
Usia kandungannya sudah mulai masuk usia tua. Emosinya sering kali melonjak lonjak, tidak jarang membuatku kewalahan padahal masalahnya kadang hanya sepele.
"Yang, kamu banyak istighfar kalau lagi kesel. Jangan di ikutin terus emosimu, nanti darah tinggi Loch." bujukku
"Istighfar istighfar, memang aku harus laporan sama kamu, Mas. Kalau aku istighfar terus dalam hati. Aku itu gak ngerasain apa yang aku rasain, Mas. Aku kan sudah bilang, kalau aku gak mau ada orang lain di rumah."
"Ya aku tahu, sayang. Tapi perutmu sudah membesar, kamu harus ada yang temani. Bagaimana nanti kamu mules, aku kerja. Siapa yang bantu kamu pertama kali." aku mencoba menjelaskan maksudku pada Kokom.
"Ya intinya aku gak mau, mau itu Mamaku atau ibumu. Siapapun itu. Aku mau sendiri, Mas. Gak nyaman tahu kalau ada orang lain."
Aku terbiasa sendiri, entah kenapa semenjak trimester ketiga ini aku tidak suka ada orang asing ke rumahku. Ya padahal orang tua kami bukan orang asing. Dan sebenarnya saran Mas Baskoro juga benar. Tapi entah kenapa aku gak suka.
Jawabannya membuatku bingung, aku memikirkan bagaimana jika nanti keadaan darurat, sedangkan aku jauh di tempat kerja. Gak mungkin dalam waktu singkat aku sampai kerumah.
"Kenapa gak suka, sayang. Kan enak nanti ada yang bantu masak, cuci piring bahkan ada yang temani kamu nonton tv."
"Aku gak mau, aku bisa sendiri kok. Memang Mas sudah gak mau bantu kerjaan, rumah? Mas capek bantu, aku?." dia merungut kesal.
"Mas gak capek, sayang. Cuma Mas khawatir, kan melahirkan itu gak bisa di tentuin waktunya, sayang." bujuk ku lagi.
"TITIK. Aku gak mau. Aku gak mau ada yang ganggu. Mas gak mau bantu aku lagi, aku tinggal pesan makan di luar. Biar rumah bersih terus jadi gak perlu masak."
__ADS_1
Habis sudah caraku membujuknya, sekarang yang kubisa hanya diam. Dan berdoa semoga di saat perutnya kontraksi, aku ada disisinya.
Aku gak habis pikir, istriku yang penurut selama hamil hilang entah kemana. Apa mungkin ini tanda bahwa sifat anakku akan seperti ini. Ya Allah berikanlah aku kesabaran...
Tiba tiba marah, tiba tiba nangis, tiba tiba manja.. sabar kan aku ya Allah.. Aku yang begini sudah terasa berat apa lagi istriku yang merasakannya. Ringankan nikmatnya persalinan nanti ya Allah, mudahkan dia sehat dan selamatkan keluargaku. Aku berdoa sambil mengusap kepalanya.
"Ya sudah kalau gitu, kamu harus janji. Kalau terasa kontraksi langsung telpon, Mas. Jangan jauh jauh dari hape kamu, ya. Jangan sampe lowbat, makan yang banyak. Mas sudah masak yang kamu mau tadi, sekarang Mas berangkat dulu, ya." aku mencium keningnya.
"Ya." jawabnya singkat sambil merunggut. Mungkin masih kesal dia, biarlah.
Dia mencium tanganku dan melambaikan tangan seperti biasa saat aku berangkat kerja, yang ku syukuri saat ini adalah aku tidak lagi perlu pakai baju warna warni dan kaos kaki belang.
Saat keluar gang aku bertemu Mpok Rodiyah, tetangga rumahku. Aku menghentikan motorku.
Dia menatapku di balik helmku.
"Eh alah,, Mas Baskoro toh. Ade ape?." tanyanya dengan logat Betawinya.
"Hehe, gak ada apa apa si, Mpok. Cuma mau minta bantuan boleh, gak?." aku sebenarnya sungkan, tapi apa dayaku kali ini.
"Ade ape? Penting banget kayanya. Ngomong aje, Mas." Mpok Rodiyah memang orang baik, walau dia cerewet tapi dia sangat perhatian padaku dan Istriku.
__ADS_1
"Hem.. bisa minta tolong, nanti tolong lihat lihat istri saya di rumah ya, Mpok. Takut mules gak ada temennya, dia. Maaf ya Mpok, jadi ngerepotin saya." aku menundukan kepalaku sedikit.
"Ya Allah, di kira kenapa. Ya itu mah tenang aja, ntar kita longokin kerumah." Mpok Rodiyah menepuk tangannya ke udara.
"Maksih ya, Mpok. Kita ngerepotin terus. Soalnya Istri saya gak mau di temenin ibunya atau ibu saya, saya jadi bingung. Di bujuk malah marah, nangis dia, Mpok." ungkapku.
"Ya, biasa itu mah. Bawaan hamil emang ada yang gitu." ucapan Mpok Rodiyah membuatku tenang, benar pilihanku meminta tolong kepadanya.
"Maaf ya, Mpok. Kalau nanti istri saya ngerepotin atau ada kata kata gak enak, Mpok. Dia emosian banget, Mpok." aku takut nanti Kokom gak sopan saat Mpok Rodiyah kerumah.
"Udah tenang aje, Mas. Kita sudah biasa sama ibu hamil.." dia tertawa. Hatiku lega.
"Maksih ya, Mpok. Kalau gitu saya berangkat dulu, Mpok." aku kembali memakai helm.
"Iya, Mas. Hati hati di jalan." ucapnya.
Aku mengangguk.
Hatiku sudah lega mendengar kesediaan Mpok Rodiyah, aku juga sudah meminta bantuan Pak RT kalau kalau nanti istriku mules langsung di bawa aja ke klinik terdekat. Walaupun begitu, rumah Pak RT ada di belakang barisan rumahku, rasanya masih kurang tenang. Sekarang aku tinggal berdoa semoga semua berjalan lancar hingga hari dimana istriku melahirkan anak anakku nanti.
Aku juga sudah mengabari kedua belah pihak orang tua kami, agar tidak usah kesini. Karna Istriku tidak mau di temani. Tapi aku tidak tega bicara seperti itu pada orang tua kami, aku hanya bilang, Kokom baik baik saja nanti kalau sudah mulai kontraksi di kabarin.
__ADS_1
Syukurlah mereka mengerti.
Hari ini terlewati dengan aman, terimakasih ya Allah.