
Indah langsung menundukkan pandangan saat matanya bersirobok dengan mata sipit si majikan muda.
"Dimana penjepit dasi I yang silver?"
"Di laci tuan...." Jawab Indah tanpa mengangkat kepala. Sementara Daniel justru memperhatikan gadis di depannya dengan seksama.
Kulitnya coklat bersih. Hidungnya cukup mancung untuk ukuran orang Indonesia. Bibirnya sensual dan ada titik di dagunya. Wajahnya terlihat manis dan tingginya juga tak jauh beda dengannya. Daniel penasaran apakah gadis yang beberapa hari ini ia marahi ini tak memiliki emosi.
Apa dia tidak tertarik pada wajahku yang tampan ini, narsisnya pada diri sendiri.
Ia menyuruh Indah masuk ke ruang wardrobe dengan menggerakkan kepala. Dari ujung mata Indah paham dengan perintah yang tersirat. Sebagai bawahan ia membungkukkan badan dengan tangan kanan yang dijulurkan ke bawah sebagai rasa hormat saat berjalan di depan majikan.
"Permisi tuan!"
Dengan cekatan Indah kemudian membuka laci paling atas nomer tiga dari arah kanan. Daniel sampai membelalakkan mata sipitnya karena tadi ia sudah membuka hampir semua laci bagian atas tapi tak melihat penjepit dasi silver nya. Ia yang kurang teliti atau ia sudah mulai tergantung pada si tukang laundry?
Setelah Indah menyerahkan penjepit dasi yang dicari, Daniel pun segera memakainya.
"Waahhhh..... Kok bisa rapi gini .....?!!!!"
Suara cempreng Sofiyah yang datang tiba-tiba mengagetkan kedua insan yang sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"You kenapa masuk ke kamar I tanpa permisi?" Si tampan berkulit putih ini menyipitkan matanya yang sudah sipit hingga kini hanya tinggal segaris. Daniel yang sedang berkaca merasa terganggu dengan kedatangan Sofiyah.
"I juga mau ruangan wardrobe I ditata kayak gini..." Tanpa mengindahkan adik iparnya Sofiyah berjalan ke arah asisten rumah tangga nya kemudian memegang lengan Indah.
"She is not designer. Dia bagian laundry..." Jelas Daniel.
"You mau kan bantuin I?" Tanya Sofiyah dengan mengedip-ngedipkan mata sipitnya membuat Indah tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Tuan muda yang suka marah-marah itu sampai terkesima melihatnya. Dari balik kaca ia melihat Indah tersenyum. Ia seperti melihat pahatan terindah di dunia. Sungguh indah dipandang mata. Bagaimana bibirnya yang sensual tertarik ke sisi kanan dan kiri kemudian dagunya terbelah membentuk sebuah garis.
"Ayyyy.....!!!!!" Kali ini suara ngebass kakak lekaki Daniel yang menggema di seluruh rumah.
"Aduh!! Iya koh..... just a minute.... I am coming honey... !" Sofiyah segera berlari meninggalkan kedua insan yang sesaat saling berpandangan lewat kaca.
Indah segera membuang pandangan kemudian permisi undur diri.
Daniel memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Ini pertama kalinya ia melihat Indah tersenyum.
"Apa I salah lihat? She did not make up at all tapi kenapa manis sekali..?" (dia tidak memakai make up sama sekali)
Hari itu Daniel bekerja dengan bayangan senyum Indah yang terus berkelebat dalam kepala. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya sudah berapa lama Indah bekerja di rumahnya? kenapa selama ini ia tidak pernah melihatnya. Dia juga ingin tahu apakah dia masih single atau sudah punya pacar. Jangan-jangan dia malah sudah bersuami. Ia mengacak-acak rambutnya karena ingin segera pulang ke rumah dan melihat senyuman indahnya.
Sementara itu Indah sedang bekerja ekstra di kamar Sinyo Daniel untuk mengembalikan barang-barang milik tuan mudanya ke tempat semula. Menatanya seperti sedia kala. Ia tak ingin teman-teman kerjanya yang kebanyakan lebih tua darinya kena omelan setiap pagi.
Sebenarnya Indah hanya ingin bekerja dengan sebaik-baiknya karena itu ia menata sesuai yang ia sangka baik dan rapi tapi kalau karena hal itu tuan mudanya malah tidak suka maka ia akan mengembalikan semuanya ke tatanan semula.
Ia bersyukur karena ia hanya ditugaskan bekerja membersihkan ruangan Tuan muda Sinyo selama satu Minggu saja. Kalau tidak mungkin ia harus menutup kedua telinganya dengan sesuatu agar gendang telinganya tidak rusak.
Indah bekerja ekstra hari ini. Ia mengurangi waktu istirahatnya agar bisa menyelesaikan misinya. Ia tidak ingin para pekerja lain terkena imbas kemarahan tuan muda padahal dia yang bersalah.
