Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Qurban


__ADS_3

Matanya melotot tajam pada Indah yang langsung menundukkan kepala. Daniel maju mendekati Indah dengan pandangan yang menyeramkan. Indah yang ketakutan pun berjalan mundur dengan satu tangannya masih memegang pergelangan tangan yang lainnya. Ia benar-benar ketakutan karena dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Indah takut Sinyo berbuat hal yang tak sepantasnya.


Gadis itu akhirnya tak bisa mundur lagi karena pantatnya menabrak meja setrikaan. Kini ia terduduk disana sambil menundukkan kepala dengan tangan berpegangan di sisi-sisi meja.


Sinyo mendekatkan wajahnya pada Indah yang seketika memalingkan muka.


"You mau ngomong apa?" Tangan Daniel memegang tepian meja membuat si wanita terpenjara.


Nafas segar Sinyo mengenai indera penciuman Indah. Tiba-tiba saja dadanya jadi berdetak dua kali lipat dari biasanya. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini dan Indah tak kuasa menatap wajah Daniel yang hanya berjarak dua jengkal darinya.


"Iya saya ngomong tapi mundur dulu please....!" Kata-katanya kini sudah ketularan Sofiyah.


Daniel menegakkan tubuhnya kembali. Rasanya menyenangkan sekali bisa menggoda gadis di depannya. Bibirnya Ingin sekali tersenyum tapi ia menahannya. Bersikap sok cool agar terlihat seperti pria yang berwibawa.


Setelah Daniel mundur barulah si manis berdiri dengan benar. Kedua tangannya saling bertaut di depan karena jantungnya masih dag dig dug. Jari jemarinya saling meremas karena panik dan takut bercampur jadi satu.


"Apa?"


"I-itu...."


Daniel yang tidak sabar mendengar kata-kata Indah kemudian maju satu langkah ke depan agar Indah mau bicara dengan benar.


"Iya stop stop.stop...!!! Saya ngomong saya ngomong....." Indah dilanda kepanikan saat melihat pergerakan pria di depannya yang hari ini terlihat lebih menyeramkan.


"I-itu saya pingin kurban tapi tidak punya uang. Kalau hapenya saya jual buat beli kambing terus sisanya buat beli hape yang biasa bagaimana tuan? Boleh tidak?"


Dengan takut-takut Ia kemudian mendongakkan kepala mencoba melihat reaksi tuannya.


Daniel melotot saat mendengar pengakuan asisten rumah tangganya.


Berani-beraninya dia. Hp itu diberikan spesial untuknya. Karena hape itu pernah dipakai olehnya ia merasa seperti berbagi kenangan dengan Indah. Banyak foto-foto tentang masa mudanya saat sekolah juga ada foto saat ia masih kecil. Ia ingin Indah mengetahui sedikit tentangnya. Tapi sekarang malah ingin dijual katanya, yang benar saja.


Daniel menarik nafas untuk meredakan emosinya. Ia ingin Indah lebih membuka diri dan berterus terang padanya.


"Kurban itu apa?" Tanyanya setelah bisa menguasai dirinya sendiri.


Indah menatap Daniel tak percaya.


'Masa kurban tidak tahu?', Batinnya tapi akhirnya ia menjawab juga.


" Qurban itu berasal dari bahasa Arab Qoroba, Yaqrubu , Qurbanan yang berarti dekat atau mendekatkan atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah yang secara harfiah berarti hewan sembelihan.

__ADS_1


Artinya, Kurban adalah ibadah yang dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta dengan melakukan penyembelihan hewan ternak untuk dipersembahkan kepada Allah"


"Bukannya kurban itu hanya untuk orang kaya?" Tanya Sinyo sambil menatap Indah penuh kekaguman.


'Ternyata you bersemangat kalau bicara masalah agama. Nggak ada canggung-canggungnya', Batin Sinyo.


"Untuk orang yang mampu,.... bukan hanya untuk orang kaya. Banyak orang yang kelihatannya hidupnya pas-pasan tapi bisa berkurban. Karena kata ustadz hewan yang di kurbankan nantinya akan menjadi tunggangan kita kelak di akhirat. Maka dari itu kami yang hidupnya biasa-biasa juga ingin berkurban biar di akhirat nanti kami juga bisa naik kendaraan"


"You kayak ustadzah aja! Bener nggak informasi you tadi? Awas saja kalau salah!" Kata Daniel sambil menahan tawa.


E....h malah Indah justru melotot pada tuan mudanya.


"What? You mulai berani sekarang ?" Daniel mulai berkacak pinggang untuk membuat wanita di depannya ketakutan. Memang Indah kemudian memalingkan muka tapi sambil ngedumel dengan jelas.


"Kalau nggak percaya ngapain tanya sama saya?"


Diluar dugaan Daniel malah melepaskan kancing pakaiannya membuat Indah kembali melotot saat melihatnya.


"Tuan mau ngapain?"


"What do you think?"


"Tuan.... saya akan teriak...."


