
Aku sudah tenang untuk pulang. Rita memberiku kemudahan kali ini.
Ada beberapa jenis buah di kantong untuk ku bawa pulang.
"Apel Malang setengah merah, jeruk yang kulitnya kuning dan hijau, strawberry... hmmm.. sepertinya ini bukan dua warna Rit, tapi belum matang." ucapku menunjukan strawberry yang di ujungnya masih putih.
"Ya biarin lah, Mas. Yang penting dua warna, dari pada ngamuk yang di rumah." ucapnya sambil menghitung uang yang ku bayarkan tadi.
Aku mengangguk angguk.
"Ya sip, mudah mudahan salah satu dari semua ini ada yang benar di inginkan istriku ya, Rit." ucapku membungkus kantong buah dan memasukkan ke dalam box motorku.
"Aamiin, Mas. Yang sabar ya.. Aku pamit duluan ya." Rita menaiki motornya dan melambai padaku. Aku mengangguk dan melambai balik.
"Hati hati dan makasih, ya." ucapku.
Sepanjang jalan aku berdebar, bagaimana tidak, jika salah apa yang di inginkan ratu di rumah. Dengan pasti malam ini aku keliling mencari apa yang dia mau.
Semoga saja salah satu dari yang ku bawa ini benar. Aku memarkirkan motorku di depan rumah.
KKRRETTT ...
Aku menoleh ke arah pintu, istriku belum tidur ternyata. Biasanya jam segini sudah tidur.
"Alhamdulillah sudah pulang, Mas." ucapnya seraya meraih tanganku.
"Iya, Dek. Kamu belum tidur, tumben. Kenapa?" tanyaku sambil membuka sepatu.
"Nunggu, Mas." ucapnya lagi sambil senyum senyum.
Aku mengangguk, aku tau yang di tunggu bukan aku pastinya. Karna biasanya dia sudah tidur, apalagi semenjak hamil. Katanya badannya gampang capek kalau sudah kena kasur.
"Nunggu, Mas... Yakin.." ledekku sambil memiringkan bibirku.
Dia cengar-cengir sambil menggoyang kan tubuhnya.
"Ini coba kamu cek, sayang. Semoga ada yang kamu mau, ya." aku menyerahkan bungkusan buah yang ku bawa tadi.
Dengan antusias dia meraih dan membawanya masuk ke dalam. Sambil teriak, "Makasih, Mas". Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya.
__ADS_1
Aku masuk dengan was was, saat di dalam tidak terdengar suara apapun.
Aku bergegas masuk melihat kondisinya.
Aku melihat istriku yang duduk menghadap bungkusan yang ku bawa dengan melipat tangan di perutnya.
Ada apa ya, apa ada yang salah? Semoga tidak. Aku mendekat dan mengusap bahunya.
"Ada apa, Sayang. Kok di lihatin aja buahnya." aku melirik isi bungkusan yang sudah di keluarkan olehnya.
Dia cemberut dan diam saja. Sambil terus mendengus membuang nafasnya.
Aku sudah yakin, aku salah. Dan pasti apa yang di inginkan olehnya tidak ada di bungkusan itu.
"Kenapa sayang, ada yang salah? Buah yang kamu mau tidak ada, ya." tanyaku dengan lembut, padahal aku sudah tau jawabnya. Aku hanya berharap dia bilang mau makan apa, supaya kepalaku tidak pusing.
"Aku kan mau buah dua warna yang lucu, Mas." ucapnya sambil terus cemberut.
Aku menghela nafas, aku harus sabar dan sabar. Buah lucu!! Apa ada buah yang bisa ngelawak? Huh..
"Ya, maaf ya sayang. Kamu mau buah lucu ya, apa namanya. Atau bentuknya kaya gimana, coba bilang sama Mas." aku mengusap kepalanya dan mencubit cubit pipi chubby nya.
Aku meraihnya dan melihat apa yang ingin di tunjukan olehnya.
Astaga.... Gambar buah mangga berkeluarga.
Aku menepuk keningku, buah mangga oh mangga. Gara gara dirimu sekarang aku harus keluar lagi cari ini buah.
Aku menyerahkan ponselnya.
"Ya sudah, sayang. Mas keluar dulu ya, Mas beliin Mangganya. Lain kali kalau kamu mau sesuatu, terus ada gambarnya. Kasih tau Mas, ya.. Biar Mas gampang carinya." aku mengecup kepalanya dan pergi.
Aku hanya berharap di jam malam ini masih ada toko buah dan harus dapat yang dua warna yaitu kuning dan hijau.
Aku menyusuri sepanjang jalan, sudah sampai di pinggir kota tapi belum ada juga toko buah. Aku harus kemana ya, masa kembali ke dalam kota. Sudah malam, laper juga.
Setelah hampir sejam aku berkeliling, akhirnya dapat buah mangga yang di inginkan.
Aku kembali kerumah dan memarkirkan kembali motorku.
__ADS_1
Istriku sudah berdiri di depan pintu, wajahnya menanti.
"Mas, kenapa lama. Aku takut sendirian, sudah malam juga. Kalau gak ada gak usah, Mas. Biar besok aja." ucapnya belum sempat aku turun dari motorku.
Ah aku senang, ternyata dia mengkhawatirkan diriku bukan buah Mangganya.
Aku tersenyum sambil menggoyangkan bungkusan.
"Ada, sayang. Ini Mas dapat kok Mangganya." wajahnya sumringah kegirangan.
Dia meraih tanganku, mencium tanganku seperti biasa dan juga meraih bungkusan tentunya. Dia mencium pipiku dengan riang.
Aku tersenyum melihat kebahagiaannya. Ternyata ngidam memang mempengaruhi sekali ya, tadi dia menangis tanpa suara dan cemberut tak mau menatapku. Sekarang dia tersenyum manis dan menciumiku.
"Apalagi yang kamu inginkan, kecebong kembar. Tapi terimakasih, lelah Ayahmu ini terbayar melihat Mamamu bahagia." gumamku sambil membuka pintu.
Aku melihat istriku yang sibuk menyiapkan makanan, ada susu dan teh juga.
Dia sedang mencuci mangga dan membawanya ke meja. Aku tersenyum melihatnya, padahal sudah jam sebelas malam tapi matanya masih terang.
"Mas bersih bersih dulu dan ganti baju, habis itu kita ngeteh, Mas." ucapnya sibuk dengan buah mangga.
Aku masuk ke kamar dan mencuci mukaku. Setelah rapi menganti baju aku mendekati istriku.
"Kamu sudah makan, sayang." ucapku sambil mengusap rambutnya.
"Sudah tadi sore, Mas. Mas sudah makan malam belum?." ucapnya sambil menyuapiku mangga.
"Sudah tadi, tapi lapar lagi ini." aku mengusap perutku.
"Mas duduk, biar Dek siapin makanan, ya." dia memintaku duduk dan meninggalkan ku ke dapur.
Aku melahap makanan yang di siapkan istriku. Dengan menatapnya yang sedang lahap memakan buah mangga.
"Manis ya buahnya.." tanyaku.
"Iya Mas, enak manis. Mas mau lagi?." tanyanya padaku sambil mengupas buah mangga yang ketiga.
Aku menggelengkan kepalaku, "Mas kan lagi makan, sayang." aku mengangkat piringku.
__ADS_1
Dia mengangguk.