
"Kak..... hapenya bunyi terus ...." Budi yang baru pulang kerja menepuk pundak kakaknya yang sudah tertidur pulas di samping putranya. Maklum Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
"Huaaammmm.....!! Matiin saja !" Jawab Indah dengan membuka sedikit matanya.
"My future yang manggil..." Kata Budi lagi.
"Angkat dulu nak, barangkali penting!" Sang ibu yang masih terjaga ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
Indah menguap lagi kemudian dengan malas-malasan ia mengangkat panggilan.
"Iya tuan..." Jawabnya pelan.
"Kenapa dari tadi tidak diangkat? Aku sudah di depan rumah kamu....." Kata suara dari seberang sana.
Mata Indah langsung membola mendengar pengakuan si majikan muda yang akhir-akhir ini rese padanya.
"Ma-mau ngapain tuan? Ada apa?" Indah perlahan-lahan turun dari tempat tidur. Ia ingin memastikan perkataan tuan mudanya. Meski nyawanya belum genap ia berusaha untuk segera sampai di dekat jendela. Indah mulai mengintip di balik tirai ingin tahu apakah benar si majikan muda sudah berada di depan rumah kontrakannya atau dia cuma menggertak saja.
__ADS_1
"Sekarang jelaskan padaku tentang syarat nya Qurban. Aku belum paham!!" Katanya tak tahu waktu.
"Tapi ini sudah malam tuan. Saya sudah tidur tadi" Mata Indah terbelalak saat mengintip di balik jendela. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Sinyo benar-benar berada di depan rumahnya. Ia sedang bersandar di depan pintu mobil dan sedang asyik bertelepon ria dengannya.
Indah merapikan rambutnya yang acak-acakan kemudian berusaha mengumpulkannya jadi satu dan mengarahkannya di sebelah kanan lehernya. Tapi kemudian ia sadar, untuk apa dia merapikan rambutnya padahal sinyo tidak melihatnya lagian itu aurot yang harus ia jaga dan tidak boleh terlihat oleh Sinyo Daniel.
"Besok saja tuan!" Katanya dengan suara berbisik. Ia tidak pernah cerita apa-apa tentang hubungannya dengan si tuan muda pada keluarganya. Ia takut keluarga nya berpikir yang tidak-tidak. Untuk sementara ini dia lebih memilih untuk diam saja karena berharap semua akan kembali normal lagi. Ia bisa bekerja seperti biasa dan Sinyo kembali seperti dulu, tidak mengenalnya dan tidak memperdulikannya.
"Kenapa mesti besok?"
"Ini sudah malam tuan..!" Jawab Indah sambil menoleh dengan perkataan yang sangat pelan. Takut ketahuan oleh ibu dan adiknya kalau sedang bertelepon ria di tengah malam dengan seorang pria.
"Bu-bukan siapa-siapa.." Indah buru-buru mematikan panggilan kemudian menonaktifkan ponselnya.
"Kenapa kakak berdiri di situ? Di luar ada orang? Atau... kakak mau keluar ?" Desak Budi posesif pada sang kakak.
"Enggak kok.... Ini sudah malam ayo tidur!" Kata Indah sambil berjalan kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Besok aku mau ngajak Lana jalan-jalan ke pasar. Sudah lama nggak beli mainan "
Budi mengungkapkan keinginannya untuk mengajak sang keponakan hangout bareng.
"Kamu belum waktunya gajian kan? Kalau punya uang lebih ditabung saja. Kapan-kapan kakak belikan mainan lagi buat dia."
"Kakak sudah berapa kali bilang begitu tapi sampai saat ini belum juga terealisasi. Boleh ya kak? Ini istilahnya ngedate bareng sesama lelaki. Biar jiwa kepemimpinan kita terasah keluar"
"Ya sudah tapi jangan boros!! Kamu harus nabung biar bisa kuliah!"
"Kuliah nggak kuliah nggak masalah kak.... yang penting tetap cari ilmu" Kata Budi menenangkan hati kakaknya.
Indah kemudian kembali berbaring di samping putranya. Sambil memunggungi Lana ia menghidupkan kembali ponselnya dan mendapati banyak notifikasi pesan masuk dari si majikan muda yang makin hari makin berani mendekatinya.
Indah hanya membacanya saja tanpa berniat membalas chat dari Sinyo. Ia menggulir layar ponselnya dan masuk ke dalam galeri. Sejenak ia terkesima dengan foto-foto yang terpampang disana. Hape yang dipegangnya masih full foto sinyo bahkan gambar dirinya sendiri pun belum ada.
Saat tersadar dan hatinya mulai tergelitik ia segera mematikan ponselnya kembali.
__ADS_1
Seringkali ia berpikir hubungan mereka yang sekarang terlihat dekat tidak akan bertahan lama karena perbedaan mencolok diantara keduanya. Ia pun tak pernah berharap untuk menjadi Cinderella. Ia meyakinkan hatinya kalau Sinyo yang tampan dan kaya itu hanya penasaran padanya. Suatu saat ia akan ditinggalkan begitu saja jika sudah mulai tergoda. Pikiran itu ia tanamkan ke otaknya agar tidak baper dan jatuh dalam pesonanya.
Sinyo buru-buru mematikan telpon saat Indah datang ke kamarnya. Dia berdehem untuk kemudian menatap layar laptopnya, berpura-pura sedang serius bekerja. Mouse nya ia goyangkan ke kiri dan ke kanan tapi sebentar kemudian matanya melihat pada sosok cantik yang langsung bekerja membersihkan kamarnya.