
Setelah proses pernikahan dengan segala tradisi, ngunduh mantu, nginep di rumah mertua dan sebagainya. Kini Kokom dan Baskoro pindah kerumah baru yang di kredit Baskoro. Rumah KPR yang ada di tengah desa.
Tempatnya asri, sejuk dan belum banyak penghuninya.
Alasan pertama Baskoro ambil rumah ini adalah jarak dekat ke kantornya dan juga lebih murah cicilannya. Walau harus berada di area lingkungan pedesaan, bukan seperti perumahan pada umumnya yang ada di pinggir jalan kota.
"Hah.. lelahnya.." keluhku setelah menyelesaikan semua pekerjaan.
"Mas, mau kemana?." aku melihat suamiku langsung bergegas ambil handuk yang ku jemur di jemuran.
"Aku mau kerja, ada panggilan." jelasnya.
Suamiku itu sibuknya gak kalah dari seorang dokter, gimana gak coba dia harus langsung datang ketika di telpon. Ya namanya juga teknisi apartemen mewah di sebrang jalan kota sana.
"Yo Mas.. itu kaki di lap dulu toh. Kan keset aku sudah simpan di setiap, pintu." teriakku.
"Ya, ya udah toh. Aku sudah lap." bantahnya sambil kembali ke keset mengelap kasar kakinya.
Aku mendengus kesal lihatnya.
Aku yang sedang menyandarkan tubuhku pada bangku bale kebanggaan ku, terpaksa bangkit dan mengelap tapak kaki Mas Baskoro.
__ADS_1
Prak ...
"Yo astaga, Mas. Simpan lah handuknya di jemuran, memang mau di pakai selimut simpan di atas kasur. Basah itu Loch, Mas." lagi lagi aku harus berteriak.
"Ya, Dek. Sebentar toh, Mas lagi menyisir rambut." tanpa rasa bersalah dia terus menata rambutnya dengan menambahkan pelumas rambut.
"Ya kalau nanti keburu basah kasur, Mas." aku mengambil handuk yang tergelak itu.
"Ya kan tinggal di ambil Loch, Dek. Gampang gak usah marah nanti keriput Loch." sambil terus bercermin dia berbicara seenaknya.
Aku melibas handuk dengan kasar mengenai kepalanya.
"Kusut lagi dong Dek rambut, Mas mu."
"Mas berangkat, Dek." menyodorkan tangannya.
Kebiasaan ku bersalaman dan di kecup kening olehnya sebelum berangkat.
"Assalamualaikum.. hati hati di rumah ya, Dek."
Aku jadi ngeri dengan ucapannya. Karna rumah KPR yang kami tempati masih jarang penghuni.
__ADS_1
"Apa si, Mas. Jangan nakutin aku lah. Mas pulang cepat, kan hari ini masih hari libur Loch, Mas." ucapku sambil melirik sekelilingku. Bersyukur di kanan kiri ku ada rumah berpenghuni, di depanku juga sudah terisi.
"Mas usahakan ya." Mas Baskoro pergi dengan sepeda motornya.
Aku kembali bersantai sambil meneruskan pekerjaan yang lain.
Rumah yang ku tempati hanya memiliki satu kamar. Memudahkan ku membersihkannya.
Ku tata baju baju yang masih tersisa di dalam koper. Tak lupa mendengarkan musik dari aplikasi Taktok yang sedang ngetren masa ini.
Ku pajang foto foto pernikahanku. Aku tertawa geli kala ingat hari di mana mengenal Mas Baskoro.
"Gak di sangka ya, Mas. Kita bisa menikah. Padahal kita musuh buyutan Loch, ya." aku mengusap wajah suamiku di dalam foto.
Perutku berbunyi, sepertinya cacing cacing sudah lapar.
Aku beranjak menuju dapur yang berdekatan dengan kamar mandi, kurang luar yang artinya sempit. Haha
"Astaga... aku lupa belum masak nasi." aku menepuk jidatku. Perut sudah disko, nasi belum ada. Sepertinya lauk pauk pun aku belum sempat masak.
"Cari makan keluar aja deh.. Dari pada mati kelaparan." aku beranjak keluar rumah.
__ADS_1
Ku lirik kanan kiri, tidak ada warung nasi.
Warung sayur pun tidak ada. Ya karna baru beberapa rumah yang mengisi mana mungkin ada warung nasi.