Iparku, Takdirku

Iparku, Takdirku
Keteguhan Hati


__ADS_3

"Em..." Gemini berdeham pelan. Ia merasa tidurnya sedikit terganggu. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati Jacob masih menatapnya.


"Sayang, kenapa belum tidur?" Tanya Gemini mengelus pipi suaminya.


"Tidak bisa tidur" Jacob tersenyum menatap wajah ngantuk Gemini.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?" Gemini melirik ke arah jam dinding dan ternyata baru pukul satu dini hari.


"Entahlah. Aku juga bingung" Jacob merubah posisinya hingga terlentang. Gemini mendekat padanya dan memeluk pria itu.


"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Sebaiknya kau tidur sekarang!" Titah Gemini pada suaminya.


"Apa kau sungguh tidak bisa mengingat masa kecilmu sedikitpun?" Jacob mengusap pundak Gemini.


"Em...tidak ada satupun memori masa kecilku dari usia sebelas tahun ke bawah" Gemini mempererat pelukannya pada Jack.


"Jadi dia hanya punya memori ingatan dari usia dua belas tahun hingga sekarang? Sepertinya aku harus menyelidiki ini. Jika Gemini adalah gadis kecil itu, aku akan sangat bersyukur" batin Jacob.


"Gemini....sayang?" Jacob sedikit menepuk pundak istrinya tapi ternyata Gemini sudah terlelap lagi.


"Entah apa yang sudah terjadi padamu, tapi aku sangat berharap jika kau adalah gadis itu" Jacob mengecup kening istrinya dan mencoba untuk memejamkan matanya.


••••••••


"Mark, apa kau yakin benar-benar akan ikut denganku?" Luisa memperhatikan pria yang sedang sibuk mengemasi pakaian mereka ke dalam koper.


"Jika Mark sudah mengambil keputusan, dia akan tidak akan berbalik arah lagi!" Mark tersenyum tapi tidak dengan matanya yang menatap tajam pada Luisa.


"Terima kasih, Mark" Luisa menghampiri pria itu dan memeluknya.


"Tidak perlu! Yang seharusnya mendapatkan ucapan terima kasih adalah dirimu. Memendam perasaan begitu lama untukku, bertahan dengan segala sifat burukku, melakukan semua yang aku inginkan hanya untuk menyenangkan hatiku. Bahkan ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk semua itu" Mark mengusap punggung Luisa.


"Rasanya masih seperti mimpi. Mark-ku akan berbalik dan melihatku" Luisa menitikkan air mata haru.


"Jangan menangis Luisa, kau harusnya tersenyum. Tersenyum untukku" Mark melepas pelukan mereka dan menghapus air mata Luisa.

__ADS_1


"Tapi...bagaimana jika dia kembali dan meminta kesempatan sekali lagi darimu?" Luisa menatap Mark dengan tatapan sendu.


"Tidak akan ada ruang lagi untuknya setelah aku mengambil keputusan ini! Jadi jangan takut! Aku rasa kau cukup tahu aku seperti apa?" Mark tersenyum lagi seperti tadi.


"Kenapa kau selalu menatapku tajam seperti itu?" Protes Luisa mencubit hidung Mark. Sebenarnya Luisa menyukai tatapan tajam dari Mark, tapi wanita itu mencoba untuk membuat Mark bisa lebih cair.


"Bukan tajam Luisa! Ini adalah tatapan tegas untuk menyakinkan wanita pilihanku" Mark mengejar Luisa yang sudah berjalan ke luar balkon.


"Aku suka dan nyaman dengan posisi seperti ini" Luisa memejamkan matanya saat merasakan tangan Mark melingkar di perutnya.


"Luisa, apa kamar di rumah Ayahmu kedap suara?" Tanya Mark tiba-tiba.


"Kenapa memangnya?" Luisa mengernyit dan mendongak menatap Mark bingung.


"Tidak. Hanya saja aku takut saat kita bercinta, Ayahmu bisa mendengar suara seksimu" Mark tersenyum nakal.


"Jangan mulai Mark! Ayahku pasti akan menempatkan kita di kamar yang berbeda sekalipun dia tahu kita sudah sering melakukan itu" Luisa mendengkus kesal dengan otak mesum pria yang memeluknya itu.


"Aku bisa menyelinap ke kamarmu nanti, maka dari itu aku takut Ayahmu akan terkejut saat kau berteriak" tangan Mark sudah mulai nakal dan merambat ke mana-mana.


"Jadi kau belum hamil? Padahal aku sudah melepas alat kontrasepsiku dua bulan yang lalu" Mark tersenyum manis kali ini begitupun matanya yang juga ikut tersenyum.


