ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
KEIKHLASAN,


__ADS_3

Dokter menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi pada ibu hamil, bisa beresiko. Setelah mendengar saran dan juga kesimpulan yang harus kami ambil. Aku dan Mas Baskoro sudah menentukan pilihan persalinan yang memang terbaik menurut Dokter.


Dan karena kandunganku sudah masuk usia baik untuk melahirkan, Minggu ini kami di jadwalkan Operasi Sesar. Masuk Minggu ke 38 kehamilanku.


Pagi ini, aku mempersiapkan perlengkapan yang akan di bawa ke Klinik Dokter Ayu, bisa di bilang rumah sakit hanya saja khusus ibu dan anak saja. Kliniknya lengkap, ruang operasi dan perawatan pun ada.


Mas Baskoro mengabari Ibu dan Mama mertuaku, agar mereka tidak terkejut.


"Yang bener, Le, malam ini mau di operasinya?." suara Mama mertuaku setengah menjerit. Ya pasti kaget, soalnya kemarin baik baik saja.


"Iya, Ma. Tapi tenang aja, Kokom sehat kok. Insha Allah ini memang sudah waktunya lahir. Kan Kokom hamil kembar Ma, jadi untuk mengurangi resiko kecapekan, Dokter bilang harus di operasi, gitu." kilahnya.


"Ya tapi kenapa mendadak, Le. Kan kemarin baru di periksa aja." suaranya penuh kekhawatiran.


"Mama, doakan aja Kokom dan cucu cucu Mama selamat dan sehat, Ma." suaraku setengah teriak, karna ponselnya di sisi Mas Baskoro yang sedang merapihkan pakaianku.


Mas Baskoro memberikan ponselnya padaku.


"Ya Ndok, tapi Mama gak bisa sekarang berangkat. Di sini hujan deras, Mama belum beli tiket, semoga nanti ada travel yang jalan."


"Ya, Ma. Besok aja, sekarang jangan di paksakan, bahaya kalau hujan. Mama bantu doa terus ya, Ma. Aku sehat kok, cuma sedikit tegang aja."


"Ya Ndok, Mama selalu berdoa agar kalian semua baik baik saja. Ojo tegang Ndok, rileks ya. Melahirkan memang sakit, tapi insha Allah setelah melihat anak kita plong ati." suara lembutnya menenangkan hatiku.


"Yo wes, Ma. Aku mau bantu Mas Baskoro beres beres dulu, ya. Mama jaga kesehatan, jangan di paksa hari ini kesini ya, Ma."


Aku mengakhiri obrolan kami dengan meneteskan air mata. Aku tahu dari suara Mama yang berat, dia menahan tangis agar tak terdengar olehku. Aku pun sama, aku merasa pembicaraan ini yang terakhir.


Akh semoga itu karna pikiranku yang sedang kacau, rasa khawatir yang berlebihan.


"Assalamualaikum, Bu. Kokom mau ngabarin, hari ini Kokom mau melahirkan, Bu." dadaku sesak, ingin sekali menangis di pelukannya.


"Wa'alaikum salam, Kom. Memang sudah waktunya, Kom. Bukannya baru kemarin kamu bilang cek up. Kamu sudah mules? Pecah ketuban, Kom? Sekarang dimana kamu.." suara paniknya melebihi Mama mertuaku, membuat air mataku tak tertahankan.


"Ndak, Bu. Belum mules, belum pecah ketuban juga. Kokom harus operasi, Bu. Kokom gak bisa lahiran normal." aku menekan suara tangisan ku.

__ADS_1


"Astaga, kamu kenapa? Lah kok bisa sampai di operasi, ada apa Kom?" Ibu ku teriak memanggil Bapak dan saudara-saudara ku.


"Ibu,.. Ibu ndak usah panik gitu. Kokom gak apa-apa kok, Bu." aku menghentikan kepanikan ibu yang akan membuat seluruh keluarga besar kacau.


"Gak apa apa gimana toh, Kom. Wong kamu mau di operasi!!!."


Suara bising dari telpon ibuku membuatku geleng-geleng kepala. Maklum saja, orang tua akan panik jika mendengar nama operasi. Bagi mereka jika sudah harus operasi itu sudah gawat.


Mas Baskoro ketawa mendengar teriak teriakan keluargaku. Karna memang sedari tadi kami menelpon dengan mengencangkan speaker.


"Kenapa? Kokom kenapa, Bude? Kok bisa di operasi, kemarin malam aku baru aja Vidio call sama dia." teriak sepupuku. Devi.


