
Aku sedang sibuk membersihkan pekarangan rumahku yang tidak luas ini. Mas Baskoro sudah berangkat tadi subuh, karna ada urusan darurat katanya.
"Ih.. rajinnya pengantin baru.." ledek Mpok Rodiyah. Dia berjalan menuju ke arahku sambil menyuapi Nabila makan.
"Hehe iya, Mpok. Gak ada kerjaan soalnya." jawabku sambil mencabut rumput yang tumbuh subur itu.
"Iya ya, belum ada anak ya sepi. Mau di tanami apa itu?" di menunjuk dengan bibirnya.
"Hmm.. belum tau ni, Mpok. Bunganya juga belum beli." Jawabku yang sebenarnya sedang bingung juga mau di tanam apa biar rumput liar tidak cepat berkembang. Aku melirik pekarangan rumah Mpok Rodiyah yang unik. Semua pekarangannya di tumbuhi bunga rambat, cantik si dan malah lebih rapi di banding harus banyak pot kanan kiri. Apa lagi ada anak balita yang sedang aktif.
"Mau bunga itu.." pertanyaan membuatku serasa tertangkap basah.
Aku tersenyum malu, "Hehe boleh, Mpok?" tanyaku malu.
"Diambil aja sendiri, masa iya Mpok yang ambilin. Ambil aja.. susun yang rapi di situ nanti hasilnya juga bagus. Gak usah ribet pake pot, buang buang duit." ucapnya yang polos apa adanya.
Memang betul, cantik dan rapi itu tidak perlu biaya malah yang penting di rawat dengan benar.
Pekarangan rumah Mpok Rodiyah itu rapi, penuh warna bunga bunga merambat di tanah. Walau bunganya hanya saat pagi, sore hari akan mengincup. Memeliharanya pun mudah hanya di siram tidak perlu pupuk dan semacamnya.
"Iya Mpok, saya aku ambil ya.." izinku sebelum memetik tangkaian bunga.
__ADS_1
"Iye, ambil aja."
Aku susun dengan pola yang ku inginkan. Bunganya ada beberapa warna, merah, pink, kuning dan putih.
"Nah, kalau begitu bagus. Tinggal di siram yang rajin." ucap Mpok Rodiyah.
"Iya Mpok, makasih. Oh ya udah makan siang belom.. makan di rumah saya aja mau gak ?" ajak ku dengan penuh harap.
"Wah rezeki nomplok, kebetulan Mpok belum masak. Emang masak apa, Mbak." tanyanya antusias.
"Mpok maunya apa?" pertanyaan ku membuat dia mengerutkan dahinya.
"Emang masak apa aje, sampe tanya mau makan ape?" dia kaget dan penasaran. Ekspresi wajahnya lucu.
"Wah, lengkap amat ya.. Boleh tuh rendang." ucapnya.
"Siap, sebentar ya Mpok. Duduk dulu aja,." aku memintanya duduk di kursi depan rumahku.
***
"Ni, Mpok. Silahkan di nikmati." aku menyuguhkan air minum dan mie rasa rendang di atas meja.
__ADS_1
Dia menoleh dengan wajah terkejut, "Astaga.. di kira rendang beneran, ini mah mie instan mbak. Ya Allah, udah jauh amat angan angan makan rendang gratis." suaranya menggema membuatku tertawa kecil. Nabila pun ikut tertawa, aku tidak tau dia mengerti atau tidak.
"Ya adanya begitu, Mpok." ucapku polos.
"Mbak setiap hari makan ini?." mengambil mangkuk dan mengaduknya.
"Ya gak si, Mpok. Cuma keseringan ini, kalau suami pulang baru deh bawa lauk. Saya belum bisa masak." ucapku malu di selingi tawa kecil.
Mpok Rodiyah makan dengan lahap sambil mengangguk anggukan kepalanya.
"Wajarlah, pengantin baru. Ini juga enak lah, buat ganjel perut." dia bicara seperti itu tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Membuat aku tambah malu.
Kami makan dengan lahap mie instan yang ku sediakan.
"Lain kali, belanja aja mbak. Nanti Mpok ajarin masaknya, mau." ucapnya sambil minum.
"Benar, Mpok! Mau ngajarin aku." ucapku senang.
"Iya iya, jadi nanti kalau ada tamu gak di suguhi mie lagi bisa maag nanti." ucapannya menyakiti hati, tapi memang betul. Mie instan terlalu sering tidak baik. Aku harus belajar mati rasa terhadap omongannya yang pedas.
"Iya, Mpok. Besok bisa belajarnya, Mpok." tanyaku. Karna aku juga tau, kami sama sama punya keluarga. Akan menganggu jika aku harus merepotkan dirinya.
__ADS_1
"Iya. Besok belanja bareng di Mpok Bedah ya pagi. Jadi nanti Mpok sekalian ajarin beli bumbunya."
Aku mengangguk angguk semangat.