ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
KEDINGINAN,


__ADS_3

Aku menatap pantulan cahaya dari lampu besar di atas ku.


Tangan yang di ikat, kaki yang tak ada rasa dan udara yang cukup dingin menambah kecemasan hatiku.


Jantungku berdetak kencang saat melihat perutku di sayat, sayatan demi sayatan merobek daging yang ada di perutku. Dari kulit luar, daging berwarna merah, merah kemudaan, agak pink samar, pink selanjutnya seperti kulit tipis berwarna merah yang di robek kecil lalu di tarik oleh jari Dokter ke sisi. Pastinya jika tidak di bius aku akan loncat loncatan.


Kriss ... Mungkin itu bunyi sayatan pada kantung yang berwarna merah samar bertekstur.


Dengan sigap Ners (Laki laki) memberikan alat vakum yang lumayan berisik, mengalahkan percakapan paramedis di ruangan.


Brass ... Bleg ... Bleg ... Bleg ...


Suara sedotan air dan darah dari perutku.


Tak lama proses itu segera Dokter Ayu dan Adit mendorong tubuh bawahku dengan keras, sehingga terasa guncangannya.


Bleg ... terasa seperti ada yang keluar...


Tak lama kepala anakku menyembul keluar, satu.


Oeeaa ... Oeeaa ... suara tangisan pertama, berhasil membuat aku menangis terharu.


Diangkat oleh Dokter ayu dengan memegang tubuhnya, aku melihat Dokter Ayu memperhatikan dari leher hingga bagian perut anakku. Dia memberikan satu anakku kepada Bidan yang dengan sigap menerimanya dan membawanya dengan troli bayi.


Dengan terus memanggil...


Aku menatap punggung Bidan yang sedang fokus dengan salah satu anakku.


Bleg ....


Oeeaa ... Oeeaa ....


Aku kembali fokus pada kaca lampu, melihat anak keduaku lahir. Tubuhnya lebih kecil dari pada yang pertama.


"Ibu, Alhamdulillah bayinya sudah lahir semua. Ibu mau lihat?" pertanyaan Dokter Ayu sepertinya tak perlu jawab, yang pasti aku mau banget.


Aku mengangguk antusias dan senang.


Tapi tiba tiba nafasku terasa berat, sesak sekali di dada dan dingin menyerap seluruh tenagaku.


Aku melambaikan tangan ke Ners (Perempuan) yang menjaga di sisiku. Dia dengan sigap mendekat tanpa bertanya langsung memberiku alat pernapasan.


Ah ... terasa seperti tenggelam di dasar laut. Begitu sulit hanya untuk bernafas.


"Ibu yang tenang, ya. Sebentar lagi selesai. Dingin ya badannya?." tanyanya dengan ramah. Aku mengangguk.


Dia mengusap telapak tanganku dengan tangannya. Sedikit perhatiannya membuat aku terharu, semoga kamu tidak merasakan melahirkan yang begitu sulit ini, mbak. Ku selipkan doa sebagai terimakasih.


"Kenapa? Dingin sama sesak, ya?" Dokter bertanya kepada Ners.


"Iya, Dok." jawabnya tanpa melepas usapan tangannya.


"Sabar ya, Bu. Sebentar lagi bertemu dengan kedua gadis cantik. Operasinya juga sebentar lagi selesai. Tarik nafassssss lalu buang, terus perlahan lahan, ya." sarannya. Aku hanya bisa mengedipkan mata.


Rasa dingin sudah menjadi menggigil, sekujur tubuhku terasa bergetar. Ingin sekali bertumpu dengan lutut ku memakai selimut tebal. Tapi untuk saat ini mustahil, menggerakkan kaki pun tak mampu.


Bunyi troli bayi menghampiri pintu, aku menoleh sekuat tenaga melawan rasa menggigil.


"Nah... Gadis kembar kita sudah datang, dekap kan ke ibunya. Tapi hati hati, Ibu sedang sesak nafas, Mit." Dokter memperingatkan Bidan yang bernama Mitha itu.

