ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
LUMRAH,BIASA


__ADS_3

"Bu Kom, ngapain? Sini makan rujak." panggil Mpok Rodiyah melambaikan tangannya.


Aku mengangguk senang.


Aku mendekati Mpok Rodiyah yang sedang duduk bersama ibu ibu di pos pojok.


"Eh bumil,, sehat?" sapa Bu RT.


"Alhamdulillah Bu, sehat." ucapku.


"Duduk sini." lambai tangannya padaku.


Aku mengangguk mendekat.


"Berapa bulan sekarang, Bu Kom?" tanya Bu Rengganis.


"Alhamdulillah Bu, sudah masuk 24 Minggu." jawabku.


"Wah, nikmatnya mabok itu." goda Mpok Rodiyah.


Aku mengangguk, "Ya begitu, Mpok." tawaku.


Kami menikmati rujak yang sudah di siapkan ibu ibu, ada sambel kecap garam, sambel kacang gula ada juga yang cuma garam cabe.

__ADS_1


Mangga muda, jambu air, pepaya setengah matang, dan jambu batu jadi porsi pas dan lengkap.


"Itu kantong ajaib ya, Bu Kom?" goda Mpok Rodiyah menunjuk kantong kopi sama beras.


Aku tersipu malu.


"Gak usah malu Bu Kom, kami juga punya kebiasaan sendiri waktu hamil." tawa Bu RT dan ibu ibu komplek.


"Itu masih bagus Bu Kom, kopi ya sama beras?" tanya Mpok Rodiyah.


Aku mengangguk.


"Saya dulu terasi." tawa kelakar Bu Kumala.


Di sambut tawa Bu RT, "Iya saya inget dulu, setiap ketemu Bu Kumala itu baunya khas banget."


"Iya, bener Bu RT. Dulu waktu saya baru pindah kesini, saya kaget kalau malam pas Bu Kumala lewat gak lama bau terasi. Saya pikir ada demit, Bu." tawa Bu Rengganis.


"Iya bener, orang tua dulu bilang. Kalau bau terasi malam malam itu suka ada demit." timpal Bu Kom.


"Iya, soalnya waktu itu saya belum tau kalau Bu Kumala lagi ngidam. Terus bawa bawa terasi. Karna saya baru pindahan." jelasnya.


Aku bersyukur, aku gak termasuk yang terlalu aneh. Aku mengusap dada.

__ADS_1


"Kenapa Bu Kom, sesek nafas? " Tanya Bu RT


"Ah, Gak Bu.." aku mesem.


"Kirain sesek nafas, kok usap dada gitu." lanjutnya.


"Gak Bu, saya bersyukur ternyata saya ngidam gak terlalu aneh." tawaku.


"Oalah, mikirin ngidam takut di bilang aneh, ya. Ah Bu Kom, kita sebagai wanita yang pernah hamil sudah gak aneh sama ngidam. Terasi, kopi, beras, bunga, teh macem macem lah. Yang penting gak membahayakan, Bu Kom. Santai aja, namanya hamil itu anugrah." Bu RT menenangkan hatiku.


"Iya Bu, kadang saya juga ngerasa aneh tapi ya kalau gak di ikutin suka sedih tiba tiba nangis." aku tersipu malu.


"Iya emang begitu Bu Kom." timpal Mpok Rodiyah. "Itu namanya ngidam, bawaannya cengeng. Ada juga yang senengnya marah marah, ngeliat suami bawaannya kesel, sebel malah ada yang sampai gak mau di sentuh. Ada yang genit, kerjaannya dandan terus. Ada yang kucel terus itu mah udah gak aneh ya, ibu ibu."


"Iya kaya saya, saya sebel banget sama suami. Waktu hamil anak pertama, kerjaannya ribut terus ribut setiap hari. Sampe akhirnya saya keguguran malah, Mpok." timpal Bu Rengganis.


Aku kaget, ku pikir bayi yang di gendongnya adalah anak pertama. Ternyata itu anak keduanya.


"Sabar ya, Bu." ucapku.


"Iya, Bu. Sudah lama.. sekarang sudah ada gantinya." dia menatap wajah mungil dalam gendongannya.


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Semoga lancar ya, Bu. Kehamilan serta persalinannya nanti. Biar sehat sehat terus ibu dan bayinya." doanya untukku.


Aku mengangguk ,"Aamiin.. terimakasih, Bu." ucapku.


__ADS_2