
Keesokan harinya seperti biasa saat Sinyo Daniel keluar untuk jogging, Indah masuk ke kamar tersebut dan menata tempat tidur milik tuan mudanya yang selalu berantakan. Bad cover ia kibaskan ke udara dengan kekuatan penuh agar kotoran yang menempel jatuh luruh tak bersisa. Begitu pula dengan spring bednya.
Indah sebenarnya tergoda untuk bermain diatas spring bed yang mantul-mantul kalau ia naiki. Seumur-umur baru kali ini ia bisa merasakan kasur seempuk itu tapi ia tahu diri. Kalau seandainya tuan mudanya tahu ia tidur diatas kasurnya pasti ia akan marah karena itu ia hanya membersihkannya saja dan menahan keinginannya.
Indah memakai kebyok untuk membersihkan area tempat tidur. Bantal guling ia tata rapi. Baju-baju kotor yang berserakan dimana-mana ia punguti untuk dicuci. Barulah setelah itu ia keluar.
Untuk membersihkan lantai kamar dan ruang wardrobe ia lakukan saat Sinyo sudah berangkat kerja karena itu si majikan muda tidak pernah melihatnya. Apalagi ruang kerjanya di bagian belakang rumah utama yang biasanya hanya dipakai para pegawai lalu lalang atau untuk sekedar istirahat di sana.
Tapi pagi ini setelah mengumpulkan dan menaruh pakaian-pakaian kotor seluruh anggota rumah ke tempat laundry, Indah kembali naik ke atas. Ia memutuskan untuk menunggu tuan mudanya di depan kamar. Indah tidak ingin membuat teman-temannya semakin memberengut padanya karena tiap pagi majikan muda itu selalu berteriak memanggil namanya.
Indah tidak diam saja. Ia membersihkan perabotan yang ada di lantai atas dengan kemucing yang dia bawa. Janda manis itu bersiap-siap menunggu sang tuan keluar dari kamar dan akan menyambutnya.
Begitu mendengar suara pintu dibuka Indah bergegas mendekati Daniel yang langsung terkejut melihat orang yang sejak kemarin ingin dilihatnya.
"What are you doing here?!!" Bukan kata-kata manis yang keluar dari mulut sinyo justru bentakan lagi yang ia berikan pada si hitam manis.
"Hah?" Indah mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap majikannya karena ia tak mengerti Tuan muda Daniel sedang bicara apa.
"Hah heh hoh hah heh hoh. Ngapain you disini?"
"Nungguin tuan biar nggak usah teriak-teriak manggil saya. Kasian teman-teman saya. Mereka nggak salah apa-apa. Tolong jangan marah sama mereka. Sama saya saja..!" Kata Indah sambil menunduk kembali.
"With you? Mau ngapain sama you? Siapa yang marah??!. I don't angry!!!!" Suaranya kembali menggelegar. Meskipun dia bilang tidak marah tapi suaranya sudah cukup menjadi bukti dan jawaban kalau saat ini dia benar-benar marah.
"Apa sih nyo? Pagi-pagi juga.... Rame bener..." Sofiyah keluar dari kamarnya dengan muka memberengut karena kesal pada si adik ipar yang tiap pagi selalu bikin onar.
"Shut up!!!" Teriak sinyo pada kakak iparnya. Sebenarnya sinyo juga tak ingin marah tapi dadanya bergemuruh saking nervousnya melihat Indah. Apalagi saat mata bulat Indah berani menatapnya. Kebat-kebit hatinya.
Basofi yang mendengar istrinya dimaki oleh adik tirinya bergegas keluar kamar. Ia berjalan dengan langkah berderap cepat.
Babas menoyor kepala sinyo sambil menatap adiknya dengan marah.
"Yang sopan sama cici mu...!" Bentaknya.
"Udah han... I am ok" Kata Sofiyah sambil mengusap lengan suaminya.
"Lain kali kamu seperti itu lagi kuhajar kamu...." Basofi belum puas memaki-maki Daniel dan ingin menumpahkan kemarahannya saat itu juga.
"Semuanya bisa diem nggak?" si kecil keluar dari kamarnya sambil berkacak pinggang membuat semua orang bungkam.
Basofi kemudian menarik tangan Sofiyah dan membawanya turun ke lantai bawah. Sementara itu Indah masih berdiri di tempatnya.
"Ngapain you masih di sini?!!" Bentak Daniel kesal.
"Barangkali tuan masih butuh saya untuk ..." Kalimat Indah terpotong karena Daniel berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"What for?"
Si manis berdagu terbelah yang awalnya menunduk ini kemudian menatap wajah sang majikan yang sangat dekat dengannya. Wajahnya menyiratkan ketidak tahuan.
" Untuk apa? I butuh you buat apa?"
Daniel yang awalnya ingin membuat Indah salah tingkah justru dia sendiri yang kini tak bisa menahan laju detak jantungnya yang berlarian.
"Buat cari barang-barang tuan...." Kata Indah jujur apa adanya.
