluk anak semata wayang peninggalan suamiku. Harta berharga sebagai kenang-kenangan yang terindah. Tak terasa air mataku membasahi pipi.


Kenapa aku tiba-tiba aku jadi melow begini?


"Besok pagi-pagi kita ke makam ayah ya nak!!" Ajakku sambil mengusap pipiku agar Lana tak tahu kalau ibunya sedang menangis karena rindu pada ayahnya.


"Iya.... Lana kangen sama ayah" Katanya sambil melepaskan pelukan kami.


"Lana ingat ayah?"


"Ingat.... di gendong ayah di sini,.." Katanya sambil memegang pundaknya.


"Lari-lari sama diajari baca doa kalau mau tidur"


"Ini apa bu?" Tanya si kecil saat melihat paper bag yang kubawa.


"Enggak tahu, tadi ada orang yang nitip. Nggak boleh di buka ya, soalnya ini titipan!" Kataku menjelaskan agar ia tidak penasaran dengan isinya.


"Ayo masuk dulu! Kenapa masih disitu?" Ibu berdiri di ambang pintu dan meminta kami masuk ke dalam rumah.


"Budi mana bu?" Tanyaku ingin bertanya masalah handphone padanya.


"Sedang mandi" Jawab ibu


"Dapat apa itu?" Tanya ibu sambil melihat paper bag yang kubawa.


"Titipan bu...." Jawab ku berbohong lagi.

__ADS_1


'Maaf bu...' batinku.


__ADS_2