ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
OPERASI,


__ADS_3

Untuk mempersiapkan operasi, aku di minta puasa makan dan minum untuk beberapa jam sampai saatnya operasi.


Aku yang mau operasi, Mas Baskoro yang panik. Badannya dingin gemeteran.


Jam 7 aku masuk ruang operasi.


Sekarang baru jam 5 sore, Bapak dan ibu sudah sampai. Ayah dan Mama mertuaku yang belum sampai, karna disana hujan. Jadi mereka aku minta tunda keberangkatannya.


"Ndok, kamu tidur dulu gak apa apa? Nanti kamu operasi pasti capek, Ndok." ucap ibuku gelisah.


"Ya gak capek, Bu. Kan nanti di bius toh, emangnya dia di suruh lari. Tenang aja, Dokternya banyak dan pintar. Kokom juga sehat kok, gak ada apa apa." ungkap bapakku sok tenang, padahal aku tau sekali kakinya gemetar.


"Di bius memang gak sakit?" tanya ibu padaku.


Aku menggeleng, "Tadi Dokter bilang, di bius kan cuma di suntik biasa, Bu. Setelah bius masuk baru aku di bawa ke meja operasi." aku menjelaskan seperti yang di jelaskan Dokter.


"Emang di meja ya operasinya, Ndok. Kenapa gak di kasur seperti ini atau yang kaya di depan itu yang di dorong suster." wajah polosnya membuatku merasa nyaman dan tenang.


"Itu bahasa Dokter saja, Bu. Meja operasi, ya operasinya di tempat tidur. Gak di meja." Mas Baskoro memberi pengertian.


"Oh, ibu kira beneran di meja. Ya tega bener Dokter itu, anakku mau di taro di meja." raut wajah ibu sedikit ceria.


"Norak kamu, Bu. Emang gak suka lihat sinetron di tv kalau ada artis yang di operasi." timpal bapak.


'Lah, kenapa jadi ngomongin meja ya. Hihihi Tapi aku bersyukur, berkat meja wajah kedua orang tuaku sedikit ceria.'


"Mas mau minta ijin ikut kedalam ruang operasi ma Dokternya, ya." menggenggam tanganku. Tangannya dingin banget.


"Memang boleh, Mas?." tanyaku. Aku mengusap tangannya menenangkannya.


"Semalam sudah bilang sama Dokter Ayu, beliau bilang boleh. Tapi Mas harus ijin lagi sama Dokter di ruang bedah, begitu katanya." ungkapnya.


Aku mengangguk, "Iya di coba aja, Mas. Memangnya Mas gak apa apa di ruang operasi?." aku khawatir dia akan pingsan melihat perutku nanti di bedah Dokter.


Dia menggelengkan, "Mas gak apa apa, Mas pengen dampingi kamu di dalam." jawabnya lantang tapi tubuhnya gemetar.


"Mas yakin, Mas gak akan pingsan pas masuk di ruang operasi kan? Nanti malah menganggu proses operasi, Mas." bujuk ku. Aku tahu dia ketakutan tapi dia ingin menemaniku.


"Iya, Le. Badan kamu sudah dingin begini, gemeteran juga. Nanti kalau pingsan malah repot." ibu menyentuh lengan Mas Baskoro.

__ADS_1


"Coba, Pak. Pengan.." ibu menarik tangan Mas Baskoro ke arah Bapak.


Bapak memegang tangannya dan menggelengkan.


"Tidak usah ikut, Le. Kita tunggu di luar sana. Kalau kamu pingsan malah ganggu nanti. Ingat, anakmu dua yang akan lahir. Pasti butuh waktu lama, di tv saja kalau operasi itu lama. Diam diam saja sama Bapak." pinta Bapak.


Mas Baskoro kecewa dengan keputusan kami, aku pun ingin di dampingi. Tapi melihat kondisinya yang lebih tegang dan takut di banding aku, aku tidak mau mengambil resiko. Biar aku sendiri di dalam, dia cukup bantu doa untukku di luar.


"Iya, Pak, Bu." Hela napasnya.


"Mas.. jangan khawatir. Aku akan baik baik saja. Anak anak kita akan lahir dengan sehat dan selamat." rayuku.


Dia mengangguk, "Iya sayang, kamu janji akan keluar dengan anak anak sehat dan selamat, ya." dia mencium tanganku di genggamannya.


Sebenarnya aku ingin sekali di temani, tapi aku tahu betul. Mas Baskoro sedang tidak baik baik saja, dia phobia dengan darah. Dan ada trauma dengan ruang operasi.


Aku tidak ingin membiarkan dia menyiksa dirinya.


