ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
IBU,SAKIT HATI


__ADS_3

Aku berbincang dengan tetangga kasurku. Dia yang kehilangan putra pertamanya. Mencoba tegar di hadapanku. Andai aku bisa berdiri menghampirinya, aku akan peluk erat tubuhnya.


Kami di pindahkan ke kamar inap dan kebetulan satu kamar dengan tetangga kasurku yang tadi.


Aku melirik ke arah tempat tidurnya, dia hanya di temani suaminya. Yang ku dengar tadi pamit padanya untuk pergi memakamkan putranya.


Dalam diamnya, aku melihat air matanya yang terus mengalir. Di wajahnya terlihat jelas rasa sakit yang di rasanya.


Aku berbisik pada ibuku. Ibu menatapnya dan mengangguk. Aku meminta ibu menemaninya sebentar, memberikan nasehat nasehat untuk menghibur hatinya.


Aku bersyukur, di sisiku banyak sekali yang menyayangiku. Kedua mertuaku yang super rempong dengan segala persiapannya. Ayahku yang melow dengan air mata yang terus menetes membuatku ingin menggodanya. Dan suamiku yang tubuhnya tidak kalah gemetar dengan tubuhku.


"Mas, sudah dong. Aku baik baik saja.. Anak anak juga mereka sehatkan." hibur ku.


"Iya, sayang. Tapi Mas kaget banget pas lihat kondisimu seperti ini. Mas gak bisa bayangin,.." dia menggelengkan kepalanya dengan kencang. Melihat tubuhku yang kaku karna bius masih tersisa, membuat dia memikirkan yang aneh aneh.


"Sudahlah.. istrimu baik baik saja, tidak usah berpikir macam macam. Kamu tuh lelaki kok cengeng." ayahku menggerutu, tapi dia sendiri mengusap air matanya. Menatapku penuh pilu.


"Ya, ya. Dengarlah, ayahmu itu, Dek. Bilang Mas ini cengeng, tapi lihat. Ayah dari tadi gak berhenti menangis." balas suamiku.


"Kamu itu, ya. Siapa yang nangis. Ayah ini bukan nangis, tapi terharu. Memiliki dua cucu cantik sekaligus, tahu!." bantahnya.


Aku dan kedua mertuaku hanya tertawa kecil melihat kekonyolan mereka.


"Ndok, Mama khawatir sekali pas Dokter bilang, anak gadismu yang satu harus lebih lama tinggal di dalam tabuuuung... tabung apa tadi, Pak?." Mama melirik Bapak mertuaku.


"Apa Yo tadi, Bapak lupa. Susah lah gitu.." ucap bapak.


"Tabung eskalator.." jawab Ayah dengan penuh percaya diri.


Aku tertawa.. "Argh ..." aku merasakan perih di perutku.


"Kenapa, Nduk?."


"Kenapa, dek?."


"Ayah panggil Dokter sebentar.."


"Tunggu, yah. Aku gak apa-apa. Tadi lupa aku tertawa. Perutku belum boleh di pakai tertawa sama batuk dulu." ucapku menenangkan mereka yang sudah panik.


"Oh, astaga.. Kamu itu nduk.. bikin orang khawatir. Jangan tertawa, jangan batuk dulu. Wong luka robeknya masih basah." ucap Mama.

__ADS_1


"Kamu cari ikan gabus, lek. Nanti biar Mamamu sayur. Ikan gabus itu bagus buat luka. Sana cari beli yang segar, bukan ikan asin." suruh Bapak.


"Iya benar tuh,." timpal ayah.


"Ya sudah, Mas pamit dulu ya dek. kalau ada apa-apa, langsung telpon." pinta Mas Baskoro. Aku mengangguk.


"Ibu kenapa kamu suruh kesana, nduk?." tanya Mama.


"Hum ... ibu itu kehilangan anak pertamanya, Ma. Anaknya gak selamat, dia juga hanya berdua dengan suaminya. Jadi aku minta Mama temani sebentar, kasian dia sendirian. Apalagi setelah kehilangan putranya."


"Ya, Allah.. malangnya." ucap Mama.


Ayah yang mendengar ceritaku langsung mendekat ke tempat ibu berada.


"Kasian, ya. Kehilangan anak, terus hidup tanpa saudara atau orang tua." ucap Mama.


"Iya, Ma. Dia bilang, dia hanya bersama suaminya. Keluarganya tidak ada yang menemani."


"Orang tua mereka masih ada?." Mama menatapku.


Aku mengangguk.


"Tadi si bilangnya, masih utuh. Ibu bapaknya masih ada, adik adiknya juga."


"Entahlah, Ma. Dia bilang keluarganya memang seperti itu. Tidak ada yang perduli padanya."


"Kasian.. kejam sekali seorang ibu membiarkan anaknya yang baru melahirkan dan itu pun kehilangan sekaligus, sendirian." Mama meneteskan air mata.


Aku pun tidak mengerti, ternyata di luar sana ada hal seperti ini. Seorang ibu ayah, tidak perduli dengan putrinya sendiri. Bahkan ada pepatah yang bilang, orang tua kan lebih menyayangi cucunya di banding anaknya, tapi jika melihat ini. Sepertinya itu hanya pepatah belaka.