"Nggak ada! Atau mungkin you...." Daniel mendekatkan kepalanya pada Indah yang langsung mundur ke belakang.
"Ehem....!"
Daniel tersentak karena tidak menyadari kalau keponakannya masih mengawasi.
"Ayo sarapan uncle!!" Katanya sambil berjalan dengan kedua tangan bersedekap.
Daniel terpaksa mengikuti si kecil tanpa bantahan sama sekali. Sepertinya dia lebih menurut pada keponakannya daripada pada orangtuanya sendiri.
Di ruang makan seluruh anggota keluarga sudah berkumpul untuk menikmati sarapan bersama. Suasana akan tenang kalau Mama Rosi, Sofiyah dan Daniel tidak bersuara karena mereka bertigalah yang bisa memberi suasana. Tak selalu ceria karena yang namanya keluarga pasti ada saja cek cok nya.
"Nanti siang ada yang pasang CCTV di kamar I ma." Daniel melapor pada mama tirinya agar tak kaget nantinya.
"Kenapa? Ada barang yang hilang?" Tanya Mama sambil menyendok nasinya. Beliau orang Jawa yang kalau nggak makan nasi itu artinya belum makan. Mau makan camilan sebanyak apapun kalau belum nasi itu namanya belum makan.
"Lantas?" Mama menghentikan sendok yang sudah berada di ujung mulut untuk menunggu jawaban Sinyo.
"Mau lihat siapa saja yang masuk kamar I"
Sofiyah yang tempat duduknya tepat di depan Daniel menyipitkan matanya. Ia merasa ada sesuatu yang coba disembunyikan adik iparnya.
"Really?" Tanya Sofiyah penasaran.
"Ayy....!!!" Basofi menginterupsi.
"Iya ko...." Sofiyah langsung melanjutkan makannya lagi. Makan dimsum sama seperti papa mertuanya.
"Tata minta kalian kesana Sabtu ini. Rasanya memang sudah lama sekali kita tidak kesana" Mama melihat anak menantunya satu persatu.
"Asyikk....!!!!" Sofiyah antusias menyambut ajakan mama mertua.
"Lihat nanti mah" Kata Babas.
"Tata atau mami?" Tanya Daniel yang langsung bete kalau bahas-bahas tentang keluarganya.
__ADS_1
"I berangkat dulu!" Daniel beranjak dari tempat duduknya meskipun sarapannya belum habis ia makan.
Suasana kemudian menjadi tidak menyenangkan. Satu persatu dari mereka meninggalkan meja makan untuk melanjutkan aktifitas pagi.
"Uncle .....! tunggu I" Teriak Han, putra Basofi dan Sofiyah sambil mengusap bibirnya dengan tissue.
"Hann.... come back !!" Sofiyah memanggil putranya yang langsung mengejar sang paman tanpa terlebih dulu berpamitan.
"Common Mom...!!" Han berbalik haluan. Berjalan kembali menghampiri maminya dengan malas-malasan.
"You mau sekolah atau piknik? Its your bag and it is your lunch"
"Ok. Thank you mom...."
"Hannn...!!" Panggil Sofiyah lagi ketika sang putra hendak berbalik tanpa berpamitan.
"What else momy? I bisa terlambat nanti"
"Kiss me please !!" Rengek Sofiyah sambil menengadahkan kedua tangan meminta pelukan.
"I sudah besar mami..!" Han mencium pipi Sofiyah kanan dan kiri.
"Salim sama yeye dan mbah uti..." Kata Sofiyah lagi.
"No.... papi and uncle tak salim. I juga tak" Jawab Han diplomatis.
Sofiyah mendengus kesal pada suaminya yang kini ikut beranjak pula.
"Aku berangkat dulu. Jangan lupa telpon!" Basofi mencium kening Sofiyah kemudian berangkat tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya.
Sofiyah menjadi kesal dan tidak melanjutkan sarapan.
"Sudahlah... nggak papa sayang..." Kata mama mertua.
"Tapi ma.... kayak nggak punya sopan santun gitu ma...."
"Nanti lama-lama mereka juga akan berpamitan dan salim dengan sendirinya. Waktu itu kokomu juga pernah kok pamitan terus salim gitu...." Jelas mama.
"Ma.... kalau para lelaki nggak mau ikut kita ke rumah besar berduaan aja gimana ma?"
"Iya boleh, tapi toko kamu gimana? Kalau weekend kan biasanya ramai?"
"Kalau mau nurutin pekerjaan nggak akan ada habis-habisnya ma. Lagian juga anak-anak pada pinter semua kok. Nanti Fiah atur deh..."
"Kamu jangan terlalu percaya sama karyawan kamu. Jangan lengah ! Nggak semua orang berbuat buruk itu karena dia orang jelek tapi karena setan nggak akan tinggal diam untuk menggoda manusia dari jalan mana saja!" Papa yang sedari tadi diam saja ikut berbicara kemudian mengusap mulutnya dengan tisue dan beranjak pergi.
__ADS_1
Sofiyah manggut-manggut sambil menundukkan kepala. "Baik pa," katanya.