ISTRI CEREWETKU

ISTRI CEREWETKU
ISTIRAHAT YANG MENGKHAWATIRKAN


__ADS_3

Sampai di rumah, bukannya bisa istirahat dan menenangkan diri. Hatiku semakin risau, jantung berdetak kencang.


Aku menarik nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Berulang kali ku ulangi agar rasa cemas hilang.


"Ini sayang, minum dulu air hangatnya." aku menatap suamiku, aku tau dia pun cemas hanya pura pura tenang di hadapanku.


"Sayang, sudah jangan di pikirkan. Pikirkan saja sebentar lagi si kembar lahir. Nama apa yang bagus untuk mereka, ya.." dia mengambil buku memo dan pulpen.


Suamiku sudah berusaha keras menyembunyikan kecemasannya, aku harus berusaha untuk tidak menambah kekhawatirannya.


"Mas sudah ada rencana?." aku meletakkan teh hangat ku.


"Belum, tapi Mas ingin namanya jangan ada di absen terlalu depan atau terlalu belakang, sayang." dia memainkan layar ponselnya.


"Mas cari di internet?."


"Iya, untuk referensi saja. Cari yang gak norak tapi gak kuno juga. Yang artinya baik untuk anak anak kita nanti, sayang." melihatnya tampak serius dengan ponsel. Aku tertarik membuka ponselku juga, membantu mencari nama yang cocok untuk anak anakku nanti.


"Dua gadis kita, pasti cantik cantik.." gumamnya.


"Iya, Mas." jawabku.


Kesibukan mencari nama, membuatku melupakan sedikit kecemasan. Hatiku berdebar, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu cemas di depan Mas Baskoro. Aku tahu, dia pun mencoba menutupi kegelisahannya.


"Kalau Anandhi dan Anandita gimana, Mas." menurutku bagus.

__ADS_1


"Bagus, yang. Tapi Mas gak mau anak kita di absen terlalu dahulu. Hahaha.. Kan gak enak kalau ujian harus duluan, yang." dia beralasan.


"Padahal bagus Loch, Mas." gerutu ku.


"Iya bagus, tapi coba cari lagi, yang. Itu di simpan dulu saja berikut artinya. Nanti kita cocokkan yang mana lebih bagus." ucapnya. Aku mengangguk, ya gak masalah. Toh nama masih banyak yang bagus.


Lagipula memang benar, namaku di tengah dan nama Mas Baskoro juga gak terlalu awal. Tapi mungkin dia merasakan gelisah setiap kali ujian sekolah. Hihi Pengalamanya pribadi.


Saking sibuknya waktu istirahat yang menegangkan teralihkan. Kini waktunya kami kembali ke klinik tempat Dokter Ayu praktek.


Kami menaiki sepeda motor andalan suamiku.


"Yang, nanti kalau si kembar udah lahir. Kita setiap Minggu titip si kembar ke rumah ibu atau Mama, ya." ucap Mas Baskoro.


"Memang kenapa, Mas?. Kok di titip segala, setiap Minggu juga?." aku gak ngerti maksudnya apa, lah anakku kok di titip titipkan.


Aku tersipu malu, masih saja terpikirkan kencan setelah punya anak kembar.


"Ya gimana nanti saja, Mas. Toh anak anak juga belum lahir. Sudah ada niat di titip, gimana toh." hatiku senang sekali, Mas Baskoro tetap mengutamakan kebahagiaan ku.


"Kok gimana nanti si, yang. Kan sudah bentar lagi lahir. kita harus ada rencana dong, waktu kita bersama itu penting, sayang. Kebahagiaan seorang ibu, akan membawa kebahagiaan anak anaknya juga."


Aku memukul lembut punggungnya.


Ucapannya membuatku malu, ahk serasa masih pacaran.

__ADS_1


"Ih kok di pukul, yang?." dia tertawa.


"Lagian kamu, Mas. Kita sudah bukan abege yang masih perlu keluyuran malem Minggu toh. Kita harus fokus sama anak anak." aku membohongi hatiku, padahal hatiku sudah seperti roller coaster.


"Tentu lah, sayang. Tapi anak anak itu suatu hari nanti akan pergi dengan kehidupanny. Sedangkan aku, kahidupanku adalah kamu. Masa setelah punya anak, kamu meninggalkan aku dan aku meninggalkan kehidupanku."


Deg ... 'Meninggalkan.' Ya Allah semoga tidak pernah terjadi.


"Jangan bicara sembarangan, Mas." ucapku lirih.


"Bukan itu maksud, Mas. Maksud Mas, karna kamu sibuk untuk kebahagiaan anak. Jadi Mas juga harus fokus kebahagiaan kamu. Kalau bukan Mas siapa lagi yang akan membahagiakan kamu.."


"Iya, Mas. Aamiin. Semoga kita semua selalu bahagia, hidup sehat dan terus bersama." ada kekhawatiran di hatiku yang tiba tiba terlintas.


'Apa aku mampu melahirkan dengan baik dan anak anakku selamat? Apa aku mampu membesarkan dan merawat anak anakku, nanti.'


Teringat perkataan Dokter Ayu dan sedikit artikel yang ku baca di internet. Akibat dari tekanan darah tinggi atau pre-eklampsia yang ku alami saat ini. Aku memeluk erat tubuh suamiku, suami terbaikku. Ayah yang tepat untuk anak anakku. Dia lelaki penyabar, baik, penyanyang dan bertanggung jawab. Aku tidak ingin meninggalkannya, pergi jauh darinya.


"Kamu kenapa, sayang?. Pusing, mual, dingin atau ada yang sakit?." dia mengusap tanganku yang melingkar di perutnya.


"Gak, Mas. Agak ngantuk sama capek aja." kilahku. Dia mengangguk.


"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi sampai, kalau memang sudah gak kuat pulang nanti, kita nginap aja di klinik. Lagi pula sudah terlalu malam, gak bagus kamu keluyuran semalam ini."


Aku mengangguk, menahan air mataku yang sudah tak terbendung.

__ADS_1


'Semoga persalinanku baik baik saja, aku dan anak anakku sehat dan selamat.'


__ADS_2