Iparku, Takdirku

Iparku, Takdirku
Kembali Ke Amerika


__ADS_3

"Hei bangunlah!" Jacob menepuk-nepuk pipi Gemini yang masih terlelap. Matahari sudah sangat tinggi tapi istrinya itu masih bertahan di dalam gulungan selimut.


"Hei wanita pemalas, bangun!" Jacob sekarang meninggikan suaranya dan menambah kekuatan tepukannya.


"Pergi! Jangan menggangguku! Puaskan saja dirimu di luar sana" Gemini menyahut teriakan Jacob tak kalah galak.


"Wanita ini benar-benar menguji kesabaranku" Jacob langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil satu gayung air.


BYURRRR


Jacob menyiramkan air itu ke wajah Gemini hingga Gemini tiba-tiba kaget dan meloncat terbangun dari tidurnya. Gemini menatap benci pada suaminya sementara Jacob bersidekap dan memandang rendah istrinya.


"Bangun dan segera bersihkan dirimu jika kau tidak ingin merasakan yang lebih menyakitkan dari ini" Jacob melempar gayung yang ia pegang tadi dan berjalan keluar ke balkon untuk menikmati rokoknya.


Cana mengelus dadanya dan menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin sekali berteriak dan membalas perlakuan suaminya itu, tapi ia harus menahannya. Menahan semuanya hingga batas akhir kesabarannya. Dengan sedikit gontai ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Jacob yang berada di balkon, menikmati rokoknya sambil memandang sebuah gelang yang ia kenakan. Sesekali ia tersenyum melihat gelang yang lebih mirip ikat rambut itu dan sesekali ia juga berbicara pada gelangnya.


"Kau di mana sekarang? Apa tidak bisa sekali saja, biarkan aku kembali melihatmu meski dari jauh seperti dulu?" Gumam Jacob kembali menghisap rokoknya dan memandangi awan-awan yang cerah.


Setengah jam, Gemini akhirnya keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe. Ia kini berdiri di depan lemarinya dan hendak mencari pakaian untuk ia kenakan. Matanya membulat saat melihat bercak-bercak merah begitu banyak di sekitar dadanya dan saat ia membuka bathrobenya, ternyata bercak merah itu menguasai hampir sembilan puluh persen tubuhnya.


"JACOB!" Gemini yang tengah kesal pun langsung menghampiri sang suami.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan pada tubuhku?" Tanya Gemini geram. Ia mengingat jelas tadi malam tubuhnya masih bersih karena setelah Jacob marah dan pergi, ia pun segera membersihkan diri dan beristirahat.


"Apa? Apa ada yang salah?" Tanya Jacob dengan santai sambil mematikan puntung rokoknya pada asbak yang tersedia.


"Kau! Berani-beraninya melecehkan tubuhku seperti ini!" Gemini menunjuk pria itu dan hendak menyerang Jacob. Namun dengan cepat Jacob berhasil menahan tangannya.


"Jangan lupakan statusmu wanita malas! Kau adalah istriku sekarang dan itu berarti secara otomatis tubuhmu juga milikmu" nada datar Jacob dan tatapan tajamnya mampu membuat bulu kuduk Gemini meremang. Jacob memperhatikan pemandangan di depannya, tubuh istrinya yang terekspos jelas untuknya.


Tanpa basa basi, pria berusia tiga puluh delapan tahun itu mengangkat tubuh Gemini ke atas meja yang ada di sudut balkon dan kembali menikmati tubuh istrinya. Meski hanya permainan bibir, tapi hal itu mampu membuat Gemini melayang hingga ke langit tertinggi. Jacob tersenyum saat mendapati istrinya benar-benar menikmati sentuhannya.


"Cepatlah bersiap! Pesawat tidak akan menunggu kita lebih lama" titah Jacob memberikan kecupan pada bibir Gemini.


"Pe-pesawat? Memang kita mau ke mana?" Tanya Gemini bingung sekaligus masih malu.


"Hei, jaga ucapanmu! Itu bukan banyak aturan namanya tapi kebudayaan dan sopan santun!" Gemini memberi pembelaan terhadap tanah kelahirannya pastinya.


