Iparku, Takdirku

Iparku, Takdirku
Perempuan Murahan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak meninggalnya Elbert. Gemini mau tak mau harus bangkit untuk melanjutkan hidupnya. Dengan pakaian formal serba hitam, ia kini berdiri di depan standing miror di dalam kamarnya. Wajahnya sengaja tidak ia poles apapun, tubuhnya menjadi lebih kurus dari seharusnya. Setelah dirasa siap, Gemini pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan dimana sang mertua dan kakak iparnya sedang menikmati sarapan mereka dengan tenang.


"Morning Mom" sapa Gemini setelah duduk di samping Monica berhadapan dengan Jacob.


"Morning" sahut Monica ceria. Sudah tidak ada lagi guratan sedih di wajah Monica, mungkin karena ada Jacob di sisinya.


Gemini pun menyantap sarapannya tanpa menghiraukan Jacob yang menatapnya sinis. Entah kenapa pria itu sangat tidak suka bahkan cenderung benci kepada Gemini. Padahal bertemu Gemini saja baru sejak minggu yang lalu. Gemini menyelesaikan kegiatan sarapannya lebih dulu.


"Mom aku berangkat dulu" pamit Gemini dan beranjak pergi setelah mendapatkan ijin dari Monica. Gemini pergi ke perusahaan tempat ia bekerja sebagai staff keuangan dengan mobilnya yang sudah diantar oleh sopir keluarganya ke rumah Monica. Sepanjang jalan Gemini hanya memasang wajah datar dengan pikiran yang berusaha membuang jauh kesedihannya karena bagaimanapun kehidupannya harus diteruskan.


Sesampainya di perusahaan Gemini pun langsung masuk ke dalam setelah memarkirkan mobilnya dengan benar. Semua pasang mata tertuju kepadanya dengan tatapan iba. Gemini memang agak tertutup dan pendiam di tempat kerjanya, jadi tidak banyak rekan kerjanya yang dekat dengannya. Mungkin hanya beberapa yang memang satu divisi dengannya.


"Gem, gue turut berdukacita ya. Maaf kemaren engga sempet melayat" Lisa menyambut Gemini dengan pelukan hangat. Lisa sebenarnya adalah rival cinta Gemini dalam memperebutkan Elbert, tapi Lisa mengalah saat melihat Gemini lebih kuat dan tangguh darinya dalam hal menemani dan mendampingi Elbert di masa sulit. Lisa hanya tersenyum menanggapi ucapan Lisa begitupun dengan ucapan rekan yang lain.


Tanpa ingin banyak bicara, Gemini segera memulai pekerjaannya yang sudah menumpuk karena mengambil cuti selama satu minggu ini. Gemini mengalihkan kesedihannya kepada pekerjaan berharap bisa membunuh sejenak derita hatinya.


••••••••••


"Jack, kau belum ke kantor?" Tanya Monica saat melihat putra sulungnya masih duduk santai di ruang keluarga.


"Aku sedang malas Mom. Lagipula ada Rei yang bisa aku percaya" Jacob menghela nafas kasar.


"Mom..." Lirih Jacob saat Monica duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Monica santai.


"Sebenarnya El mempunyai permintaan terakhir untukku" jelas Jacob dan langsung membuat Monica memicing karena penasaran.


"Apa?" Tanya Monica antusias.


"Dia memintaku menikahi istrinya" Jacob menengadah dan menyanggah kepala dengan lengannya.


"Well, Mom rasa itu ide yang tidak buruk. Gemini gadis yang baik, dia yang menemani adikmu melewati setiap masa sulitnya selain Mommy" dukung Monica pada permintaan mendiang Elbert.


"Darimana Mommy tahu dia masih gadis? Dan yang dia lakukan itu bisa saja hanya drama semata untuk mendapatkan aset milik Elbert" tuduh Jacob mendengkus.


"Jack, Mommy tahu Gemini itu seperti apa? Lingkaran pergaulannya sangat sehat dan satu lagi perempuan Indonesia tabu melakukan hubungan intim sebelum menikah. Jikapun ada yang melakukan hal itu sebelum menikah, itu bukan Gemini" Monica membela Gemini karena ia sudah sangat mengenal gadis itu. Selama bersama Elbert, Gemini pun selalu menjaga batasan kontak dengan fisik dengan lelaki itu.


