Iparku, Takdirku

Iparku, Takdirku
Akting yang bagus


__ADS_3

"Kenapa kamu tega ninggalin aku seperti ini El?" Tanya Gemini dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Pemakaman Elbert telah selesai beberapa jam yang lalu. Dan saat ini Gemini sedang berasal di dalam kamar hotel yang dihias khusus untuk malam pengantinnya. Tapi nasib baik tak berpihak padanya kali ini, sang suami yang baru menikahinya beberapa jam yang lalu harus pergi meninggalkannya untuk selamanya. Gemini hanya mampu menangis memeluk foto pernikahannya dan gaun pengantinnya.


"Kita baru akan memulai kisah bahagia kita, tapi kenapa kamu harus pergi secepat ini?" Gemini tidak bisa untuk tidak menangis. Mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Elbert satu setengah tahun yang lalu. Mereka berkenalan di sebuah acara yang diselenggarakan oleh rekan kerja perusahaan mereka yang kebetulan sama. Mereka mulai dekat dan berteman hingga enam bulan setelahnya Elbert menyatakan perasaannya pada Gemini dan Gemini menerima tanpa ragu meski ia tahu Elbert bukan pria yang sempurna. Saat itu ia sudah tahu kalau Elbert punya penyakit Leukimia stadium tiga, tapi karena perasaan cintanya pada lelaki itu, Gemini tidak ragu menerima cinta Elbert. Gemini berusaha menjadi yang terbaik untuk Elbert, menemani Elbert melewati setiap masa sulit dan kesakitannya.


Tanpa pernah bersungut-sungut sedikitpun. Monica yang menjadi Ibu Elbert pun takjub melihat ketulusan gadis itu. Gemini benar-benar berjuang bersama Elbert memberikan kekuatan kepada Elbert untuk melewati setiap rasa sakitnya. Tapi saat ini Gemini merasa semua perjuangannya sia-sia, lelaki yang sangat ia cintai itu telah pergi selamanya dan malah meninggalkan sebuah keinginan yang jelas tidak mungkin untuk Gemini penuhi.


Menikah dengan Jacob yang notabenenya adalah kakak iparnya. Gemini tidak mengenal pria itu bahkan belum pernah tahu apapun tentang Jacob. Ia sebenarnya penasaran kenapa Elbert tidak pernah menceritakan tentang Jacob padanya, tapi semua itu tidak penting sekarang. Seandainya Jacob benar-benar akan memenuhi keinginan terakhir sang adik, sanggupkah ia menjadi seorang suami? Sanggupkah Gemini menjadi seorang istri yang baik untuk iparnya? Gemini tidak bisa menjawab apapun.


"Gem..buka pintunya" terdengar suara ketukan serta suara Ibunya memanggil.


Gemini enggan bergeming. Ia sungguh sedang tidak ingin diganggu. Ia ingin sendiri bahkan jika diijinkan, ia ingin menyusul suaminya. Entah ke neraka atau ke surga ia tidak peduli. Kehilangan Elbert benar-benar membuat hidupnya terguncang. Ia yang benar-benar sedang berada di atas awan beberapa jam yang lalu, kini merasa berada di dalam jurang paling dalam dan gelap.


"Bawa aku untuk suamiku, Tuhan!" Batin Gemini begitu terpukul dan sangat sulit menerima kenyataan.

__ADS_1


"Gemini Widianto, buka pintunya!" Kini terdengar suara Monica memanggil dengan lantang. Gemini tetap tidak bergeming. Ia setia memeluk foto pernikahannya dan gaun pengantinnya erat-erat.


BRAKK


Pintu kamar Gemini dibuka dengan begitu kasar. Meski begitu, Gemini tetap tidak terpengaruh. Ia bahkan tidak berminat untuk sekedar melihat siapa yang masuk ke dalam kamar itu.


"Bereskan barangmu dan ikut kami pulang sekarang!" Suara Jacob begitu otoriter. Terdengar sekali Jacob tidak terlalu fasih logat bahasa Indonesia, tidak seperti Elbert dan Ibu mereka yang sudah menetap di Indonesia beberapa tahun terakhir.


"Aku tidak akan kemanapun" tolak Gemini masih setia terisak.


