
"Mark, aku mohon jangan seperti ini!" Luisa berusaha menghentikan langkah Mark yang ingin keluar dari kamarnya.
"Pergilah jika kau ingin pergi! Aku bisa sendiri tanpa siapapun" Mark dengan nada datar dan dingin lalu keluar dari kamarnya.
"Mark..." Ucap Luisa dengan nada lirih. Luisa beranjak dari balkon dan mengenakan pakaiannya yang berceceran di lantai. Setelah itu ia keluar dari kamar Mark dan masuk ke kamarnya sendiri. Bertahun-tahun ini ia memang tinggal berdua dengan Mark. Luisa sendiri yang memutuskan untuk terikat dengan Mark meski tidak mungkin untuk pria itu melihatnya sedikit saja. Luisa mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Dad..." Sapa Luisa dengan nada lirih.
"Kau kenapa sayang?" Tanya seorang pria yang adalah Ayahnya.
"Dad, maaf. Sepertinya aku belum bisa pulang untuk dua bulan ke depan. Tapi aku janji akan meng-handle perusahaan Daddy dari sini" Luisa berusaha menegaskan nada bicaranya agar Ayahnya tidak tahu ia sedang menahan tangis.
"Em...baiklah sayang. Daddy tetap akan menunggu kau pulang kapanpun itu" sang Ayah terdengar begitu berat merelakan putrinya menunda kepulangannya.
"Maafkan aku Dad. Em...aku masih ada pekerjaan, aku tutup dulu" Luisa memilih mengakhiri panggilannya apalagi saat ia mendengar suara batuk Ayahnya.
"Maafkan aku Daddy" Luisa terisak dan memegangi dadanya yang terasa sesak. Asyik menangis, Luisa merasakan sepasang tangan kekar melingkar di tubuhnya.
"Aku akan ikut denganmu" suara berat itu terdengar begitu merdu di telinga Luisa.
"Tapi Mark..."
"Jika kau tidak bisa tinggal, maka aku yang akan ikut denganmu" Mark menatap dalam sepasang mata hijau itu.
"Jangan. Kau tidak akan betah di sana. Daddyku sangat cerewet dan dia pasti akan terus menyuruh kita menikah. Kau tahu kan dari dulu dia selalu..."
"Aku tidak keberatan" Mark kembali memotong perkataan Luisa.
"A-apa maksudmu?" Tanya Luisa dengan degup jantung mulai tidak karuan. Mark melepaskan pelukannya dari Luisa dan duduk di samping Luisa. Mark meraih kedua tangan Luisa ke dalam genggamannya.
"Aku tahu..." Satu tangan Mark kini menyentuh pipi Luisa.
"Aku tahu selama ini kau diam-diam mencintaiku. Karena itu kau bertahan dengan segala sifat burukku. Kau berusaha untuk melakukan segalanya untukku agar aku bisa melihatmu sedikit saja. Luisa, aku pernah ditinggalkan dan aku tidak berani untuk mengejar. Tapi aku tidak ingin ditinggal untuk kedua kalinya. Jika kau memang harus pulang, maka izinkan aku ikut denganmu. Aku ingin mengenal Ayahmu, pria yang sudah membesarkan putrinya menjadi seorang wanita yang hebat" Mark mengecup kening Luisa dalam-dalam.
__ADS_1
"Mark..." Luisa mencubit lengan pria itu sangat kuat.
"Arghh...apa-apaan kau?" Mark menepis tangan Luisa. Lengannya seketika menjadi merah dan terasa begitu nyerih serta panas.
"Aku tidak mimpi?" Tanya Luisa masih tidak percaya. Mark nya ingin masuk lebih jauh ke dalam kehidupannya, benarkah? Mark nya ingin ikut bersamanya?
"Kau tidak mimpi, sayang. Aku serius..." Mark kembali meraih tangan Luisa.
"Aku ingin hidup lebih baik. Jika Jacob bisa, aku juga harus bisa" Mark tersenyum pada Luisa.
"Mark, kau tidak perlu bersaing dengan Jacob. Kalian itu saudara meskipun berbeda Ibu, jadi seharusnya kalian saling mendukung bukan bersaing. Jacob saja tidak pernah merasa keberatan menganggapmu adiknya meski memang dia sedikit cuek" Luisa berusaha untuk membujuk pria keras itu. Selama ini memang Mark yang selalu ingin bersaing dengan Jacob dan Jacob yang sebenarnya banyak mengalah.