__ADS_1


"Iya, Dok." Bidan Mitha mendorong troli ke dekatku.


Satu persatu anak gadisku yang mungil, menggeliat geliat di gendongan Bidan Mitha beralih ke dadaku. Tubuhnya di bungkus selimut, masih berlumuran dengan vernix Caseosa (lemak putih).


"Kedua bayinya sehat dan Alhamdulillah normal, Bu." menahan tubuh mungil di atas dadaku.


Suhu tubuhnya menghangatkan tubuhku, tak terasa air mata haru membasahi pipiku. Nafas yang tadinya begitu berat kini terasa lebih baik, walau menggigil masih terasa.


Aku memberi kode kepada Ners untuk melepas alat bantu nafasku. Ners mengerti kodeku dan melepaskannya.


"Bu, boleh cium gak?." tanyaku.


"Boleh dong, Bu." menempelkan pipinya pada pipiku.


'Ya Allah, sungguh beruntung aku bisa melahirkan mereka, semoga aku bisa menjaga amanah dariMu. Sehatkan keluargaku, agar bisa mendampingi mereka hingga besar. Sehat sehat, Nak. Tumbuhlah jadi anak yang Sholehah, Pintar dan berkah hidupnya.'


"Nah, sekarang yang mungil mau peluk ibu juga ya." Bidan Mitha mengangkat satu putriku mengganti dengan putriku yang lain.


Tubuhnya lebih kecil dari yang tadi, aku sedikit cemas.


Kecemasanku terlihat jelas oleh Dokter dan Bidan Mitha.


"Dia agak kecil sedikit, Bu. Mungkin adiknya atau biasanya kakaknya, ya. Yang suka mengalah, penyayang dan penyabar." Dokter menjelaskan.


"Tapi tenang saja, gak ada kelainan atau gangguan kesehatan lain yang kami temukan,. Insha allah tubuhnya sehat, Bu." sambung Dokter cantik bertubuh mungil di sisi pintu berjalan ke arahku.


"Bangga sekali ya, Bu. Bisa memiliki dua sekaligus bidadari dunia akhirat kita." ucapnya kepada kepala anakku.


Aku mengangguk tersenyum."Terimakasih, Dok."


"Ini Dokter Wulan, Dokter Anak yang menanggani kedua bayi cantik, ibu.." Bidan Mitha mengenalkannya padaku.


"Sehat sehat ya, kalian." doanya seraya mengusap kedua bayiku dan keluar ruangan.


Kedua bayiku di bawa Bidan Mitha keruang khusus untuk observasi. Dan tentu untuk di adzan kan oleh suamiku.


"Bayinya di observasi dulu ya, Bu. Untuk penyesuaian Dede nya, semoga tidak ada masalah kesehatan apapun yang muncul." ucap Dokter Ayu.


"Iya, Dok. Aamiin."


"Nanti setelah, bius ibu menghilang efeknya. Observasi selesai, besok pagi pasti adiknya di bawa ke kamar inap. Baru deh kasih nen... Sudah keluarkan ASI-nya, Bu?." tanyanya sambil fokus dengan perutku.


"Alhamdulillah, sudah Dok." sahutku dengan menatap pantulan cahaya di lampu.


"Syukurlah, jadi bisa langsung nen kedua bayi cantik nanti." sambungnya.


"Iya, Dok."


Argh ... aku ngeri banget saat melihat jarum yang bengkok menembus kulitku. Kulitku di tarik di tembus dengan jarum dan benang. Di dalamnya ternyata sudah di jahit juga, dengan benang putih yang kontras warnanya.


Dokter menekan nekan perutku, darah yang keluar di bersihkannya dengan kasa dan cairan Betadine, mungkin. Baunya sama antiseptik, tapi aku gak tau itu namanya.