__ADS_1
Gadis manis itu berjalan pulang dengan tergopoh-gopoh. Ia menyampirkan tas selempangnya dengan cepat. Di depan gerbang adiknya yang bernama Budi sudah menunggunya sejak tadi. Lelaki muda itu khawatir karena kakaknya sudah terlambat satu jam lebih. Hari hampir gelap tapi sang kakak belum menampakkan batang hidungnya.
Ibu dan putra semata wayangnya Indah juga sudah menantinya sejak tadi. Sang ibu sampai menyuruhnya datang ke rumah majikan Indah dengan sepeda ontelnya. Untungnya hari ini Budi sedang libur kerja.
"Kenapa terlambat kak?" Tanya Budi.
"Ada pekerjaan tambahan. Lana baik-baik saja kan?"
"Merengek dikit tadi. Mari pak...!" Pamit Budi pada security yang sudah mengenalnya.
"Hati-hati boncengin enengnya. Jangan sampai jatuh...!" Kata si security menggoda Indah.
"Mari pak...!" Sapa Indah juga. Tak terlalu mempermasalahkan godaan yang sudah sering mampir di telinganya asal masih dalam batas wajar. Menjadi janda di usianya memang bukan hal mudah. Ia kerap digoda oleh lawan jenis dengan kata-kata seperti itu. Baginya itu adalah suatu ujian agar ia bersabar menjalani hidupnya dan lebih mendekatkan diri pada yang Kuasa.
Jarak rumah kontrakan Indah dan rumah keluarga besar pak Adi sebenarnya tidak terlalu jauh. Kawasan rumah mereka bersinggungan. Rumah majikannya berada di kawasan elit sedangkan rumah tempat tinggalnya berada di kawasan sangat sempit. Untungnya tempat tinggal Indah bukan termasuk lingkungan yang kumuh.
Di depan rumah ternyata si kecil Maulana sudah menunggunya.
"Ibu kenapa lama sekali?" Tanya Lana sambil mengusap ingus yang keluar dari hidungnya.
"Ada pekerjaan tambahan tadi " Indah mencuci kedua tangan dan kakinya terlebih dulu baru setelah itu berjabat tangan dengan ibu dan putranya.
"Nangis terus dari tadi " kata ibunya yang sehari-hari menjaga Lana.
"Lana nggak boleh rewel! Kasihan neneknya.... Lana harus jadi anak yabg soleh dan berbakti biar disayang sama Alloh..." Indah menselonjorkan kaki sementara putranya duduk di atas pangkuannya.
Balita itu memeluk ibunya dengan erat seakan-akan ia takut akan ditinggal lagi.
"Hari ini nenek masak sayur sop ya.... Hmm.....Baunya aja enak" Budi pun ikut membantu membawa panci kecil berisi sayur. Dia bersyukur tetap bisa makan setiap hari meskipun dengan menu sederhana. Hidup ditengah keluarga yang kekurangan tak menyurutkan semangat untuk meraih cita-cita.
Menu hari itu yang tersaji di ruang tamu minimalis mereka adalah sayur sop dengan tempe. Kalau beruntung biasanya Indah bisa membawa makanan sisa dari keluarga majikannya.
"Ibu nggak bawa apa-apa?" Tanya si kecil Lana dengan polosnya.
Indah menggelengkan kepala " Masakan nenek ini lebih cocok di lidah kita daripada makanan dari rumah besar juragan ibu. Mereka itu makannya emiii... aja. Tapi ngasih namanya aja yang beda-beda padahal mah emi-emi juga jatuhnya. Lana nggak boleh berharap pemberian orang ya nak. Apa yang ada pada kita harus kita syukuri. Banyak lho orang-orang yang nggak bisa makan tiap hari. Tidurnya di kolong jembatan berteman nyamuk sama sampah. Kita ini Alhamdulillah setiap hari masih bisa makan, ada tempat tinggal biar nggak kepanasan nggak kehujanan. Kalau orang mau bersyukur niscaya Alloh akan menambah nikmat Nya tapi kalau kita kufur Alloh akan mencabut barokah rezeki yang ada pada kita. Lana faham kan nak?"
Lana menganggukkan kepala meski belum faham sepenuhnya. Anak umur tiga tahun memang perlu mendapatkan pembelajaran tentang keimanan. Mungkin saat itu ia belum faham tapi kata-kata seorang ibu akan masuk dan menempel kuat di dalam kepala.
*********
Pagi itu setelah melakukan rutinitasnya Sinyo melewati dapur sambil mencari sosok hitam manis yang sudah mencuri hatinya. Ini pertama kalinya ia tertarik dengan wanita Jawa. Semua mantannya dari kalangan keturunan Cina dan beberapa ada yang cewek blasteran. Circle nya menganut azas kebebasan layaknya orang luar yang tidak mengenal aturan tradisi. Prinsip yang mereka gunakan adalah yang penting tidak menyakiti dan tidak merugikan orang lain. Mau lihat orang jungkir balik atau ngedrugs bukan urusan kita. Mau Gonta ganti pasangan hanya untuk bersenang-senang juga urusan mereka sendiri. Kita tidak boleh ikut campur urusan orang lain.
