ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
SAYUR ASEM


__ADS_3

Aku sudah ijin sama Mas Baskoro untuk membeli sedikit demi sedikit perlengkapan dapur. Ya karna kami hanya memiliki rice cooker dan panci kecil untuk masak mie.


Kemarin sore sudah di ajak Mpok Rodiyah dan bersama beberapa ibu komplek ke toko kelontong.


"Ini wajan, ini panci, ini dandang, ini baskom. Nama keluargamu Mbak." cekikikan Mpok Rodiyah saat mengajarkan nama nama perabotan dapur. Sebenarnya aku sudah tau namanya, cuma aku belum bisa masaknya. Ibu selalu menyuruhku ambil ini itu, cuci ini itu tapi di saat di mintanya masak aku selalu kabur dengan berbagai alasan.


***


"S a- y ur.... sayur... " teriak Mpok Bedah di depan gang.


Aku berlari ke luar melihatnya ada di dekat rumah Mpok Rodiyah.


Mpok Rodiyah yang baru keluar melihatku berdiri di depan pagar.


Aku melambaikan tanganku.


Mpok Rodiyah mendekati ku.


Aku mendekat dan menunggu tukang sayur.


"Entar mau masak apa, Mbak?" tanyanya.

__ADS_1


Kami berjalan ke arah pos pojok gang di dekat rumahku.


Aku bingung masak apa, karna belum terpikir masak apa. Aku hanya semangat mau belajar masak. Aku malu saat pertama kali makan makan di sini dengan lahap aku makan masakan ibu ibu yang nikmat di lidahku.


"Hmmm.. sayur asem, Mpok. Yang waktu itu di masak Bu RT seger enak, Mpok." ucapku sambil menahan liurku menetes, mengingat saat menikmati sayur asem dengan sambal dan ikan asin.


"Iya oke kalau gitu."


"Sayur.. sayur.." ucap Mpok Bedah berhenti di hadapan kami. Kebetulan rumahku di ujung gang, jadi beberapa ibu kumpul menanti tukang sayur.


"Mpok, mau sayur asem." kataku.


Mpok Rodiyah tertawa, "Lah, kenapa kudu minta Mbak. Itu sayur asem di depanmu." sambil menunjuk bungkusan di hadapanku.


Aku malu dengan hanya tersenyum sedikit.


Ibu RT membantuku bicara, "wajah, Mpok. Ya namanya belum tau, ya tanyalah. Ya, Mbak.."


Aku tertawa tipis, "Iya Bu.." sahutku.


Aku mengambil sayur di hadapanku, aku ragu ini apa bukan ya. Jangan sampai malu kedua kalinya, batinku.

__ADS_1


Aku lihat isinya sama persis seperti sayur yang ku makan tempo hari, tapi ini kenapa ada terongnya ya. Apa waktu itu ada, tapi aku gak makan. Aku mengangguk kepalaku yang tak gatal.


"Mau masak sayur asem, Mbak?" tanya ibu Rengganis. Dia melihat tanganku yang ragu ragu membalikan bungkusan sayur.


"Iya."


"Boleh saya bantu pilih.." dia bertanya dengan sungkan. Berarti benar dugaan ku, ini bukan sayur asem. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Jangan Bu, biarin belajar. Kasih tahu aja bedanya, sayur lodeh sama sayur asem." ucap Mpok Rodiyah.


Aku menggaruk kepalaku.


"Iya deh, Mpok." jawab ibu Rengganis dengan pasrah.


"Yang ad terongnya itu lodeh, Mbak. Walau sama tapi beda bumbu dan cara masak. Sayur asem gak pake terong. Walau ada yang suka pake terong, tapi terong hijau bukan ungu." ucap ibu Rengganis. Aku mengangguk angguk dan mencari bungkusan plastik yang isinya persis seperti yang ku makan dan tanpa terong.


"Mpok, kalau mau ngajarin jangan setengah-setengah atuh.." ledek Mpok Bedah.


"Bukan setengah, Mpok. Si Mbaknya bilang pengen sayur asem yang di makan waktu makan makan tempo hari. Berarti udah tau dong isinya apa aja, saya biarin biar dia tahan sendiri apa yang mau di masak. Urusan masaknya sama bumbunya nanti saya ajarin." ucap Mpok Rodiyah.


Aku gak bisa si marah, memang betul ucapan Mpok Rodiyah. Aku sudah pernah makan, seharusnya aku tau namanya walau gak bisa masak. Di usiaku segini dan sudah berumah tangga, sangat di haruskan minimal tahu nama masakan. Aku jadi tambah malu.

__ADS_1


__ADS_2