Selanjutnya Ners yang di sisiku merapihkan alat, yang terpasang padaku dan yang ada di bengkok (nampan) bekas operasi.


"Nah... sudah selesai di jahit." Dokter berseru.


Dokter menempel plester anti air di luka sayat perutku.


Ners (laki laki) membersihkan sisa darah yang menempel di perutku. Menarik selimut khusus operasi dari tubuhku. Merapihkan posisi kantong air seni ke sisi kakiku dan menutup tubuh bagian bawahku dengan selimut baru.

__ADS_1


Ners ( perempuan) sibuk merapihkan alat.


Ada yang mendorong alat vakum keruangan sebelah.


"Alhamdulillah sudah selesai ya, Bu. Cepet pulih kembali, sehat sehat untuk kedua buah hatinya, ya." melepas sarung tangannya.


"Iya, Dok. Terimakasih." aku mengangguk.


"Nanti jangan minum, makan dulu sebelum bisa buang angin, ya. Tujuannya untuk mengeluarkan gas di usus yang di sebabkan obat bius. Jadi kalau sudah kentut baru bisa makan minum ya." jelaskan


"Baik, Dok." ikatan tanganku di lepas dan penutup perutku pun di lepas.


Aku melirik perut yang tadi habis di '*Obo obo*k' Dokter.


"Kalau satu jam ibu belum kentut, ibu bisa mencoba gerak gerak kaki ya. Karna efek bius sudah mereda. Ibu bisa mencoba memiringkan tubuh sebisanya, ya. Jangan di paksa." ucap Dokter Adit memberi penjelasan.


"Saya pamit ya, Bu. Cepet pulih, ya." Dokter Ayu pamit menepuk kakiku yang sebenarnya tidak merasakan apapun.


"Iya, Dok. Terimakasih banyak."


Beliau mengangguk, "Duluan, ya. Masih banyak pasien." pamitnya pada Dokter Adit.


"Sip" Dokter Adit mengacungkan jempol.


"Dok, saya kedinginan kenapa, ya?." tanyaku karna memang menggigil sekujur tubuhku ini.


"Oh, itu efek bius dan traumatis dari bekas luka operasi yang cukup besar. Itu wajar Bu, nanti setelah satu jam insha Allah hilang dengan sendiri rasa menggigilnya." jelasnya. Melepas baju khusus hijau yang terkena darah.


"Oh, iya Dokter kalau gitu. Makasih ya, Dok." ucapku.


Dokter Adit mengangguk, " Saya tinggal ya, Bu. Selebihnya bisa di tanyakan sama Ners yang jaga di ruangan observasi nanti, ya. Cepet sehat salam buat adik bayinya." Dokter Adit melambaikan tangannya pada kami yang masih di ruangan.


"Ah.. Dokter.. bikin aku hatiku menggigil." logat manja seorang Ners yang sedang mendorong tempat tidur.


"Lah lah, ada ada aja kamu, Din." ledek Ners (laki laki).


"Maaf ya, Bu. Kita pindah ke tempat tidur dulu, sedikit gak nyaman, ya." sapa nya.


"Iya, mbak."


Aku di pindahkan oleh tiga Ners yang membantu. Setelah di tempat tidur baru, hatiku sedikit tenang. Rasa trauma operasi berkurang. Walau masih kedinginan, tapi sesak nafasku sudah hilang.


"Dingin ya, Bu." tanya Ners yang membawa tempat tidur.


"Iya, Mbak."


Dia tidak menjawab, tapi menyelimutimu dengan selimut baru hingga dadaku.


"Terimakasih, Mbak."


Dia membalas dengan senyuman juga.


"Gw, bawa ya." pamitnya pada para medis yang masih sibuk di dalam.


"Iya bawa dah, masih banyak yang ngantri." sahut Ners ( laki laki ).


"Terimakasih banyak semua, Mas, Mbak." pamit ku.


"Iya sama sama, Bu." mereka menjawab serempak.

__ADS_1


__ADS_2