Sudah sekitar setengah jam berlalu, satu orang pun tidak ada yang datang ke tempatnya.


"Mama kesana sebentar, ya Nduk." Mama menatapku.


"Ya, Ma." aku tersenyum. Di hatiku penuh syukur, memiliki keluarga yang begitu menyayangiku.


"Bapak tidak ikut.." tanyaku melihat bapak yang juga menatap sayu kearah ibu tersebut.


"Tidak, sudah ada mereka disana. Bapak berdoa dari jauh saja. Semoga kelak dia memiliki anak yang penuh kasih sayang kepada kedua orang tuanya. Agar tidak ada lagi hal seperti ini, mereka pun menjadi orang tua yang penuh kasih kepada anaknya." Bapak yang jarang bicara, tapi hatinya begitu tulus terhadap anak anaknya. Berdoa begitu ikhlas untuk orang yang dia tidak kenal dengan tatapan kasih sayang.


"Aamiin.."

__ADS_1


Dia melihat kearah ku, tersenyum dan melambaikan tangan. Aku membalas lambaiannya.


Ayah kembali ke tempatku.


"Tega sekali ya, nduk. Bapak gak habis pikir, kenapa terkadang cobaan itu sekaligus datang." ocehan ayah.


"Kenapa toh, Yah?." tanyaku.


"Dia kehilangan anak akibat kelalaian seorang bidan, katanya. Terus keluarganya, dari gak ada yang mendampinginya sampai harus nunggu suaminya yang kerja beda kota untuk pulang."


Wajah Ayah terlihat gemas, kesal dan sedikit memerah.


"Iya, begitu tadi dia juga cerita."


"Huh... kalau Ayah kenal sama keluarganya, sudah ayah angkat dia jadi anak ayah. Udah gak usah tinggal sama keluarga macam itu. Untuk apa dia tinggal satu rumah tapi di cuekin." gerutu Ayah.


Mama juga kembali ke tempatku, disana hanya ibu yang masih di sisinya.


"Mama gak tega, nduk. Biar ibumu saja yang menemani. Mama pengen nyambelin itu mulut ibunya. Huh.." wajah mama merah karna emosi. Matanya tajam karna rasa kesal.


"Ada apa, Ma?." tanyaku penasaran. Aku sendiri belum banyak tahu ceritanya.


"Dia namanya Wulan. Anak sulung di keluarganya. Suaminya perantau, orang Sumatra. Dia tinggal sama kedua orangtuanya dan adik adiknya. Tapi Yo, gak ada satu pun yang datang, atau mengantarnya kesini. Mama gemas.."


"Ya kali kalau mertuanya jauh, apalagi cuma ada ayah mertua aja. Ibunya sudah gak ada. Wajar saja gak bisa hadir, ini kan orang tuanya sendiri. Loch kok gak ada.."


"Wish.. wish.. jangan marah marahin orang yang gak kamu kenal. Tau juga gak masalahnya kenapa bisa begitu, kan. Jangan berburuk sangka dulu. kita gak tau yang benar salahnya." bapak menengahi omelan Mama.


"Ya walaupun ada masalah, yang namanya orang tua itu, pak. Harus ada disaat anaknya sedang kesusahan, membutuhkan mereka. Gak liat, dia sedang berduka. Habis di operasi, harus sendirian. Pengan kencing, minum gimana toh, pak. Masa sebagai orang tua gak ada hati nurani. Sesalahnya anak, di saat seperti inilah orang tua harus ada, sekalian mengajarkan kepada anak. Kalau mereka sudah di jalan yang salah, atau lainnya. Ya gak di cuekin gini, Pak." Mama terbawa emosi hingga menangis.


"Sudahlah, Ma.." bapak memeluk Mama.


Aku yang bingung harus apa, hanya diam. Begitupun Ayah, ayah hanya menatapku penuh kasih. Membelai kepalaku dengan lembut.


"Nduk, jangan pernah sekalipun kamu marah pada anak mu nanti, hingga menelantarkan mereka. Mereka adalah tanggung jawab kita dunia akhirat. Anak tidak pernah mengingkan kita sebagai orang tuanya, melainkan kita yang menginginkan anak. Jika nanti kamu di kasih cobaan anak yang keras, maka lembutkanlah dirimu. Jangan terbawa menjadi semakin keras ya, nduk. Kamu sekarang sudah menjadi orang tua, Ayah berpesan. "Buang manjamu, di hadapan anak anakmu. Biarkan manjamu hanya di depan suamimu, ya." Jadilah orang tua yang menutup kesulitan, kegundahan, kesedihan di depan anakmu. Curahkan segalanya hanya kepada suami dan Allah ya, nduk." nasihat ayah akan selalu ku ingat.


"Iya, Yah."


Ibu kembali ke tempatku, air matanya berlinang tiba tiba tumpah di hadapanku. Ibu menarik sedikit tirai didepan kakiku, menutup tubuhnya sedikit.


"Kenapa, Bu.." tanyaku lirih.

__ADS_1


"Gak apa, Nduk. Ibu cuma sakit hati."


__ADS_2