"Ini nggak lucu tuan...." Indah sudah ketakutan setengah mati karena Sinyo sudah melepas kancing paling bawah. Apalagi tempat kerja Indah ini letaknya berada di bagian paling belakang.


"Memangnya you kira I mau apa?" Katanya santai sambil menenteng pakaiannya dan ia berikan pada Indah.


"Setrika sekarang ! Gara-gara you pakaian I jadi kusut lagi!" Kata Sinyo lagi.


Daniel kemudian menoyor kepala Indah dan berkata, " Memangnya you mikir apa barusan?"


Si manis ini hanya menggelengkan kepala karena ketahuan berpikir negatif pada sang majikan. Ia merentangkan baju Sinyo yang berbau harum. Tidak terlihat kusut sama sekali karena itu baru dipakai pagi ini.


"Tapi ini kan baru tuan, belum kusut sama sekali. Harum lagi" Tanpa sadar Indah mendekatkan hidungnya pada pakaian sinyo karena bau harumnya yang menyegarkan khas wanginya parfum mahal.


"You suka?" Tanya Daniel bahagia saat melihat Indah mencium pakaian yang baru dipakainya. Ia menelan ludah karena pikirannya mulai traveling kemana-mana.


"Apanya?" Tanya Indah sambil menoleh pada Sinyo.


"Smell is good right?"

__ADS_1


"Hah?!"


"Udah cepat setrika, I mau berangkat kerja!" Kata Daniel sambil melihat jam tangan mahalnya.


"Tapi ini masih rapi begini tuan...."


"You berani membantah ya sekarang....!" Katanya sambil berkacak pinggang lagi. Hari masih pagi tapi sinyo sudah berkacak pinggang berkali-kali untuk menakuti si belahan hati.


"Iya iya maaf tuan.... Hamba akan laksanakan perintah yang mulia..." Indah mencoba mencairkan suasana agar dirinya tak terlalu nervous. Berduaan bersama Sinyo membuat hatinya kebat-kebit tak seperti biasa. Ada rasa berbeda yang menyelinap dalam kalbunya.


Mau tak mau Indah pun menuruti perintah sang majikan yang tidak masuk akal. Begitulah konsekuensi jadi bawahan. Perintah majikan adalah kebenaran dan membantah majikan adalah kesalahan fatal.


Selepas drama pagi itu Sinyo keluar dari ruangan tempat Indah bekerja. Ia keluar sambil tersenyum bahagia. Hari ini Indah lebih terbuka. Itu artinya ada peningkatan pada hubungan mereka.


Beberapa pelayan yang sedang mengintai dari tadi langsung berhamburan ke segala arah begitu melihat sosok sinyo keluar.


Daniel menggelengkan kepala melihat ulah para asisten rumah tangganya. Bukannya kerja malah asyik ngintip. Untung tadi tidak terjadi apa-apa.


Di ruang makan ternyata hanya tinggal papa dan mamanya yang masih duduk menyelesaikan sarapan. Sedangkan keluarga kecil kakaknya sudah tak terlihat lagi.


Sinyo langsung duduk dan menikmati sarapannya yang tertunda. Ia tak melihat raut muka berbeda dari kedua orang tuanya.


"Dan...." Mama Rosi yang biasanya memanggilnya Sinyo kini merubah panggilannya. Itu artinya ada sesuatu yang serius yang akan dibicarakan oleh sang mama.


"Kamu jangan terlalu dekat sama Indah. Nanti yang lainnya pada iri..." Kata mama pelan-pelan takut ada Art yang kedengaran.


"Sinyo nggak ngapa-ngapain ma... Orang cuma ngobrol tanya-tanya masalah kurban tadi..."


"Kenapa nggak tanya sama mama atau papa saja?" Kata mama dengan percaya diri


Sinyo menghentikan makan dan melihat pada mamanya.


"Kurban itu apa ma?" Tanyanya to the point. Dia bukan bertanya untuk mengetahui jawabannya tapi lebih seperti ingin menguji apakah papa mamanya bisa menjelaskan makna kurban seperti Indah tadi atau tidak.


"Eh.... " Mama menelan ludah karena tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Dia jadi menyesal dengan perkataannya barusan. Baru ingat kalau pengetahuan agamanya masih cetek alias minim.


"Nanti kamu tanya sama cicimu, dia lebih paham. Kalau mama nggak bisa menjelaskan"


"Ehm ehm...." Papa Adi berdehem untuk menggoda istrinya yang salting akibat kata-katanya sendiri.


"Kalau papa tahu coba jelaskan! Apa itu kurban?" Mama balik menyerang si papa karena merasa kesal.

__ADS_1


"Papa mau berangkat sudah siang" Katanya sambil beranjak berdiri.


"Huuu...." Mama mencibir alasan suaminya yang menghindar karena sama-sama tahu kalau mereka tidak bisa menjelaskan makna kurban pada sang putra yang berbeda keyakinan dengan mereka.


__ADS_2