
"Neng, cari apa tengok tengok gitu." aku loncat seketika dia menepuk pundak ku.
"Aduh Bu... bikin kaget aja." aku mengelus dada. Badanku gemetar saking kagetnya.
Seorang ibu muda sambil menuntun anak balita yang cantik tersenyum padaku.
"Maaf maaf, Neng. Mpok ngagetin ya." ucapnya. Wah orang Betawi ini, Mpok.
"Iya, gak apa Bu." aku melirik anak gadis di sampingnya. Gemes sekali di kepang dua.
"Baru pindah ya, mau cari apa?." tanyanya perhatian. Wajahnya yang cantik alami tanpa polesan, alis tebal tapi rapi, rambutnya ikal dan hitam dan kulit sawo matang. Perpaduan yang cantik menurutku.
"hmmm.. iya Bu.. Saya cari warung, laper." ucapku sejujurnya.
"Ya lah, Neng. Di sini belum ada warung, tukang sayur ada setiap pagi doang keliling. Mpok Munah namanya. Laper mah hayu ikut kerumah, ntar kita makan bareng bareng di sana." sambil melambai lambaikan tangannya di hadapanku. Aku mengangguk hidungku yang tidak gatal sebenarnya.
"Makasih, Bu. Nanti biar tunggu suami pulang aja." tolak ku tidak enak padanya. Baru di kenal masa iya numpang makan, ya kali harusnya aku yang bawa bingkisan sebagai tanda perkenalan. Ini malah minta makan. Gengsi bro.
__ADS_1
"Udeh gak usah malu. Kenalin Mpok Rodiyah, noh rumahnya di samping kanan rumah, Neng. Suami Mpok namanya Sukri. Ini anak Mpok baru satu paling cakep di sini, Nabila. Salim sama Tante, Neng." menyuruh anak gadisnya bersalaman denganku. Ramah sekali, pada hari pertama saja dia sudah ramah seperti ini. Sampai sampai nama suaminya pun di sebutkan olehnya. Betah aku di sini kalau begini tetanggaku.
"Saya, Kokom dan suami saya Baskoro. Saya baru menikah dan belum punya anak." jawab polos tanpa sadar ikut mengenalkan suamiku dan juga pernikahanku.
"Oh iya iya, wajar ya belum punya anak kalau masih pengantin baru mah, Neng. Nyok jalan." menarik tanganku dan aku hanya mengikuti langkah kakinya.
"Ini rumahnya. Assalamualaikum. Suami Mpok juga kerja jadi gak ada orang. Hari Minggu juga tetep aja kerja orang susah mah, Neng." ucapnya membuka pintu.
Tanpa sadar aku sudah ada di dalam rumahnya. Memalukan sekali, magnet apa yang di miliki Mpok Rodiyah sampai sampai aku sudah ada di ruang tamunya.
"Tunggu ya, sebentar Mpok ambilkan makanan dulu." meninggalkanku masuk.
"Tante mau permen?" pertanyaan Nabila membuyarkan kekaguman ku.
Aku menoleh dan menggelengkan kepalaku, "terimakasih, sayang. Buat Nabila aja." ucapku sambil mengelus kepalanya.
"Neng, ntar bantuin bawa ya. Kita makan bareng di belakang rumah. Rumah Bu RT." melangkah membawa baki berisi makanan dan meletakkan di meja hadapanku.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi ya, masih ada yang di masak nunggu mendidih." ucapnya seraya duduk di sebelahku.
Aku kembali ke fokus pertama menatap foto yang di gantung di sudut ruangan. Karna mataku fokus kesana, Mpok Rodiyah menyadari itu.
"Itu foto, Mpok sama suami. Waktu Nabila umur 1 tahunan." aku terkejut kala Mpok menjelaskan tanpa aku minta.
Aku menatap Mpok dan beralih kembali ke foto itu.
"Keluarga.." lirihku.
"Keluarga Sukro. Penasaran ya, Neng." Mpok Rodiyah tertawa renyah. Senang sekali dia bisa menebak pikiranku. Aku menunduk malu berasa tertangkap basah.
Mpok Rodiyah menepuk tepuk bahuku ringan.
"Keluarga Sukri dan Rodiyah, Sukro." dia kembali tertawa setelah menjelaskan.
Aku tercengang mendengar penjelasannya. "Sukro" Sukri dan Rodiyah, ada aja idenya orang ini. Aku menggeleng kepalaku tipis dan tersenyum.
__ADS_1
"Ntar ya, Mpok angkat sayur dulu." aku mengangguk.