
"Mas! Jangan lupa beli kemiri sama santan ya, aku mau bikin opor." teriaknya dari dalam dapur.
Aku di minta tolong beli sayur mayur ke pasar. Bermodal catatan kecil dan beberapa teriaknya sepanjang jalan dari dalam keluar rumah.
Untuk apa dia buat catatan jika harus teriak.
Aku mengorek kupingku yang rasanya panas.
"Iya, sayang."
Aku mengendarai sepeda motor ku ke pasar. Sudah beberapa hari tukang sayur tidak keliling keluhnya, jadi aku di haruskan belanja ke pasar untuk persediaan di rumah.
Aku keliling pasar membeli setiap nama yang tertulis di catatan dari istriku yang bawel.
Aku mengecek semua catatan dan belanjaan yang sudah ku beli. Salah salah takut ada yang kelewat. Setelah semua benar, lalu aku segera pulang.
Aku mampir beli buat jeruk, kayanya segar makan jeruk yang terlihat segar.
"Sayang, ini belanjaannya." aku meletakkan belanjaan di meja.
"Iya, Mas. Terimakasih." teriaknya dari kamar mandi.
__ADS_1
Aku duduk di teras menikmati jeruk yang ku beli tadi. Segar, asam manis.
"Mas!!! Ini kamu sudah beli semua, yakin!." teriaknya.
"Aduh, ada apa lagi si, Yang." aku mengorek kupingku, rasanya terbakar mendengar teriakannya.
"Sini sebentar, Mas!."
"Iya iya." aku malas mendengar teriakannya, lebih baik aku mendekat.
"Mana kemiri dan santannya? Aku kan sudah bilang mau bikin opor, lalu masak opornya bagaimana kalau gak ada santan dan kemiri, Mas." ocehannya.
"Lah, kan aku ikutin sesuai catatan, sayang." aku menjawab dengan benar sesuai catatan dan itu tidak ada yang terlewat. Aku memberikan catatan yang tergeletak di meja kepada istriku.
Dia mengambil catatan itu, "Iya iya aku tau, Mas. Tapi aku tadi teriakan, pas Mas mau pergi. Masa gak dengar, si. Aku teriak sudah keras loch, kemiri sama santan aku mau bikin opor." dia meletakkan catatan itu dengan menepuknya di meja.
"Iya sudah, bikin yang lain aja si, Yang. Kan bisa makan opornya lain kali." aku memberi saran yang pasti saja, toh aku gak mau kalau di minta balik lagi ke pasar.
"Aku mau makan opor, Mas." ucapnya dengan kesal dan memalingkan wajahnya. Pipinya memerah, hidungnya terlihat sekali bengkak menahan tangisnya.
Aku bingung harus apa, masa aku harus ke pasar lagi sudah siang begini.
__ADS_1
Di mana aku harus nyari santan.
Aku tidak bisa memberikan saran lagi jika wajahnya sudah berubah menjadi tomat. Itu hanya ada satu solusinya, ya berikan yang dia mau. Hanya itu yang bisa ku lakukan.
"Apa ada yang lain selain kemiri dan santan, Yang?", tanyaku. Salah salah nanti harus balik lagi kalau ada yang kurang.
"Kemiri dan santan!." ucapnya acuh dengan nada kesalnya.
"Iya sudah, santan apa aja bolehkan." aku berpikir akan beli yang instan aja di warung depan jalan.
"Iya, yang penting santan." ucapnya lagi.
"Baiklah, santan santan dan santan. Yang penting santan oke." aku melangkah pergi.
"Kecut!." gerutu ku seraya berjalan ke luar.
"Apa Mas bilang, kecut!."
Wah, pendengarannya bagus sekali. Aku hanya berbisik dia mendengarnya.
"Iya sayang, ini jeruknya kecut." aku tertawa kecil menunjukan jeruk yang ada di tanganku.
__ADS_1
"Kamu mau, sayang." aku menyodorkan jeruk di tanganku.
Dia menggelengkan kepalanya, aku lega. Karna jika dia mau merasakan jeruk yang ku makan, maka dia akan tau kalau aku berbohong.