
"Dan kini kedua mempelai telah resmi menjadi sepasang suami-istri yang sah di mata hukum dan di hadapan Tuhan" seorang pendeta yang membekati pernikahan Gemini dan Elbert mengakhiri ibadah pemberkatan itu.
Para anggota keluarga dari kedua belah pihak keluarga bersorak bahagia. Elbert pun mengecup kening perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya itu. Gemini Widianto perempuan cantik dengan tubuh tinggi dan langsing bak model, rambut coklat sepinggang yang saat ini dirias sedemikian rupa, serta kulit putih langsat khas asia, jangan lupakan sepasang mata hitam yang mempesona.
Elbert sendiri merupakan seorang pria asli Amerika yang kebetulan bertemu pujaan hatinya itu saat melakukan perjalanan bisnis ke Indonesia. Mereka berpacaran selama satu tahun hingga Elbert memantapkan hati untuk melamar Gemini dan akhirnya mereka resmi menjadi suami-istri hari ini.
"Terima kasih, sayang" ucap Elbert begitu bahagia. Pria itu tidak bisa menyembunyikan rona bahagianya meski wajahnya mulai memucat membuat semua yang ada di dalam ballroom hotel itu mulai hening.
"Sama-sama El" balas Gemini tersenyum manis berusaha menyembunyikan raut khawatirnya. Ia tidak ingin merusak suasana bahagia suaminya.
"Sayang, aku pusing" keluh Elbert memegangi tangan Gemini berusaha untuk menopang tubuhnya yang terasa berat.
"El, jangan membuatku takut!" Gemini menuntun Elbert untuk duduk di kursi.
"Siapapun tolong panggilkan ambulance atau hubungi dokter untuk kemari!" Teriak Gemini memohon. Gemini tidak pernah berharap hal ini harus terjadi saat ini. Ia sangat berharap suaminya tidak akan sakit sekarang meski ia tahu Elbert memang menderita leukimia stadium akhir. Para dokter pun sudah angkat tangan.
"Bertahanlah sebentar!" Pinta Monica, Ibunya Elbert sambil membantu putranya menghapus darah mimisan yang mengalir deras dari hidungnya.
"El, jangan membuatku takut" Gemini memeluk Elbert bahkan tidak peduli gaun pengantinnya kotor karena darah mimisan.
"AMBULANCE DATANG!" Seseorang berteriak lalu beberapa perawat langsung masuk dan mengurusi Elbert. Elbert segera dibawa ke rumah sakit sedangkan Gemini dan para keluarganya segera mengganti pakaian yang lebih nyaman dan akan menyusul ke rumah sakit.
"Jangan sentuh gaunku!" Titah Gemini saat salah satu pelayan dari keluarga Elbert hendak membawa gaunnya untuk dibersihkan. Pelayan itu menurut dan pergi dari kamar Gemini.
"Gemini, ayo" ajak Ibu mertuanya.
"Iya Mom" Gemini dan Monica pun segera berangkat ke rumah sakit bersama keluarga lainnya.
"Sabar Gem, tabah dan berdoa terus. Jangan lupa Tuhan yang maha punya rencana" Ibu Gemini menasehati putrinya tanpa melepaskan pelukannya dari putri tunggalnya.
"Iya Ma. Gemini kuat kok, Gemini harus kuat buat Elbert" jawab Gemini dengan suara bergetar karena menahan tangis.
__ADS_1
"El, kau pasti bisa! Kau harus bisa bertahan!" Batin Gemini penuh harap.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah bertanya kepada pihak informan, mereka segera menuju ke ruang IGD. Dari kejauhan Gemini bisa melihat seorang pria berdiri di depan pintu ruang IGD dengan wajah datar. Gemini belum pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi wajahnya cukup mirip dengan Elbert hanya saja pria itu terlihat lebih dewasa dari Elbert yang baru berusia dua puluh tujuh tahun.
"Jacob," Monica langsung berhambur memeluk pria yang ia panggil Jacob itu.
"Jangan bersedih Mom! El akan baik-baik saja" Jacob memeluk erat Mommynya dan menenangkan wanita itu. Sekilas Jacob melirik ke arah Gemini dan tatapannya membuat Gemini bergidik dan merasa terintimidasi.
Seorang dokter keluar dari ruang IGD. Gemini dan Ibunya juga Jacob bersama Monica segera menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan adikku?" Tanya Jacob cemas dan Gemini baru tahu kalau Elbert punya seorang kakak. Selama ini Elbert tidak pernah menceritakan tentang pria itu kepadanya.