"Terserah saja! Lima belas menit lagi jiks belum siap aku tinggalkan kau sendiri di sini!" Ancam Jacob lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Gemini mau tidak mau segera bersiap dan tidak peduli lagi jika suaminya melihatnya jelas. Toh, Jacob sudah merasakannya meski belum sepenuhnya, pikirnya. Sepuluh menit kemudian Gemini siap dengan sehelai dress berwarna putih tulang. Wajahnya tidak ia rias tapi hal itu justru membuatnya terlihat cantik natural.


"Sudah" Gemini berdiri di tepi ranjang menyentuh lengan kekar suaminya. Jacob terkesima melihat kecantikan istrinya yang begitu natural. Tidak seperti wanita-wanita di negaranya yang rata-rata sudah dipermak sana sini.


"Ayo" Jacob berinisiatif meraih tangan Gemini ke dalam genggamannya dan menuntun istrinya keluar dari kamar hotel itu. Ia bahkan tanpa ragu memegangi tas selempang istrinya. Barang-barang mereka sebenarnya sudah ia kemaskan tadi malam sesaat setelah ia kembali dari mengurus keberangkatannya hari ini bersama Gemini.


"Jack, aku belum pamit dengan Ibuku" rengek Gemini namun tidak terdengar manja.

__ADS_1


"Aku sudah menyampaikan padanya" Jacob sedikit tersenyum pada istrinya. Mungkin sekarang sedang berada di tempat umum jadi suaminya harus berakting menjadi suami yang baik, pikirnya. Gemini hanya tersenyum tipis menanggapi Jacob, bahkan untuk berpamitan dengan Ibunya sendiri sebelum berangkat pun ia tidak bisa. Meranalah hidupmu Gemini, batinnya mengutuk dirinya sendiri.


Jacob dan Gemini kini sudah berada di dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara. Di luar dugaan, Jacob masih menggenggam erat tangan istrinya sedangkan tangan satunya memainkan ponsel untuk mengurus pekerjaannya.


"Sa-sayang, aku lapar" rengek Gemini sambil menepuk perutnya. Jacob tersenyum tipis saat mendapatkan panggilan sayang, namun ia segera membuang senyumnya.


"Makan di dalam pesawat saja" ucap Jacob dingin sambil memasukkan ponselnya ke dalam jaket kulit yang ia kenakan. Gemini berinisiatif bersandar pada dada bidang suaminya sambil memeluk lengan kekar Jacob.


"Aku tahu kau tidak mencintaiku dan menikahiku hanya karna ingin memenuhi permintaan terakhir Elbert. Tapi sekarang kita adalah suami istri dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu" Gemini tersenyum memejamkan matanya. Entah angin apa yang merasuki otak Jacob, pria dingin itu membawa tangannya untuk mengelus rambut panjang istrinya yang sangat harum itu.


Mereka akhirnya sampai di bandara. Sepasang suami istri itu turun dari mobil dan masuk ke dalam bandara. Gemini melihat sekelilingnya dan beberapa kali mendesah kecewa.


"Apa tidak ada seorangpun yang mengantar kita?" Protes Gemini tidak terima. Jacob menyentil kening istrinya dengan cukup kuat.


"Kau pikir kau anak kecil? Kau bahkan sudah bisa mendesah saat arghhhh...." Ucapan Jacob terhenti saat Gemini menginjak kakinya dengan sangat kuat.


"Saring ucapanmu Tuan mesum!" Tunjuk Gemini pada bibir Jacob.


"Tunggu saja bagaimana aku akan menghukummu nanti di sana! Tidak ada yang akan membantumu di negaraku!" Ancam Jacob dengan tatapan sinisnya pada sang istri. Gemini hanya menjulurkan lidahnya untuk meledek pria itu.


Setelah mereka melakukan check-in dan validasi tiket dan sebagainya, mereka pun di arahkan masuk ke dalam pesawat kelas VIP. Tak lama setelah itu pesawat yang mereka tumpangi pun lepas landas. Gemini duduk diam dan pasrah sambil menikmati hidangan yang disajikan untuknya.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2