ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
KOPI, CANDU


__ADS_3

Ah nikmatnya rebahan setelah seharian capek kerja. Aku mendengus mencium aroma yang khas dari minuman setiap pagi ku seduh, kopi. Lah kenapa wanginya menyengat di tempat tidur.


Aku mencari cari sumber wangi, sampai akhirnya tepat di bawah bantal tempat istriku tidur. Dia yang masih berkutat dengan buah "Dua warna yang lucu" itu di depan.


"Ini kan kopi, kenapa di simpan di sini dan ini kenapa di bungkus begini, ya?." aku gak habis pikir, bubuk kopi di bungkus dengan kain berbentuk menyerupai dompet koin. Aku menepuk tepuk tempat tidur yang jadi kotor karna bubuk kopi yang keluar dari kantong.


Apa ini punya istriku, tapi buat apa?. Aku meletakkan bungkusan itu di laci.


Aku merebahkan kembali tubuhku yang lelah.


Di saat mataku sayup sayup menutup..


KLIK ...


"Eh, Mas belum tidur?." tanyanya padaku.


Aku membenarkan posisiku, "Belum Dek, baru mau merem." ucapku sambil menutup mataku.


"Hmmm.." jawabnya. Entah sedang apa dia merogoh rogoh tempat tidur dan membolak balikkan bantalnya. Aku sudah ingin lelap, biarkan lah dia mau apa.


"Lah.. lah.. ini siapa yang pindahin ke laci!." nadanya setengah menjerit.


Aku kaget mendengar dia setengah berteriak.


Aku langsung duduk seketika, "Ada apa, Dek?."


"Ini loh, Mas. Mas ya yang mindahin bungkus kopi ku ke laci?." tanyanya dengan kesal.


"Oh, iya sayang. Kenapa memangnya? Abis itu kotor, berdebu kan Dek." ucapku.

__ADS_1


Aku pikir kenapa, hanya prihal bungkus itu. Untung saja aku gak buang tadi, karna aku sedikit takut memang benar punya istriku.


"Apaan si kotor, kotor dari mana? Ini kan cuma kopi, lagian kok Mas iseng banget mindahin tanpa ijin." dia merapikan tempat tidurnya dan berbaring di sisi ku.


"Ya Maaf, sayang. Mas gak tau itu punya mu, Mas takutnya kamu lupa beli gak di simpan di dapur." rayuku.


"Enak aja, ini punyaku tau. Lagi pula ini bukan kopi yang Mas minum." dia melipat tangannya mendekap bungkus kopi. Sesekali di hirup aroma dari kopi yang di bungkus itu.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, tak ingin aku berkomentar lebih. Apapun yang di lakukan olehnya memang kadang tidak masuk di akal. Prihal kopi saja tidurku terganggu. Dan tentu saja sekarang yang di peluknya bukan aku, melainkan kopi. Awas kau kopi !!!.


Apalagi yang kau inginkan kecebong kecil!!! Baru beberapa Minggu kau di dalam perut Mama mu, kepalaku pusing dengan segala tingkah kalian.


Aku melirik istriku yang tidur begitu lelap dengan mendekap bungkusan kopi. Wanginya menyeruak hingga ke lubang hidungku.


"Sehat selalu kesayangan, kalian harus sehat dan lahir dengan selamat, ya. Papa akan berusaha mewujudkan apapun yang kalian inginkan." aku mengusap rambut istriku dan mengecupnya.


****


"Belum pengen apa apa, Mas. Nanti kalau sudah terpikirkan, Dek kabarin Mas." ucapnya sambil mengoles lipstik di bibirnya yang tipis.


"Ya sudah, yuk kita makan." ajak ku.


Dia melangkah mengikuti ku, aku melirik meja makan yang masih kosong. Aku tersenyum menatap meja kosong.


Terdengar suara istriku tertawa kecil, aku menoleh dan tersenyum.


"Kamu duduk di sini, Mas goreng telur ya. Mau di dadar apa di ceplok mata sapi." tanyaku padanya yang sedang tersenyum.


"Ceplok aja Mas, seperti biasa ya Mas." dia menunjukan deretan giginya.

__ADS_1


Aku mengangguk dan mengecup keningnya.


Dia sangat menyukai telur ceplok setengah matang dengan dua butir telur sekaligus.


Aku menata alat makan di meja, kulihat istriku menggenggam sesuatu d tangannya dan mulutnya asik mengunyah.


"Kamu makan apa, Dek? Yuk kita sarapan dulu.." ajak ku.


"Sebentar Mas, aku lagi makan ini." mulutnya penuh.


Aku kaget saat dia membuka genggaman tangannya, yang di genggamannya adalah butiran beras. Berarti yang di makan... adalah beras!!!


"Lah, kenapa makan beras, Dek?" aku menatapnya.


"Gak apa, Mas. Enak Loch ini, Mas." memakan sisa beras yang di genggamannya.


"Jangan kaya gitu, Dek. Beras itu gak bersihkan, belum kamu cuci juga. Makan nasi aja, ya. Jangan sembarang gitu ah.." pintaku.


Belum sempat menatapnya, suara tangisan terdengar lirih di telingaku. Aku mendongak menatap wajah istriku. Ternyata benar, dia menangis prihal larangan ku tadi.


"Sudah jangan menangis, sayang. Yuk kita makan.." aku mengambilkan nasi untuknya. Dia tetap diam sambil terisak, air matanya mengalir seperti air dispenser.


Ah.. Salah lagi aku!!!


"Maaf sayang, Mas cuma gak mau kamu dan kecebong kembar kita kenapa-kenapa. Kamu ngerti kan maksud Mas, sayang?." bujuk ku.


"Tapi itu cuma beras, Mas. Gak apa apa kok, lagi pula enak Mas." ucapnya.


Ya seperti biasa aku memang gak pernah menang melawannya. Aku mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah gak apa, yuk kita sarapan dulu ya. Mas sudah kesiangan." usap lembut kepalanya. Dia mengangguk dan makan nasinya.


Aku harus bertanya pada siapapun tentang ini, apakah tidak masalah jika makan beras pada saat hamil?.


__ADS_2