ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
WAKTU YANG LAMA


__ADS_3

Di ruang observasi tempatku beristirahat sendirian. Tidak bisa bangun untuk menggerakkan kakiku rasanya aneh.


Sepintas di hatiku terlintas pikiran, "Ah.. mungkin ini yang di rasakan para disabilitas, mereka tidak merasakan fungsi dari suatu organ tubuh yang mereka miliki. Tidak nyaman,. itu yang bahkan hanya aku rasakan beberapa jam kedepan saja. Aku bersyukur, Allah memberiku tubuh yang sehat dan berfungsi normal. Semoga para disabilitas mempunya hati yang luas untuk sabar."


Aku mengelus dadaku, betapa mereka menderita jika yang tadinya normal sepertiku tiba tiba harus merasakan kelumpuhan seperti ini. Ya Allah...


Tubuhku yang mengigil membuat gigiku beradu, pikiranku yang sedang tidak menentu aku coba fokuskan kepada kedua bayiku yang mungil.


"Ah, Mas Baskoro pasti sudah lihat sekarang, dua putri cantiknya sudah lahir. Pasti sekarang sedang di adzanin olehnya."


Walau di hatiku ada kepedihan saat melihat putri keduaku yang bertubuh lebih kecil di banding yang pertama, tapi aku yakin. Setelah pulang dari rumah sakit, aku akan membesarkannya hingga tidak ada perbedaan antara yang satu dan yang kedua.


"Permisi.. Gimana kondisinya sekarang, Bu?." tanya Ners.


"Alhamdulillah, masih mengigil Mbak. Gigi saya terasa menyatu." ucapku dengan susah payah membuka bibir.


"Oh, masih kedinginan ya.." Ners mengambil selimut dan menyelimuti tubuhku. Padahal sudah ada satu di tambah lagi satu. Tubuh bagian atas terasa berat, tapi bagian bawah belum merasakan apapun.


"Di lawan ya, Bu. Coba di gosok gosok tangannya. Kalau ada sesak segera pencet tombol merah di samping itu, ya." tunjuk pada tombol di sisi meja di samping kepalaku.


Aku mengangguk, "iya, Mbak. Sesak si ndak, hanya dingin saja." ucapku sambil menggosok tanganku di dalam selimut.


"Iya gapapa, itu efek bius. Nanti juga hilang. Jam 10 kita pindah keruang inap ya, Bu. Semoga dinginnya sudah hilang." ucapnya.


"Iya, Mbak. Anak anak saya gimana?." tanyaku penasaran.


"Adiknya di titip di ruang bayi dulu untuk observasi. Pagi nanti setelah mandi kita antar ke kamar, Ibu." jelasnya.


"Gak di kasih susu dulu, mbak? Kasian.." ucapku.


"Gak bisa, Ibu. Sesuai prosedur, adik bayinya kita harus observasi dulu. Si kembar ada yang harus masuk inkubator dulu.. Tadi kami sudah jelaskan pada Bapak, nanti bisa di tanya ya. Untuk mengasihi harus tunggu proses pencernaannya berproses dulu, tunggu pup dulu adiknya." dia menjelaskan prosesnya.


"Anak saya masuk inkubator, apa itu Mbak? Apa ada masalah?." aku cemas..


"Gak ada masalah yang mengkhawatirkan, hanya saja memerlukan inkubator untuk menghangatkan tubuhnya. Adik bayinya sehat kok, ibu tenang saja. Hal seperti ini sangat biasa dan wajar." dia tersenyum menenangkan.

__ADS_1


"Oh, gitu.." aku menyetujui tapi tidak mengerti mengapa harus masuk inkubator dan hanya satu.


Ah.. apa mungkin bayiku yang kedua yang bertubuh kecil itu?


"Saya permisi ya, Bu. Silahkan istirahat." meninggalkanku.


Aku menatap punggungnya, masih penasaran mengapa anakku harus masuk inkubator?.


Tapi Ners tadi sudah mengatakan tidak ada hal berbahaya, hanya untuk menghangatkan tubuhnya saja. Nanti aku akan bertanya pada Mas Baskoro.


Waktu terasa lama sekali, semenjak menikah aku tidak pernah tidur sendirian.


Sekarang harus tidur sendirian di tempat asing ini, dengan tubuhku yang masih sedikit mengigil dan kaku. Tenggorokanku terasa kering, haus sekali. Tapi tidak ada air yang bisa ku minum, bahkan jika ada pun aku gak bisa meminumnya. Bagaimana bangunnya jika kaki masih tidak terasa.