Persiapan operasi sudah 90%, puasa, tes alergi terhadap obat, posisi kedua bayiku bahkan sampai proses pencukuran bulu kemaluanku.


"Permisi.. Maaf Pak, Bu. Ibu Kokom silahkan bersiap, kita akan masuk ruang operasi." seorang suster datang ke kamar inap.


"Mas, tenanglah. Berdoa terus ya, aku berjuang di dalam. Tidak akan ada masalah, Bismillah.." ucapku menenangkan suamiku. Terbalik sebenarnya.


"Iya sayang, berjuanglah. Maafkan Mas mu ini, Mas tidak bisa menemanimu." wajahnya sedih merasa bersalah.


"Gak apa, Mas. Banyak yang menemani di ruang operasi, ya kan Sus?." aku mengalihkan pertanyaan ke Suster yang membantu mengecek alat infus dan kateter yang terpasang.


"Iya, Bu. Banyak anggota di dalam yang membantu operasi." senyumnya.


"Ibu, Bapak.. Doakan kami ya, salam untuk Mama dan Ayah nanti.." pamit.


"Iya, Ndok. Bismillah ya Ndok. Tenang dan terus dzikir, Ndok." pesan Ibu. Aku mengangguk.


"Pergilah, Ndok. Jemput pahala yang besar untukmu." ucap Bapak melepas ku masuk ruang operasi.


Hatiku berdebar, bohong jika aku bisa tenang saat melihat lampu besar di atas kepalaku.


Semua yang ada di dalam berpakaian khusus operasi yang tertutup, serta udara yang dingin menyentuh tulang ku.

__ADS_1


"Selamat sore, Ibu Kokom, ya." sapa Dokter lelaki yang tertutup wajahnya.


"Sore, Dok." aku tampak penasaran dengan wajah Dokter tersebut. Yang aku kenal hanya Dokter Ayu, tapi belum terlihat.


"Saya Dokter Anastesi, Dokter Adit. Bantu miring ya Bu, kita suntik bius dulu." aku di bantu Suster memiringkan tubuhku. Dokter menjelaskan proses bius yang akan di suntikan padaku.


"Kita menggunakan bius setengah ya, Bu. Jadi ibu sadar, hanya tidak merasa sakit. Ibu bisa melihat proses operasi melalu pantulan gambar di lampu atas, ya. Selesai." Dokter membalikkan tubuhku lagi.


Tanganku di ikat seperti hendak di panggang, para staf mempersiapkan alat untuk operasi. Kereta bayi masuk bersama staf yang memakai baju pink. Mungkin bidan, tidak lama Dokter Ayu masuk.


"Sore semua,.." senyumnya.


"Sore, Dok." kami menjawab serempak.


"Ibu Kokom, gimana keadaannya?" sapa kepadaku.


"Baik, Dok." senyumku.


"Jangan panik ya, Ibu harus tenang, kalau nanti ada mual, tolong di tahan ya. Tarik nafas supaya mual hilang, karna bisa mempengaruhi operasinya. Tapi jika sesak, beritahu kami ya." jelaskan Dokter Ayu.


Aku mengangguk, "Baik, Dok." Dokter mengangguk dan tersenyum.


"Dokter Adit, gimana biusnya?." tanyanya pada Dokter Adit yang sedang memakai masker.


"Sudah, Dok." Dokter Adit mencubit kakiku, tapi aku tidak merasa apapun. Dia menepuk pahaku, aku pun diam saja melihat dari pantulan cahaya.


"Ada rasa, Bu?" Dokter Ayu bertanya padaku saat Dokter Adit menggelitik telapak kakiku.


"Tidak, Dok." jawabku.


"Oke, kita mulai, Dok." Dokter mengalihkan pandangannya pada Dokter Adit.


"Silahkan berdoa, untuk kelancaran operasi kita kali ini." Dokter Adit memimpin doa, aku pun berdoa, semoga semua bisa keluar dengan sehat dan selamat.


Aku takut, tapi penasaran. Aku menatap Dokter yang sedang menumpahkan obat anti septik di perutku.


Dokter Ayu mengajakku bicara, "Jangan tegang ya, Bu. Pikirkan nanti si kembar lahir dengan cantik. Betapa aktifnya mereka di dalam sana, apalagi nanti pas sudah lahir, ya Bu. Pasti menggemaskan.." Dokter Ayu mengalihkan pikiran ku yang sudah tegang melihat pisau yang begitu tipis di tangan Dokter Adit.


"Iya, Dok." senyumku menutup ketegangan ku.

__ADS_1


"Kalau takut, jangan di lihat ya Bu." pinta Dokter Ayu.


__ADS_2