
"Selamat Tuan Jacob. Aku benar-benar menantikan hari ini, akhirnya bisa melihatmu menjadi arsitek utama untuk proyek kali ini" Tuan Lee menyalami Jacob. Mereka baru saja selesai menandatangani kontrak untuk pembangunan sebuah Mall di pulau pribadi milik Tuan Lee.
"Terima kasih untuk kepercayaan anda, Tuan Lee" Jacob tersenyum diikuti oleh Stevi, sekretarisnya.
"Kalau begitu aku pamit undur. Lain kali kita adakan jamuan makan malam bersama, sekarang aku harus menjemput istriku" Tuan Lee pun pamit meninggalkan Jacob dan Stevi.
"Tuan, apa anda ingin kembali ke kantor atau..."
"Aku ingin menemui istriku dan menyampaikan kabar baik ini" Jacob merapikan jasnya dan mulai melangkah keluar. Stevi tersenyum, ia tidak menyangka pada akhirnya bosnya itu bisa benar-benar memperhatikan seorang wanita. Tidak seperti selama ini, Jacob hanya berkencan singkat.
"Baik Tuan, kalau begitu aku akan kembali ke kantor" Stevi membungkuk dan berjalan ke arah yang berbeda.
Jacob masuk ke dalam mobilnya dan menghidupkan mesin mobilnya. Setelahnya ia pun meluncur ke toko kue Gemini. Senyumnya tak pernah pudar tatkala memikirkan sang istri. Sepertinya kali ini Jacob benar-benar jatuh dalam pesona Gemini.
"Ah...sebaiknya aku bersikap lebih manis mulai sekarang kepada istriku" Jacob menepi dan berhenti di depan sebuah toko bunga. Jacob memilih beberapa jenis bunga untuk dipadukan dalam satu buket karena ia tidak tahu istrinya menyukai bunga apa.
"Apa perlu kartu ucapannya, Tuan?" Si pegawai toko bunga bertanya dengan sopan.
"Tidak perlu. Mengungkapkan secara langsung akan lebih terasa manis" Jacob tersenyum dan membayar sejumlah uang untuk bunga yang ia beli. Ia pun melanjutkan perjalanannya kembali. Sesekali Jacob bersiul dan jarinya memukul setir mobilnya hingga menciptakan nada tak beraturan.
Jacob sampai di depan toko kue Gemini. Ia memarkirkan mobilnya dengan benar agar tidak mengganggu pengguna jalanan lainnya atau seseorang yang akan datang.
"PERGI DARI TOKOKU!" Terdengar suara Gemini seperti sedang membentak seseorang.
"What the..." Jacob tertegun saat melihat istrinya sedang memukul seorang pria menggunakan sapu. Dan pria itu adalah Mark, adik tirinya.
"PERGI DAN JANGAN PERNAH MENGGANGGUKU LAGI!" Bentak Gemini lagi.
"Sudah kukatakan Mark, istriku bukan wanita sembarangan yang bisa kau rayu dengan mudah" Batin Jacob seolah berbicara pada Mark. Jacob memutuskan untuk menunggu Mark benar-benar pergi, barulah ia melangkah masuk ke dalam.
"Gem..." Riska yang hendak memberitahukan kedatangan Jacob kepada Gemini pun tidak jadi karena Jacob memberi kode agar diam.
"Iya tan?" Gemini yang sedang membelakangi Jacob tidak tahu sama sekali suaminya sedang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Engga jadi. Tante ke belakang dulu ya" Riska pun beranjak meninggalkan dua sejoli itu.
"I miss you" Jacob memeluk istrinya dari belakang dan satu tangannya memberikan bunga yang tadi ia beli ke depan wajah Gemini.
"Sayang?" Gemini berbalik dan memeluk suaminya, mengabaikan bunga yang masih Jacob pegang.
"Syukurlah kau datang. Jadi moodku bisa sedikit lebih baik" Gemini menghirup dalam aroma maskulin dari tubuh suaminya.
"Kenapa memangnya? Siapa yang mengganggumu?" Tanya Jacob pura-pura.
"Siapa lagi kalau bukan adikmu itu" Gemini memanyunkan bibirnya membuatnya terlihat menggemaskan.
CUP
Jacob memberikan satu kecupan manis di bibir istrinya.
