
Akhir akhir ini aku di buat pusing oleh istriku. Setiap hari ada saja salahku.
"Mas.. jangan simpan di situ!!"
"Mas.. jangan di makan itu!!"
"Mas.. beli ini, beli itu!!"
"Kaos kaki mu bau, Mas. Lepas di luar langsung cuci di kran."
Setiap pulang harus cuci kaos kaki.
Sampai duduk pun aku salah.
"Ya jangan duduk di situ, Mas. Kan bisa geser sedikit, merusak pemandangan tahu gak." ucapnya seraya menggeser tubuhku.
Aku jadi malas pulang kerumah, entah setan mana yang menghampirinya.
Aku teringat saat pacaran dulu, dia begitu manis, lembut dan pengertian.
Berbanding terbalik dengan sikapnya sekarang.
Sikapnya manis membuatku nyaman dengannya, ternyata benar kata orang. Sikap asli pasangan akan terlihat jika sudah menikah. Terbukti sekarang, aku sudah seperti tawanan.
Makan berantakan, dia marah langsung ambil lap.
Habis mandi, dia marah langsung ambil lap.
__ADS_1
Bahkan minyak wangi ku di awasi setiap hari, tidak boleh lebih dari dua semprot.
Aku menceritakan kejadian ini itu kepada temanku di kantor. Dia tertawa geli, bukan memberiku solusi malah ledekan yang ku terima.
"Mungkin ngidam, Mas. Sudah periksa belum, biasanya ngidam tuh aneh aneh." celetuk Mbak Eri karyawan hotel tempatku kerja.
Aku sedikit berpikir, apa benar ngidam. Apa iya seaneh itu. Aku menggaruk kepalaku, aku mengangguk angguk menanggapi ucapan Mbak Eri.
"Coba aja ajak periksa, atau gak beliin tespeck Mas. Dia apotik banyak kok." jelasnya.
Aku mengangguk, benar jika memang ngidam ini hal baik. Aku harus sabar dan bertahan dengan segala keanehannya.
"Terimakasih, Mbak. Nanti pulang saya coba beli." aku sedikit tidak sabar untuk pulang dan mengetahui hasilnya.
****
Saat aku keluar, melihat sekeliling ternyata dia sedang berkumpul dengan ibu ibu komplek di pos ronda pojok.
"Saking asiknya, dia tidak tau suaminya sudah pulang." aku menggelengkan kepalaku. Melihat dia yang asik melahap entah apa itu di tangannya sambil tertawa.
Aku duduk di teras menunggu istriku pulang. Aku tak ada keberanian untuk menganggu nya. Salah salah dia akan ngamuk nanti.
Apa benar istriku ngidam, kalau hamil akan seperti apa rupanya ya. Aku tertawa geli sendiri membayangkan tubuhnya yang mungil dengan perut buncit. Dan ketika jalan akan sedikit condong kedepan.
"Ha.. ha ... ha.." aku geli membayangkannya. Betapa lucunya dia nanti ya.
Aku teringat ketika tetanggaku melakukan tradisi tujuh bulanan. Kata si Mpok, kalau hamil anak perempuan akan bulat melebar kesamping sedangkan laki laki akan membulat kedepan.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku sambil tertawa.
"Kalau ketawa tuh yang bener toh, Mas. Ketawa sendirian kaya wong edan." ( Orang gila )
Dia melempar kerupuk ke arahku, aku berhasil menangkapnya.
"Mengkhayal apa toh, Mas. Sampe tertawa geli begitu." tanyanya duduk di sisiku.
Aku gak mungkin bilang mengkhayalkan tubuhnya saat hamil nanti bisa bisa, perang.
Aku menggelengkan kepalaku, "Gak ada dek, tadi teringat kejadian lucu saat kerja." ucapku berbohong.
Dia mengangkat alisnya.
"Abis ngapain toh, dari tadi Mas pulang gak ada orang di rumah."
"Abis ngerujak, Mas. Enak, seger mangga muda sama jambu air." ucapnya semngat.
Sejak kapan dia suka asam, selama ini yang dia makan hanya manis manis.
Ah mungkin ini pertanda baik.
"Oh iya dek, Mas beli ini tadi di apotik." aku menyodorkan tespeck kepadanya.
"Untuk apa, Mas?." dia heran melihatku memberikan dia tespeck.
"Mas rasa beberapa bulan ini, Adek belum minta mas beli pembalut. Jadi Mas pikir mau coba tespeck, Dek." ucapku mengingatkannya, bahwa selama ini aku yang membelikannya pembalut setiap tamu istimewa datang.
__ADS_1
"Iya toh, Mas. Aku juga lupa. Ya sudah nanti aku coba ya, semoga ada kabar gembira ya Mas." ucapnya tersenyum.