ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
DARAH TINGGI


__ADS_3

Hari ini jadwal mengecek kandungan istriku.


Kami duduk menunggu antrian yang lumayan panjang.


'Banyak juga yang hamil, ya. Kalau lahir bersamaan apa gak mabok Dokter sama bidannya.' tawaku dalam hati. Ada aja pikiranku ini melantur.


"Kamu mau minum atau makan apa dulu, sayang? Antrian kita masih lama." tak tega aku melihatnya bersandar di penyangga kursi sambil terus mengusap perutnya yang bulat.


"Yang dingin, segar boleh, Mas." ucapnya ambigu.


'Perkara ini ni, yang bisa membuat perang dunia lagi.'


"Jus jeruk mau, sayang." tanyaku dengan suara menekan turun. Aku harus meredam volume suaraku di depannya.


"Ya, boleh. Sekalian roti ya, Mas. Biasa rasa keju." dengan suara mendesah. Mungkin perutnya sudah tak nyaman duduk lama di kursi yang keras ini.


"Ya, sayang. Mas belikan dulu. Kalau ada apa yang lain, kirim pesan ya." ku usap perutnya yang terasa keras. Si kembar sedang berulah di dalam, membuat ibunya kesulitan. Dia mengangguk.


Istriku terlelap di kursi tunggu, kecapekan sepertinya. Aku menyandarkan kepalanya pada pundak sambil mengusap perutnya yang bentuknya seperti terbelah dua.


"Anak anakku sedang apa di dalam sana, sudah tidak sabar aku menunggu mereka. Bulan depan kita bertemu ya, sayang sayangku."


Antrian pemeriksaan tinggal beberapa nomor lagi. Waktunya masih cukup buat mereka istirahat.


Aku senang memotret bentuk perut istriku yang berubah berubah. Momen itu tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya, walau nanti mungkin ada kehamilan berikutnya.


Membuat memori untuk di kenang adalah kewajiban.


"Sayang, bangun. Waktunya kita masuk untuk periksa." aku menepuk pipinya lembut.


****


"Silahkan Ibu, Bapak.. Bagaimana keadaannya sekarang?." sapa Dokter Ayu.


"Baik, Dok. Alhamdulillah." ucapku.


Dokter mengangguk dengan senyuman, "Ada keluhan apa saja yang di rasa saat ini, Bu?." menatap istriku yang baru bangun tidur masih agak melongo.


"Ah, biasa Dokter. Capek, pinggang sakit, kepala suka pusing, Dok. Susah tidur kalau malam, sering mondar mandir ke toilet." keluh istriku.

__ADS_1


"Bagus kalau gitu, Bu. Itu hal biasa di alami ibu hamil pada trimester ketiga. Sudah tes laboratorium?." Dokter menulis catatan di rekam medik.


"Sudah, Dok. Ini hasilnya." aku menyerahkan lembaran hasil cek laboratorium kemarin lusa.


Dokter membaca dengan teliti, tiba tiba raut wajahnya berubah tegang.


"Tadi sudah melakukan pengukuran tekanan darah di depan, Bu?." mimik wajah Dokter yang biasanya sumringah berubah menjadi serius, hatiku jadi was-was.


"Belum, Dok. Tadi ketiduran saya di depan." istriku menjawab sambil cengengesan.


"Oh iya, gak apa apa." Dokter langsung meminta asistennya melakukan pengukuran tekanan darah istriku.


"Ada apa, Dok?." rasa penasaranku makin kuat. Dengan melihat asistennya beberapa kali mengulang pengukuran.


"Tekanan darah Ibu tinggi, 185/90," ucap dokter. "Ini hasil cek laboratorium dan tes urine yang ketiga ya, Pak, Bu!." Dokter membaca rekam medik istriku dari lembaran awal. Kami mengangguk.


"Dada suka berdebar atau terasa sesak, Bu?." Dokter sedang melakukan anamnesa istriku.


"Iya, Dok. Kadang memang suka berdebar sampai sejak nafas, tapi nanti hilang. Terus kepala juga suka pusing muter muter, Dok." jawab istriku.


"Ada pembengkakan di kaki, Bu?."


Dokter menulis sesuatu di catatannya.


"Ada apa, Dok?. Baik baik saja kan?." sudah tak sabar dengan kekhawatiran ku.


"Kita lihat adiknya dulu, ya Pak. Nanti saya jelaskan detailnya." ucap Dokter dengan raut wajah kembali santai, mempersilahkan istriku berbaring dan di lakukan persiapan USG.


Kami mengangguk. Istriku berbaring dengan wajah tak sabar ingin melihat anak kami.