"Ya, sangat mendukung. Percayalah dia gadis yang baik, tapi tanyakan hatimu Jack! Jangan lakukan jika kau tidak sanggup, El pasti akan mengerti hal itu" Monica menepuk pundak putranya untuk memberikan dukungan.


Jacob menghela nafas kasar. Sangat sulit ia menentukan pilihan, melaksanakan keinginan terakhir sang adik atau tidak. Jacob masih menjaga hatinya dari wanita manapun karena ada seseorang yang dia tunggu hingga saat ini. Konyol memang karena dia sendiri tidak tahu sudah seperti apa wujud gadis yang ia tunggu hingga saat ini. Hanya sekali pertemuan saat ia remaja dengan gadis kecil itu. Jacob yang kini sudah berusia tiga puluh delapan tahun menutup hatinya untuk siapapun. Tapi sekarang ia benar-benar dilema karena permintaan terakhir adiknya.


"Aku keluar sebentar Mom" pamit Jacob langsung pergi meninggalkan Ibunya.


••••••••••


"Gem, bentar lagi jam pulang. Kamu belum beres-beres?" Tanya Coki rekan kerja Gemini yang diam-diam menyimpan hati untuk gadis itu.

__ADS_1


"Bentar lagi. Kalian duluan aja kalo mau duluan" Gemini tetap fokus pada pekerjaannya.


Beberapa saat kemudian satu persatu teman kerjanya keluar meninggalkan kantor itu. Gemini masih sibuk bekerja, ia enggan pulang rasanya. Hanya pekerjaannya yang bisa membuatnya melupakan kesedihannya.


"Gem, belum pulang?" Atasan Gemini menghampiri gadis itu. Pria dewasa itu adalah teman dekat sekaligus sepupu Gemini, Tommy namanya.


"Belum Tom, pulang aja dulu. Enggak papa kok" Gemini sedikit tersenyum kecil kepada Tom. Tommy beranjak duduk di sudut meja Gemini dan menghadap gadis itu. Tangannya meraih tangan Gemini hingga membuat Gemini menghentikan pekerjaannya.


"Gem, jangan gini. Gimanapun kamu harus bisa bangkit. Tapi bukan dengan bekerja dan nyiksa diri seperti ini. Liat kamu sekarang kurus banget padahal baru satu minggu. Gem, inget kamu punya kita yang selalu ada buat kamu. Keluarga kamu terutama tante Lidya pasti akan ada buat kamu selama kamu membutuhkan kita" Tommy berusaha menghibur sepupunya itu. Tommy dan Gemini memang cukup dekat dibanding anggota keluarga yang lain.


"Makasih Tom" Gemini berdiri dan memeluk pria itu. Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang menatap tajam penuh kemarahan ke arah mereka.


"Ya udah, sekarang kamu matiin itu komputer dan pulang terus istirahat" titah Tommy tersenyum lalu beranjak meninggalkan Gemini setelah mengacak rambut Gemini hingga berantakan. Gemini melakukan perintah Tommy dan keluar meninggalkan ruang kerjanya.


"PEREMPUAN MURAHAN" teriak Jacob saat Gemini sudah di parkiran dan hendak masuk ke dalam mobil. Gemini mengurungkan niatnya dan berbalik menatap tajam pada Jacob sementara Jacob turun dari mobil menghampirinya.


"Adikku baru meninggal satu minggu dan kau sudah dengan santainya berpelukan dengan pria lain?" Jacob mencengkram kuat dagu Gemini dan membuat gadis itu meringis. Gemini tidak melawan, memang benar ia memeluk pria lain. Tapi yang Jacob tidak tahu adalah pria itu sepupunya.


"Kenapa diam? Tidak berani mengelak?" Jacob melepaskan tangannya dari dagu Gemini dengan kasar jingga wajah Gemini terpelanting ke samping. Jujur saja melihat mulut Gemini yang sedikit terbuka karena perlakuannya barusan sedikit banyak membuat hasratnya terpancing untuk menguasai bibir mungil itu. Gelanyar aneh yang baru pertama kali Jacob rasakan.


"Sudah selesai bertanya? Jika sudah, aku harus pulang sekarang" Gemini enggan merespon semua tuduhan Jacob. Jacob diam dan membulatkan matanya kaget dengan reaksi gadis itu. Setelahnya Gemini masuk ke dalam mobil dan berlalu meninggalkan Jacob.


"Perempuan itu benar-benar harus aku beri pelajaran" Batin Jacob segera menyusul Gemini.

__ADS_1


__ADS_2