"Lepaskan aku!" Gemini berhasil melepaskan cengkraman tangan Jacob dengan sekali hentakan. Dengan perasaan marah sekaligus keadaan yang masih berduka, Gemini mengambil kopernya yang sudah ditata rapi oleh seorang pelayan keluarga Jacob beserta gaun pengantin dan foto pernikahannya lalu melangkah keluar dari kamar itu dengan wajah sangat datar tanpa ekspresi. Gadis yang tengah mengenakan pakaian serba hitam itu seolah kehilangan sumber kehidupannya.


Mereka berempat berjalan masuk ke dalam lift untuk menuju ke basement hotel. Lidya, Ibu Gemini meminta ijin untuk kembali ke rumahnya tatkala mereka telah sampai di basement hotel. Gemini ingin ikut Ibunya tapi Lidya melarang, bagaimanapun juga Gemini adalah menantu keluarga itu sekarang, dan biarlah Gemini menyelesaikan masalahnya dulu jika memang ingin kembali ke rumah. Lidya pergi lebih duluan bersama sopir keluarga mereka. Gemini dan Elbert memang sama-sama tidak mempunyai Ayah lagi. Gemini pun akhirnya ikut pergi bersama Monica dan Jacob.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan Gemini tetap setia memeluk gaun pengantin dan foto pernikahannya seperti yang ia lakukan saat di dalam kamar hotel tadi. Jacob yang beberapa kali melirik dari kaca spion pun tersenyum meledek seolah Gemini hanya bersandiwara. Jacob benar-benar tidak percaya jika Gemini tulus mencintai adiknya yang seorang pesakit bahkan ketika Gemini tahu akan hal itu. Maka dari itu Jacob sempat berselisih paham dengan Elbert hingga ia tidak ingin datang ke pernikahan adiknya. Bagi Jacob cinta sejati itu hanya omong kosong, jika cinta sejati itu ada dia pasti bisa bersatu dengan cintanya, pikirnya.


"Gemi, inilah rumahmu sekarang" Monica merangkul pundak menantunya lalu menuntun Gemini masuk ke dalam rumah. Gemini menuruti langkah kaki Ibu mertuanya meski rasanya ia ingin sekali lari dari rumah itu. Terlalu banyak kenangannya bersama mendiang sang suami di sana. Momen-momen ketika tertawa bersama Elbert, menemani Elbert, merawat Elbert setelah menjalani kemoterapi, dan semua hal yang ia lakukan bersama mendiang suaminya kembali berputar di otaknya.


Bolehkah Gemini mengatakan Tuhan itu tidak adil? Selama ini Gemini berusaha menjadi gadis yang baik dan tidak tercela, tapi kenapa ia harus merasakan sakit seperti ini? Ia ditinggal Ayahnya saat masih kecil jadi ia belum terlalu memahami keadaan saat itu. Tapi sekarang ia mengerti segala hal, segala rasa sakit. Dan kehilangan Elbert membuat semua mimpi indahnya hancur berantakan. Ia dan Elbert sudah merencanakan begitu banyak hal untuk masa depan mereka, sayangnya semua itu harus Gemini kubur dalam saat ini.


"Istirahatlah!" Titah Monica lembut setelah mengantar Gemini ke dalam kamar yang sejatinya adalah kamar pengantinnya dan Elbert. Gemini hanya tersenyum menanggapi Ibu mertuanya sedangkan kakak iparnya sudah tidak kelihatan dan Gemini tidak peduli pada pria itu. Gemini masuk ke dalam kamar setelah Monica pamit untuk beristirahat.


Air mata Gemini yang sempat kering kembali menetes hingga membasahi wajah cantiknya yang sudah sangat sembab. Dipeluknya lagi kedua barang berharganya yang tidak akan pernah ia buang kemanapun. Gemini ingin menyusul sang suami, tapi nyalinya tidak sebesar itu untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Gemini menangis dan terus menangis pilu dan tidak tahu ada seseorang yang mendengar jerit tangisnya di luar kamarnya.


Jacob mendengar suara penderitaan itu. Bukannya iba, ia justru tersenyum miring seolah sedang meremehkan sebuah pertunjukan drama. Tadi ia ingin membahas masalah permintaan terakhir sang adik dengan adik iparnya, tapi ia mengurungkan niatnya dan membiarkan Gemini meneruskan tangis penderitaannya yang ia anggap sebagai sebuah drama.


"Benar-benar akting yang bagus!" Batin Jacob dan berlalu dari kamar itu.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2