"Beliau sedang tidak baik-baik saja. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk bertahan. Jika beliau bisa melewati masa kritis ini, mungkin hidupnya masih bisa bertahan beberapa hari atau beberapa minggu lagi. Tapi tetap saja, saya hanya seorang dokter yang tidak berhak mendahului rencana Tuhan" jelas sang Dokter berusaha menyemangati.
"Jadi suami saya sekarang bagaimana Dokter?" Tanya Gemini tak dapat menahan air matanya lagi.
"Beliau saat ini sedang istirahat. Kita akan tunggu beberapa jam lagi sampai beliau sadar" jelas Dokter itu lagi. Keempat orang berbeda generasi itu hanya menghela nafas kasar karena gusar.
"Kalau begitu saya permisi" pamit Dokter itu lalu pergi.
Beberapa jam berlalu.
Monica masih menangis dalam pelukan putra sulungnya sedangkan Gemini ditenangkan oleh Ibunya. Jacob beberapa kali kedapatan melirik Gemini tidak suka. Gemini memilih mengabaikan hal itu karena pikirannya hanya tertuju pada sang suami yang belum tahu pasti keadaannya.
"Pihak keluarga Tuan Elbert?" Seorang perawat keluar dari ruang IGD.
"Saya...saya.." Jacob dan Gemini menjawab bersamaan dan beranjak ke hadapan perawat itu.
"Apa kalian yang bernama Jacob dan Gemini? Jika iya, Tuan Elbert ingin kalian masuk bersamaan" jelas perawat itu lalu sedikit menyingkir ke samping. Jacob dan Gemini pun masuk tanpa banyak bertanya. Sesampainya di dalam ruang IGD, terlihat wajah pucat Elbert sedang tersenyum.
"Sayang..." Elbert mengulurkan tangannya yang lemah dan Gemini segera menerimanya.
__ADS_1
"Jangan banyak gerak dulu!" Titah Gemini lembut.
"Jack, terima kasih!" Elbert juga mengulurkan tangannya yang lain dan Jacob langsung menyambutnya juga.
"Jangan konyol!" Ketus Jacob yang sudah terbiasa berbicara kasar kecuali kepada Ibu dan adiknya kecuali sekarang.
"Jack, boleh aku meminta sesuatu darimu? Permintaan terakhirku" tanya Elbert lirih dengan suara lemah.
"Jangan bodoh! Kau pasti bisa sembuh" ketus Jacob lagi sedangkan Gemini berusaha menahan kekesalannya melihat kakak iparnya kasar kepada suaminya. Elbert menggeleng sambil tersenyum manis.
"Boleh atau tidak, Jack?" Tanya Elbert lagi.
"Em..katakan saja! Jika aku bisa penuhi, akan kupenuhi" tegas Jacob terpaksa.
"Kau harus memenuhinya!" Titah Elbert penuh penekanan sedangkan Gemini terus mengelus kepala suaminya dan memberikan dukungan.
"Ya ya..katakan sajalah!" Titah Jacob tak mau kalah. Elbert tiba-tiba membawa tangan kakaknya dan istrinya lalu menyatukan tangan mereka.
"Nikahi Gemini setelah aku telah tiada nanti! Jaga dan lindungi dia seperti selama ini dia merawat dan menjagaku!" Titah Elbert penuh ketegasan.
"Kau...El, Elbert..." Geraman Jacob berganti dengan teriakan penuh kekhawatiran tatkala sang adik tiba-tiba seperti kesulitan bernafas dan tubuhnya melengkung tinggi ke udara lalu beberapa saat setelah itu terdengar bunyi pemantau detak jantung pertanda jantung Elbert telah berhenti berdetak.
"EL..ELBERT..." Gemini menangis meraung seraya menggoyangkan tubuh Elbert yang sudah tidak berdaya.
"Suster. panggil dokter!" Titah Jacob.
"Hentikan! Kau menyakiti adikku!" Jacob menangkap Gemini agar Gemini tidak semakin brutal untuk berusaha membangunkan Elbert.
"Lepaskan! Aku harus membangunkan suamiku!" Gemini meronta namun Jacob terus memeluknya erat. Bukan untuk menenangkan tapi untuk mencegah Gemini berbuat di luar batas.
Dokter sampai dan langsung memeriksa kondisi Elbert. Monica dan sang besan yang mendengar kericuhan dari dalam pun langsung masuk ke dalam ruangan itu. Monica seketika rebah pada besannya dan beruntung Ibu Gemini sanggup menopang tubuh Monica.
__ADS_1
"Maaf, Tuhan lebih menyayangi Tuan Elbert!"
...~ TO BE CONTINUE ~...