"Kom.. Kom.. kamu kenapa? Apa kata Dokter?." Devi teriak kepadaku. Suara ibuku terdengar menangis.


"Dev, aku ndak apa apa. Bilangin ibu, ini operasi sesar biasa. Karna bayiku kembar, Dokter takut aku kecapekan. Tolong yo, kasih tahu ibuku, Dev."


"Oalah, aku kira apa. Operasi sesar cuma karna kembar toh."


'Bude, ndak usah nangis, ndak usah khawatir. Kokom di operasi karna bayine ning perut kembar. Dokter takut Kokom kecapekan ngeden, Bude.'


'Kamu bener toh, Dev. Kamu gak bohong.' suara bapakku parau. Dia pasti terkejut mendengar berita ini. Bapak adalah cinta pertamaku, beliau selalu ada untukku.


"Pak, nanti kesini ya.. Ketemu cucu.." aku mencoba menghibur hatinya.


"Iya, Ndok. Cucuku perempuan semua, ya. Pasti cantik cantik.." suaranya sudah mulai sumringah.'


"Iya, Pak. Doakan terus ya pak, biar aku dan cucu cucu Bapak sehat selamat." pintaku.


"Iya pasti, Ndok. Bapak sudah siapkan baju baju lucu untuk cucu cucu Bapak." ucapnya bangga.


"Wah, aku gimana, Pak. Masa aku ndak di belikan baju baru, Pak." rengek ku.


"Ya nanti Bapak belikan daster ya, Ndok." tawanya.


"Yah Bapak... Kok Kokom di beliinnya daster, yang bagus sedikit dong, Pak." godaku.

__ADS_1


"Ya ya, nanti Bapak beliin gamis yang bagus ya. Yang penting kamu operasinya sehat selamat semua. Aamiin."


"Iya, Pak. Pasti. Aamiin."


'Aamiin.' ucap Mas Baskoro.


"Kamu kapan operasinya, Ndok?." suara Ibu sudah lebih baik. Sudah terdengar suara tenang dan sedikit sisa tangisan.


"Malam ini, Bu."


"Ya sudah, ibu sama bapak siap siap kesana. Biar cepat sampai sana, bisa nemenin kamu nanti."


'Ya, Pak.' ibu mengajak bapak.


"Iya, Bu. Ya sudah Ndok. Kamu istirahat, biar Baskoro yang bantu rapiin barang kamu. Nanti kalau ada kurang kami bawa dari sini. Bapak sama ibu juga mau siap siap dulu, ya." pamit Bapak.


"Oh iya sebentar, Ndok! kamu sudah kabari Mama mertuamu?." tanya ibuku suaranya berteriak.


"Sudah, Bu. Mama juga sedang siap siap kesini. Ya sudah, Bapak sama ibu hati hati, ya. Sudah dulu. Assalamualaikum."


Aku meletakkan ponsel Mas Baskoro.


"Ini semua sudah, yang?. Ada yang belum di siapkan?." tunjuk Mas Baskoro pada tas ransel yang hendak di bawa.


"Sudah, Mas. Toh cuma dua atau tiga hari di sana. Terlalu banyak repot bawanya." ucapku seraya menyandarkan tubuhku.


"Ya sudah, tinggal siapkan alat mandi saja ya. Kamu istirahat dulu saja, Mas mau telpon teman kantor dulu." mengusap keningku dan mengecupnya.


Huft... Bayanganku akan melahirkan dengan ramai suara teriakan kesakitan ku. Ternyata Allah memberi kemudahan agar aku tidak merasakan mules melahirkan. Semoga persalinan lancar melalui proses apapun.


Terdengar suara Mpok Rodiyah di depan rumah, mungkin sedang ngobrol sama Mas Baskoro.


Aku lelah, punggungku terasa panas. Ya lumayan berat kedua anakku ini. Mereka sedang apa ya, sehingga membentuk perutku terbelah dua. Aku mengusapnya seraya berkata dalam hatiku.


'Sayang sayangku, nanti malam kita berjuang ya, Nak. Kalian harus sehat dan selamat. Nanti Ibu akan memberi hadiah untuk kalian berdua. Kita harus semangat ya, Nak. Kita bertiga perempuan Loch, di rumah ini hanya Ayah yang laki laki nantinya. Kamu tahu, Nak. Seluruh keluarga besar kita sudah tidak sabar bertemu dengan kalian. Kita harus pulang dengan sehat dan selamat, ya. Nanti kita bisa makan bakso bertiga, ngerujak, belanja, nyalon ya Nak. Biar ayah yang antar antar.' aku tersenyum membayangkan bagaimana repotnya nanti kami berempat di rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2