"A-apa maksudmu? Kau ingin aku hamil? Hamil anakmu?" Tanya Luisa tak percaya. Jika Mark sudah begitu, itu artinya dia tidak bisa lagi meragukan keseriusan pria itu. Mark memang suka bermain wanita, tapi soal ucapan, pria itu tidak suka bermain-main.


"Ya. Bagiku wanita yang tepat untuk menjadi Ibu dari anak-anakku nanti adalah Luisa Anderson" Mark menarik wanita itu dan memeluknya erat. Luisa diam tidak tahu harus mengatakan apapun. Dia benar-benar tidak menyangka akan ada hari ini, rasanya Luisa tidak akan pernah melupakan hari ini.


"Mark, apa kau tidak ingin berpamitan dengan Jack?" tanya Luisa dengan hati-hati. Mark agak sensitif jika tentang Jacob.


"Ingin sebenarnya. Tapi aku takut istri galaknya itu mengusirku dengan sapu lagi" Mark mendengkus mengingat kejadian kemarin.


"Lagian kau terlalu iseng. Sudah tahu dia wanita kakakmu, masih saja ingin kau goda" Luisa terkekeh dan memukul pelan punggung Mark.


"Ah, bagaimana kalau kau temani aku saja. Jadi kita berdua akan sama-sama kena sapu ajaibnya itu. Kan dia juga tidak menyukaimu" usul Mark jahil.


"Dia tidak menyukaiku juga gara-gara dirimu yang menyuruhku menggoda suaminya. Ya sudah, nanti aku temani. Kita harus selalu bersama dalam suka dan duka kan?" Luisa kembali tersenyum. Wanita itu benar-benar tidak sanggup menyembunyikan kebahagiaannya.

__ADS_1


"Tidak nanti, kita pergi sekarang. Lebih cepat lebih baik, aku sudah tidak sabar ingin segera ikut ke Italia denganmu" Mark menarik Luisa keluar dari kamarnya turun ke bawah dan masuk ke dalam mobil. Mark segera mengendarai mobilnya menuju ke mansion Jacob. Luisa menggeleng tidak menyangka prianya jika sudah serius, benar-benar akan seserius itu.


Sepanjang jalan, Mark menggenggam erat satu tangan Luisa. Hanya melepaskannya saat akan merubah persneling transmisi mobilnya. Mereka akhirnya sampai di mansion Jacob. Keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion itu.


"Jack," sapa Mark pada Jacob yang baru turun dari kamarnya.


"Mark? Luisa?" Jack mengernyit bingung lebih tepatnya saat melihat Mark menggenggam tangan Luisa dengan begitu manis. Jacob tahu hubungan keduanya lebih dari teman, tapi baru kali ini Mark terlihat posesif pada Luisa.


"Masuklah dulu, kalian pasti belum sarapan" Jacob berjalan lebih dulu ke ruang makan di mana Gemini dan Bi Na sedang menata masakan yang sudah mereka masak ke meja makan.


"Pagi sayang," Jacob mengecup kening Gemini.


"Pagi" Gemini tersenyum dan menyendok nasi goreng untuk suaminya.


"Kau ingin apa?" Tanya Gemini pada Mark yang agak menunduk.


"Aku dan ingin meminta maaf" jawab Mark.


"Maksudku kau ingin makan apa? Nasi goreng atau nasi putih dengan sayur dan lauk?" Gemini mendengkus melihat tingkah Mark yang menurutnya sok polos.


"Ah itu, terserah saja" Mark tersenyum kaku pada kaka iparnya. Gemini hendak menyendok nasi goreng untuk Mark.


"Ah, tidak perlu Gem. Aku adalah tamu di sini, jadi cukup kau layani suamimu saja. Aku dan Luisa bisa sendiri" Mark menarik piring di depannya hingga menghentikan pergerakan tangan Gemini.


"Ya sudah, terserah kalian" Gemini duduk di samping Jacob dan mulai menikmati sarapannya.


"Gem, ini enak sekali. Apa boleh mengajariku memasaknya? Dari dulu Daddy suka sekali nasi goreng Asia terutama Indonesia. Tapi tidak ada yang bisa memasaknya, jadi Daddy hanya bisa menahan diri sampai ada waktu untuk berkunjung ke Indonesia" Luisa tersenyum girang.


"Kapan kau akan mempelajarinya? Kita akan segera pergi?" Mark berbisik pada Luisa.


"Pergi ke mana?" Tanya Jacob penasaran.


"Ke Italia"


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2