Huffftttthhhh...... Naudzu billahi min dzalik.....! Semoga kita semua terjaga dan dijauhkan dari hal-hal demikian.
Sampai di tangga pun sinyo belum melihat orang yang dicarinya. Dia mendengus kesal kemudian masuk ke dalam kamar dan mendapati semuanya sudah bersih dan rapi. Berarti Indah sudah masuk ke dalam kamar nya saat ia keluar tadi.
Ia kemudian berjalan untuk melihat area wardrobe nya dan mencari cara agar bisa memanggil Indah ke kamarnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ternyata ruangan wardrobe nya kembali seperti semula, seperti tatanan mbok Jah.
"Apa mbok Jah sudah sembuh dan masuk kerja? Gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Jangan sembuh dulu mbok...!" Katanya pada dirinya sendiri. Ia masih penasaran dengan sosok hitam manis yang senyumnya membuatnya terlena.
__ADS_1
Semalam ia memang pulang larut sekali sehingga tidak menyadari perubahan pada ruangan miliknya. Hampir jam sepuluh malam Ia tiba di rumah. Begitu masuk kamar tidur ia hanya melepas sepatu dan bajunya kemudian merebahkan diri hanya dengan memakai celana saja tanpa ke kamar mandi terlebih dulu. Karena itu ketika bangun tidur tadi ia sempatkan mandi dulu sebelum jogging pagi.
Daniel buru-buru mandi untuk kedua kalinya kemudian memakai baju rapi dan mematut diri dalam cermin. Memastikan penampilannya menarik dan bisa menaklukkan si manis yang bernama Indah. Ia tak pernah gagal menaklukkan orang yang diincarnya. Kali ini pun ia yakin bisa mendapatkan hati Indah.
"Ehm... ehm.....!!!" Daniel mencoba menenangkan diri agar ekspresinya tidak terlihat kikuk di depan Indah nanti.
"Indah mana? Suruh kesini !!" Katanya pada Supiyati yang bagian bersih-bersih di lantai bawah.
"Sebentar den....!" Jawab Supiyati sambil menaruh peralatan kerjanya. Ia pun bergegas mencari si biang keladi yang beberapa hari ini menjadi pergunjingan para pekerja.
"Indah lagi?" Tanya Sutirah saat melihat wajah teman kerjanya cemberut.
"Bilangin, jangan sok belagu deh!!! Jadi pembantu aja udah berani ngatur-ngatur barang majikan. Gimana kalau sudah jadi juragan ? "
"Shutttt udah ah. Bikin bete aja dia tuh ...!"
"Ndah...!!! Dicari den Sinyo !!! Kamu apain sih kamarnya aden gantengku itu. Dikasih kepercayaan buat bersihin kamar ya bersihin aja nggak usah beko-neko deh Ndahhh..... Bikin kesel aja!!!" Yati langsung menyemprot Indah begitu melihat sosoknya di ruang cuci setrika.
"Maaf....!" Kata Indah sambil menaruh baju-baju kotor milik para majikan.
Indah menghela nafas dengan pasrah. Dikembalikan seperti tatanan semula juga masih saja salah. Ya mungkin begitulah takdir untuk para pekerja sepertinya. Harus siap dengan segala kondisi. Mau dimarahi atau di bentak telan saja sebisanya.
"You apakan kamar I?" Sinyo yang sudah menunggunya sejak tadi berdiri di depan pintu dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana sembari menginterogasi pekerjanya.
Indah hanya menundukkan kepala tak berani melihat wajah tampan sang majikan.
"Hanya saya kembalikan seperti semula, seperti tatanan sebelumnya " Jawabnya datar, kali ini tak nampak ketakutan di wajahnya .
"You berani melawan I?"
Indah menggelengkan kepala karena memang bukan itu maksudnya.
"Kembalikan semuanya seperti kemarin....!!!" Katanya sambil meninggalkan Indah di tempatnya berdiri.
Sinyo turun ke lantai bawah sambil dengan gaya sok coolnya. Tapi saat menuruni beberapa tangga Ia mencoba melonggarkan dasinya yang tiba-tiba terasa sesak karena udara yang masuk ke dalam paru-paru seperti terhalang sesuatu.
Sambil sarapan ia berpikir ingin memasang CCTV di kamar pribadinya agar dia bisa tahu apa saja yang dilakukan oleh Indah di dalam sana.
"Ngelamunin apa you?" Tanya Sofiyah ketika mereka sarapan bersama.
"Kepo!" Jawab Sinyo.
Sofiyah menjadi geregetan dan mengangkat satu bibirnya ke atas bermaksud mengejek adik iparnya.
"A......" Basofi menyuapkan roti bakarnya ke mulut sang istri agar diam tak banyak bicara.
"Papi....!!" Si kecil putra Basofi dan Sofiyah tak terima maminya diperlukan seperti itu oleh papinya sendiri.
Basofi menatap putranya dengan jengah. Sepertinya saingan utamanya kini lebih posesif pada sang istri.
Daniel terkikik dengan kekonyolan keluarganya kemudian mengajak tos si kecil yang kini paling disayang keluarga.
__ADS_1