Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Kehilangan


__ADS_3

Sementara itu Daniel yang sedang berada di kantor tak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Berkali-kali ia memantau CCTV yang terpasang di kamarnya. Tak ada pergerakan manusia sejak ia berangkat tadi pagi. Ia merasa resah sendiri


"Kemana dia?"


"Sebegitu marahnya?"


"Jangan-jangan dia sudah tidak mau bekerja lagi ...."


Sinyo sudah berusaha untuk konsentrasi membaca laporan dari staffnya namun pikirannya tak bisa dibagi. Yang terlintas dalam kepalanya hanya Indah lagi Indah lagi. Ia takut kalau Indah tak lagi mau bekerja di rumahnya karena marah padanya.


'Apa I harus telpon Budi untuk menanyakan kabar kakaknya? Aahh.... nanti dia akan ikutan marah kalau tahu kakaknya sakit hati karena perbuatan I'


"Arrgggghhhh!!!" Daniel mengacak rambutnya karena kesal pada dirinya sendiri. Kenapa pula dia bersikap seperti itu kemarin. Padahal tahu kalau Indah berbeda dengan mantan-mantannya.


"Stupid you Daniel!!" Katanya sambil menoyor kepalanya sendiri.


Saat di ruang rapat ia pun tak bisa konsentrasi mendengarkan presentasi dari sekretaris Basofi. Raganya ada di tengah-tengah ruangan bersama banyak orang tapi hatinya sedang melanglang buana.


Tangannya tak berhenti bergerak. Mengusap wajah, memegangi janggutnya lalu fokus menatap laptop. Bukan materi rapat yang terpampang di layar namun pantauan Cctv di kamarnya.


Pletak!

__ADS_1


"Aduh...!" Daniel mengusap kepalanya yang kejatuhan benda yang keras.


Ternyata bolpen milik kakaknya yang tadi mengenai kepalanya. Bolpen mahal dengan lapisan besi sehingga membuat kepalanya cukup sakit.


Daniel memandang dengan sinis pada si pemimpin rapat. Tapi sedetik kemudian ia memandang seluruh peserta rapat yang kini fokus padanya. Suasana menjadi hening karena tak ada yang berani bicara. Ia menelan ludah karena yakin ada sesuatu yang salah dan ia tak menyadarinya.


"Bagaimana menurut divisi marketing? Apa yang harus diperbaiki ke depannya agar masalah ini tidak terulang setiap kita membuka kawasan perumahan baru?" Tanya Babas sambil bersandar pada kursi kebesarannya menatap Daniel dengan sorot mata mengintimidasi.


Daniel yang merupakan manajer marketing, memandang sekilas pada proyektor yang tengah menyala. Ia berusaha mencerna yang tertulis disana dan membuat kesimpulan yang tepat.


"Mencari tahu terlebih dahulu tentang kawasan yang akan kita beli. Tanahnya bermasalah atau tidak. Sebaiknya dengan cara sembunyi-sembunyi. Lewat detektif atau menyewa seseorang yang kompeten misalnya. Kalau langsung bertanya pada aparat desa terkadang surat-suratnya dimanipulasi. Pernah juga si pemilik tanah tidak mau menjual tanahnya karena itu warisan orang tua tapi aparat desa memaksa mereka agar mau menjualnya dengan harga yang murah. Lebih baik cari aman saja"


Basofi menatapnya dengan tajam tapi tak berkomentar.


Daniel menepuk dadanya pelan karena merasa lega sudah terbebas dari mara bahaya. Buru-buru ia mengganti tampilan di layarnya ke topik rapat yang sedang dibahas.


.


.


.

__ADS_1


.


Ketika jam kantor akan berakhir Babas masuk ke ruangan Daniel dan para staffnya tanpa permisi. Menyelonong saja tanpa ketuk pintu sembari melempar map berwarna biru di meja. Anak buah Daniel tetap serius menatap layar komputer masing-masing. Pura-pura tak tahu kalau bos-bos besarnya sedang berdiskusi kemungkinan tentang masalah pribadi.


"Ada yang menawarkan tanah kuburan untuk dijadikan perumahan. Kau gila atau apa?" Kata Babas sambil berkacak pinggang.


Daniel mengernyitkan kening kemudian segera memeriksa map di depannya.


"Orang iseng mungkin.. Mana ada developer yang mau membangun perumahan di atas tanah kuburan...?." Jawab Daniel.


" Ada. Perusahaan Bima pernah melakukan kesalahan seperti itu karena kepincut sama makhluk tak kasat mata dan bertindak di luar nalar. Sampai sekarang masih ada beberapa orang yang tinggal disana. Awalnya banyak yang membeli tapi satu persatu dari mereka meninggalkan rumah yang sudah mereka beli karena mendapatkan banyak gangguan. Daripada hidup dengan makhluk-makhluk astral lebih baik kehilangan uang. Dan sekarang kawasan itu rumputnya tinggi-tinggi sudah seperti hutan belantara"


Sinyo menatap kakaknya heran. Kenapa membahas hal yang tak lazim seperti itu. Bukan kebiasaan kokonya ngomong ngalor ngidul seperti itu.


"Mau ngomong apa sih? Nggak jelas begitu?" Sinyo akhirnya buka suara karena tak mengerti arah pembicaraan Babas.


"Ada penawaran semacam ini masuk ke dewan direksi. Jangan sampai kamu lengah dan mengambil keputusan yang salah. Pelajari benar-benar setiap laporan yang masuk ke mejamu. Pisahkan masalah cinta dengan kerja. Kalau di kantor fokus pada pekerjaan! jangan lihat Cctv terus-terusan. Jangan sampai kamu kepincut sama makhluk jadi-jadian seperti temanku itu!" Ucap Basofi sambil berjalan keluar.


Daniel menggelengkan kepala. Pusing lama-lama mendengar ocehan kakaknya yang tidak jelas. Ia kembali melihat layar hape dan membuka aplikasi Cctv. Tak perduli dengan para staff yang melihatnya dengan aneh.


Sinyo hampir putus asa tapi matanya terbelalak bahagia karena melihat Indah masuk ke dalam kamarnya. Ia memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

__ADS_1


Tapi sesaat kemudian bibirnya kembali seperti semula. Mengatup rapat karena melihat mata indah sembab. Terlihat habis menangis .


__ADS_2