"Jangan lupa Vidio ya, Mas." ucapnya padaku tak sabar. Aku mengangguk.


Dokter mengenakan sarung tangannya dan mulai memutar tranducer di perut istriku.


Sudah terlihat dua bayi mungilku sedang menggeliat di dalam sana.


"Nah, mereka sepertinya baru bangun tidur ni, Pak, Bu. Pertumbuhannya bagus, semua lengkap ya. Ini hidunga nya, sepertinya yang satu mancung yang satu pendek. Ini hanya prediksi ya, Pak, Bu. Mungkin mereka kembar tapi tidak identik." jelaskan Dokter Ayu pada kami. Kamu mengangguk dengan terus fokus pada penjelasan Dokter.


'Ya banyak memang yang kembar tapi gak sama wajahnya. Aku gak masalah, yang penting mereka sehat dan selamat.'

__ADS_1


"Ini plasentanya atau biasa di bilang Ari Ari. Posisinya bagus, aman insha Allah." sambung Dokter.


"Alhamdulillah," kami bersyukur mendengarnya, tapi hatiku belum tenang karna perubahan ekspresi Dokter saat membaca hasil tes laboratorium istriku.


"Kita sudah selesai nengok adik bayinya, sekrang saya jelaskan detail hasil pemeriksaan tadi ya, ibu, bapak."


Aku membantu istriku merapihkan bajunya dan berjalan kembali ke kursi di depan Dokter.


"Bapak, Ibu.. Ada hal yang tak terduga. Tekanan darah ibu tinggi di saat kehamilan yang sudah masuk di Minggu ke 37.Perlu diperjelas, sebelum hamil, apakah memang tekanan darah Ibu sudah tinggi?"


"Tidak, Dok. Biasanya 120/90 paling banyak. Memang darah saya tinggi, Dok?" istriku sedikit panik, mungkin tadi di awal saat Dokter menjelaskan bahwa tekanan darahnya 185/90 dia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Iya, Bu. 185/90. Lumayan di atas batas warning, Bu."


"Kok bisa ya, Dok. Padahal awal awal darah saya normal, Loch." istriku panik.


"Ada banyak faktor yang diduga berperan dalam mencetuskan hipertensi saat hamil, yakni usia saat hamil yang terlalu muda atau terlalu tua, kehamilan pertama kali, jarak antara kehamilan yang terlalu dekat atau terlalu jauh, riwayat hamil dengan hipertensi sebelumnya, riwayat keluarga yang hamil dengan hipertensi, hamil kembar, atau mengalami sakit-sakit tertentu, seperti obesitas, diabetes, gangguan ginjal, dan sebagainya. Salah satu dari pencetus itu bisa menjadi penyebabnya, Bu."


"Bahaya ya, Dok?." tanyaku.


"Ya tentu saja, Pak, Bu. Harus di lakukan pemeriksaan menyeluruh dan berulang agar akurat hasilnya. Jadi bisa menyimpulkan keputusan akhirnya." ucap Dokter Ayu.


"Ibu bisa istirahat disini dulu selama dua jam, lalu lakukan ulang tekanan darahnya, sama celup urine. Agar nanti ada hasilnya, jangan terlalu di pikirkan ya Pak, Bu. Istirahat dulu saja di kantin atau di musolah. Kalau ibu lelah bisa ke ruang UGD istirahat sebentar." anjuran Dokter Ayu.


Kami mengangguk, "Baik, Dok."


"Kalau memang tempat tinggalnya dekat, bisa pulang dulu gak apa. Nanti kesini lagi. Ibu jangan tegang ya, harus tenang, rileks pikirkan terus wajah mungil yang sebentar lagi akan hadir membawa kebahagiaan." senyuman Dokter meringankan sedikit kekhawatiran kami.


"Iya, Dok. Kebetulan dekat hanya 20menitan sampai kerumah. Kalau gitu kami pulang saja dulu, Dok. Nanti balik lagi kesini." aku menyampaikan niatku.


Dokter Ayu mengangguk, "Iya, silahkan Pak, Bu. Hati hati di jalan."


"Terimakasih, Dok."


Pikiran buruk melintas di pikiranku, saat teringat istri rekan kerjanya beberapa tahun lalu mengalami hipertensi di saat kehamilannya. Aku menggeleng kepalaku berharap pikiran itu lenyap.


"Sayang, jangan di pikirkan. Semua akan baik baik saja, kamu harus yakin itu, ya." aku memapah istriku yang tampak lesu.


Dia mengangguk lemah, "Semoga, Mas."

__ADS_1


__ADS_2