"Mas.... aku merindukanmu..."


Tiba tiba hatiku melow, teringat setiap kali aku manja. Mas Baskoro dengan sabar meladeni keinginanku yang merepotkan.


Terasa sekali ya hidup sendirian, padahal hanya beberapa jam saja. Aku sudah merasa kehilangan Mas Baskoro.


Ibu, bapak, ayah dan Mama pasti sudah sampai. Mereka pasti sedang menungguku dengan tak sabar. Aku rindu kalian.


Aku membayangkan Bapak dengan keras kepalanya, "Cucuku aku yang akan beri nama." dengan intonasinya.


Ayah pasti tak mau kalah, "Tidak bisa, aku yang akan beri nama." dengan nada lembut tapi dalam khas Ayah mertuaku.


Para ibu ibu juga pasti gak mau kalah, ah aku sudah tak sabar mendengar perdebatan mereka yang akhirnya pasti diam ketika aku dan mas Baskoro mengeluarkan nama yang kami siapkan untuk mereka.


Pasti nanti wajah Bapak atau ayah masam, ibu dan Mama cengengesan.


"Ibu, ibu kenapa?."


Tak terasa aku tertawa tawa kecil sendiri membayangkan tingkah mereka di luar sana.


"Ah.." Aku menoleh ke sebelah tempat tidurku. Di balik tirai besar itu ternyata ada pasien juga.

__ADS_1


"Gak apa apa, Bu." jawabku tersipu.


"Oh, pasti lagi senang membayangkan bayinya, ya. Tadi saya dengar kembar ya, Bu. Selamat ya.." ucapnya sumringah.


"Iya, Alhamdulillah.. terimakasih. Ibu juga melahirkan sebelum saya ya, tadi. Anaknya apa Bu, cewek cowok?." tanyaku untuk menyambung pembicaraan.


"Iya, Bu. Anak saya cowok. Tapi gak selamat." wajahnya sendu, matanya berlinang.


"Ah.. maafkan saya Bu.. saya turut berduka yang sedalamnya, yang sabar ya Bu, tabah dan ikhlas. Adiknya menjadi pangeran tampan di surga sana." ingin sekali aku memeluknya, tapi kondisi tubuh ini membuat aku geram.


Dia mengusap air matanya, "Iya, Bu. Terimakasih kasih.."


"Semoga cepat di beri amanah kembali ya, Bu." doaku tulus untuknya.


Aku tidak bisa membayangkan betapa hancur hatinya. Harus merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan sedalam hatinya.


Dia mengangguk.


Melihat kondisinya yang lemas lebih dari pada tubuhku, matanya sembab menatap luas langit langit. Aku yakin dia menahan diri ingin berteriak, meraung bahkan berlari mendekap bayinya. Di luar sana mungkin suami dan keluarganya sedang menangis.


Dia berusaha terlihat tegar, walau aku tahu pasti. Tubuhnya gemetar bukan hanya karna efek bius, melainkan karna hancur hatinya.


"Ibu, di tangani Dokter siapa?" aku mencoba mencairkan suasana agar pikirannya bisa teralihkan. Yang aku pernah baca, tidak baik bagi ibu yang setelah melahirkan mengalami stress.


"Ah.. Dokter Ayu, kebetulan saya selalu USG di tempat beliau. Tapi tadi siang pas saya mules kontraksi, saya ke klinik bidan terdekat. Karna suami saya masih dalam perjalanan pulang." jawabnya.


"Oh, sempat mules ya Bu?" tanyaku.


"Iya, dari jam dua siang tadi, sudah pembukaan empat pas datang kesini." ucapnya.


"Jadi tadi ke klinik dulu, baru di rujuk ya." tanyaku. Sebenarnya aku penasaran kenapa bisa sampai meninggal sedangkan dia mengalami mules.


"Iya, tadi magrib sampai rumah sakit." ucapnya.


"Bareng sama saya dong, saya juga magrib sampai di rumah sakit. Setelah isya persiapan operasi. Tapi saya gak mules, Bu. Saya memang harus operasi karna tekanan darah tinggi." aku melepaskan satu selimut di tubuhku. Sudah lebih tenang tubuhku.

__ADS_1


"Oh.. kalau saya tadi darurat operasinya, Bu. Gak ada persiapan jadinya." senyumnya.


__ADS_2