"Sudah, jangan dipikirkan. Ini, tanganku sudah pegal" Jacob kembali memberikan buket bunganya kepada Gemini.
"Terima kasih. Tumben banget pake beliin bunga" Gemini dengan berbahasa Indonesia.
"Oh..selamat sayang" Gemini mengalungkan tangannya ke leher Jacob dan berinisiatif memberikan sebuah ciuman panas pada pria itu. Ini negara bebas, jadi tidak akan ada yang peduli atau protes akan apa yang Gemini lakukan.
"Jadi, traktir aku makan apa malam ini?" Gemini mengedipkan matanya dan itu terlihat sangat lucu di mata Jacob.
"Makan apa ya? Makan aku aja, mau?" Jacob tertawa renyah. Baru kali ini Gemini melihat pria di depannya itu tertawa begitu lepas.
"Ye, kan udah hampir tiap malem. Lagian belum boleh tau, aku belum bersih" Gemini menunduk malu-malu.
"Okay, tunggu udah bersih kita lakuin yang sedikit menantang. Em, kita makan di cafe kemarin lagi mau? Aku mau ajak kamu liat pameran di lantai atasnya" Jacob mencubit pelan hidung Gemini.
"Mau" Gemini mengangguk semangat.
"Ya sudah, setelah kau tutup nanti kita pergi bersama. Sekarang aku harus kembali ke kantor" Jacob kembali menarik istrinya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Hati-hati. Titip salam untuk Stevi" Gemini menenggelamkan wajahnya pada dada Jacob.
"Ya sudah, aku pergi dulu" Jacob mengecup kening istrinya dan beranjak pergi setelah mendapat ijin dari Gemini.
••••••••••
"SIAL!" Mark membanting laptopnya hingga jatuh dan rusak di lantai.
"Wanita itu benar-benar menjatuhkan harga diriku" Mark menjambak rambutnya penuh amarah.
"Oh Mark, ada apa?" Luisa masuk ke dalam ruangan kerja Mark dengan raut wajah cemas.
"Pergi Luisa! Aku sedang tidak ingin diganggu!" Bentak Mark membuat Luisa memejamkan matanya.
"Mark, jangan seperti ini! Kemarahan tidak akan menyelesaikan apapun" Luisa berusaha mendekati pria yang diam-diam ia cintai itu. Mark menatap Luisa dengan tatapan tak biasa.
Pria itu menarik Luisa hingga menabrak dada bidangnya. Satu tangannya mengangkat dagu Luisa dan segera mengunci bibir Luisa dengan bibirnya. Luisa pasrah dengan setiap yang Mark lakukan pada tubuhnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar tetap berada di dekat Mark. Mark mendorong Luisa ke atas ranjang kembali melanjutkan aksi panasnya.
"Tubuhmu benar-benar luar biasa, Luisa!" Puji Mark yang sudah berbaring di samping Luisa dan memeluk wanita itu.
"Nikmati saja jika kau ingin kapanpun" Luisa memasang senyum terbaiknya meski tidak dengan hatinya. Bertahun-tahun ia bertahan di samping Mark dan berharap pria itu melihatnya sedikit saja. Tapi semua itu hanya harapan semu Luisa. Mark hanya menganggapnya penghangat ranjang dan wanita yang bisa ia suruh kapanpun ia butuhkan tenaga dan kecerdasannya.
"Hah..." Mark bangun dari baringnya dan melilit pinggangnya dengan handuk lalu berjalan ke luar balkon. Mark membakar sebatang rokok dan menghisapnya dalam.
"Seandainya kau tidak meninggalkan rasa sakit ini untukku, mungkin saat ini aku bisa memilih seseorang yang tepat untukku. Tapi kau membuatku membenci untuk mencintai. Kim..."
"Mark..." Luisa memeluk pria itu dari belakang. Mark tidak bergeming.
"Aku...aku akan kembali ke Italia dua bulan lagi" Luisa mengatakan hal itu dengan terbata. Mark langsung berbalik dan mencengkram bahu Luisa.
"Kenapa? Kau juga akan meninggalkanku seperti dia?" Geram Mark tidak terima dengan pernyataan Luisa.
"Tidak Mark. Aku hanya..."
__ADS_1
"PERGI! PERGI!"
...~ TO BE CONTINUE ~...