"Em..." Mark menarik Luisa masuk ke dalam pelukannya.
"Ajari aku mencintaimu dengan benar. Apa kau mau memulai hubungan kita dari awal? Memulai semuanya dengan lebih baik" pinta Mark lembut. Entah setan apa yang merasuki pikiran pria itu hingga tiba-tiba berubah begitu saja. Jelas Luisa tidak akan melepaskan kesempatan ini.
"Em...aku akan mengajarimu" Luisa mengangguk semangat dan memeluk Mark tak kalah erat.
"Semoga saja keputusanku kali ini benar-benar tepat dan aku tidak akan menyesalinya" batin Mark.
"Sayang, sudah?" Jacob yang sudah datang ke toko kue Gemini menghampiri istrinya yang sedang menyusun peralatan kuenya.
"Ah, sudah" Gemini mengelap tangannya dengan sapu tangan.
"Tante, mau ikutan?" Tanya Jacob pada Riska yang sudah mau naik ke kamarnya untuk beristirahat.
"Engga Jack, lain kali ajalah. Lagian engga enak gangguin orang pacaran. Tante naik dulu ya.." Riska tersenyum jahil dan segera naik ke kamarnya.
"Ayo sayang" Jacob mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Gemini. Mereka pun keluar dari toko kue itu dan berjalan kaki menuju ke cafe yang pernah mereka kunjungi tempo hari.
"Kita langsung saja ke lantai atas. Aku sudah booking meja untuk kita" Jacob menarik lembut tangan istrinya menuju ke lantai atas cafe itu.
"Mereka menyediakan meja untuk lantai atas juga?" Tanya Gemini bingung.
__ADS_1
"Sebenarnya tidak. Aku yang memesan khusus dan mereka tentu tidak keberatan" Jacob tersenyum bangga dan menuntun Gemini untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Ini luar biasa" Gemini begitu kagum melihat interior lantai atas cafe itu, begitu aneka barang-barang khas Indonesia yang tertata rapi di sana.
"Kau suka?" Tanya Jacob tersenyum.
"Suka. Oh sayang, kau benar-benar..." Gemini kehabisan kata-kata untuk memuji suaminya.
"Maka teruslah tersenyum dan jadi Geminiku selamanya" Jacob meraih tangan istrinya dan mengecup punggung tangan Gemini.
"Apa sudah mau memesan makanan?" Tanya Jacob melihat istrinya yang masih sibuk memperhatikan ruangan luas itu.
"Nanti saja. Aku ingin lihat-lihat sebentar" Gemini beranjak dari kursinya. Gemini memutari ruangan luas itu dan begitu bersemangat melihat semua barang-barang yang sudah sangat ia kenali dan ia pelajari saat masih sekolah dulu. Gemini berhenti saat pandangan melihat keluar kaca pembatas ruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Jacob memeluk Gemini dari belakang.
"Beberapa bulan lagi akan Natal. Tahun ini aku tidak merayakannya dengan keluargaku" Gemini tersenyum miris.
"Hei, aku ini sekarang keluargamu. Kita bisa melakukan panggilan video kepada mereka" usul Jacob.
"Em..benar. Tapi tetap saja rasanya berbeda" Gemini menjadi melow dan berbalik memeluk suaminya.
"Ehm...nanti pikirkan bagaimana. Masih ada beberapa bulan lagi. Sekarang lebih baik kita segera memesan makanan" Jacob menuntun istrinya untuk duduk kembali. Jacob menekan sebuah remot yang ia dapatkan dari pelayan tadi. Beberapa saat kemudian datang seorang pria berpakaian rapi menghampiri Jacob dan Gemini yang sibuk melihat buku menu.
"Kau ingin makan apa sayang?" Tanya Jacob.
"Aku bingung..." Gemini menutup buku menu dan melirik ke arah pria yang menunggu pesanan mereka.
"Frisco?" Gemini terbelalak melihat pria itu ternyata ia kenal.
"Gemini?" Pria bernama Frisco itu juga tak kalah kaget.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Jacob penasaran.
__ADS_1
"Kami..."
...~ TO BE CONTINUE ~...