ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
KECEBONG, ANAKKU


__ADS_3

"MAS!! ... MAS!! ... sini.." teriaknya di dalam kamar mandi. Membuatku kaget hingga tersedak saat menikmati kopi.


"Ada apa, Dek." aku berlari mendekatinya.


"Mas.. lihat Mas, garis dua Mas." ucapnya dengan wajah berbinar.


"Beneran, Dek." aku merasa belum puas jika belum melihat langsung. Aku mengambil alat tersebut di dalam wadah berisi air seni istriku.


Saking senangnya dia, belum mengambil nya. Masih di diamkan di wadah air seni.


"Alhamdulillah, terimakasih Gusti Allah." ucapku penuh rasa syukur. Usia pernikahan kami baru genap satu tahun dan ini adalah kado terindah untuk kami.


Aku memeluk tubuhnya dan menghujani ciuman di wajahnya.


"Kamu hamil, Dek. Kita jadi orang tua, kamu jadi ibu dan aku jadi ayah." aku senang luar biasa, menggendong tubuh istriku keluar dari kamar mandi.


Meletakkan nya di kasur, "Sekarang kamu hati hati, jangan kencolah (pecicilan) sudah anak di dalam perut." aku mengusap perutnya yang masih rata.


Dia mengangguk anggukan kepalanya.


"Ya sudah, sekarang pakai baju. Kita pergi periksa ke Bu bidan. Biar tahu kapan lahirnya dan keadaannya di dalam." ucapku sambil mengambilkan baju di lemari.


Aku duduk dengan perasaan was was. Gugup dan tegang, saat menunggu nama istriku di panggil di klinik kehamilan tempatku memeriksa.


Aku takut kalau alat itu rusak dan salah, aku tidak bisa mengatur perasaan terlukaku nanti.


Aku malu kalau harus menangis di sini.


Aku melirik sekelilingku, banyak pasangan muda yang datang. Sudah ada yang perutnya membesar, ada juga yang bawa bayinya.


"Semoga ini menjadi kado terindah.." ucapku mencium tangan istriku. Tangannya dingin, aku meliriknya. Ternyata dia pun gugup, bukan hanya aku yang gugup menjadi seorang ayah. Pasti dia juga gugup, akan menjadi seorang ibu. Dan bahkan sedang mengandung.


"Tenanglah, Dek. Jangan tegang.. Tanganmu dingin sekali ini." godaku membuatnya mengerucutkan bibirnya.


"Aku takut, Mas." ucapnya pelan.


"Takut kenapa, kan cuma periksa. Apapun yang terjadi kita serahkan semuanya." aku berharap itu pun bisa ku lakukan pada diriku. Aku sendiri dari tadi menata hatiku agar tidak rapuh jika memang belum saatnya.

__ADS_1


"Nyonya Kokom Komariah." teriak suster.


Aku masuk keruang periksa bersama istriku.


Kami duduk berhadapan dengan dokter kandungan.


"Selamat pagi, ibu bapak. Baru mau periksa atau sudah lanjutan." ucapnya menyapa kami.


"Pagi, Dok. Baru mau periksa, Dok." aku menyodorkan alat tespeck kepadanya.


"Oh.. baru periksa ya. Kapan alat ini di gunakan, Pak." tanyanya sambil melihat tespeck.


"Baru saja tadi, Dok. Kami langsung ke sini."


"Baiklah, ibu terakhir haid tanggal berapa?."


"Hmmm... tanggal berapa ya, Mas." tanya istriku padaku.


Aku mengambil ponselku, membaca chat terakhir istriku meminta di belikan pembalut.


"Tanggal enam bulan Maret, Dok." ucapku membaca chat.


Dokter mengangguk anggukan kepalanya.


"Kehamilan yang ke berapa, Bu?"


"Pertama." jawab istriku.


"Ada keguguran sebelumnya?"


"Alhamdulillah, tidak pernah Dok." ucapku.


Dokter menulis dan melirik kalender di depanku. Aku dan istriku saling melirik.


"Baiklah. Sekarang saya jelaskan dulu ya Pak Bu." Dokter menatap kami bergiliran.


Kami mengangguk.

__ADS_1


"Sementara perkiraan usia kandungan ibu berusia sembilan Minggu 3 hari. Kalau di bulan kan sekitar dua bulan 10 hari. Untuk menentukan kira kira kapan lahir. Kita dapat perkiraan Hari Perkiraan Lahir atau di sebut H P L di tanggal tiga belas Desember ya Bu, Pak." ucap Dokter pada kami.


Aku mengangguk.


"Sekarang silahkan ibu berbaring, kita lihat melalui USG ya. Sudah sebesar apa Dede bayinya."


Istriku naik ke atas brankar dengan monitor USG di atas dan depannya.


"Ada keluhan apa aja selama ini." tanyanya sambil memakai sarung tangan (safety glove).


Perut istriku di balur gel oleh suster.


Aku tegang saat menunggu layar menampilkan gambar. Saat Dokter menyusuri perut istriku dengan alat USG, aku yang duduk terasa tak sabar menunggu.


DUG ... DUG ... DUG ...


Bunyi yang keluar dari alat membuatku gemetar. Itukah detak jantung anakku?


Gambar berbentuk gumpalan tidak jelas bentuknya terlihat mengapung ke sana ke sini.


Ada dua lingkaran di dalam kantungnya.


Aku penasaran dan mendekat.


Dokter menghentikan tangannya, memencet beberapa tombol pada keyboard monitornya.


"Nah.. dug dug ini bunyi jantungnya ya Bu, Pak. Selamat perkiraan anaknya kembar. Ini kepala satu dan ini satu lagi." Dokter mengarahkan kursor pada salah satu bulatan di dalam kantung.


"Ini jantungnya." Memindahkan ke arah bawah tepat di bawah kepala.


DUG ... DUG ... DUG ...


"Dua duanya dalam keadaan sehat, jantungnya berkembang dengan baik." ucap sang Dokter. Aku senang sekali mendengarnya.


Aku meminta satu tapi di beri bonus satu.


"Luar biasa, ternyata kecebong ku tersisa dua di dalam kantung itu." kekeh ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2