
Hah pagi-pagi buta aku dibuat kesal dengan lelaki yang menjadi kekasihku ini, bagaimana tidak aku sedang masak dan diganggu alhasil gosong ayam gorengku.
Tapi entah mengapa walaupun sikap kami seperti Tom and Jerry tetap saja kami saling mencintai.
Yah aku merasakan rasa cinta ini bersemi saat aku tau debaran jantung ini berdebar karna rasa cinta.
'apakah ini awal kebahagiaanku tuhan, semoga saja benar karna hati ini lelah dengan di ujinya Tampa ada keluarga selain kakek, kalau ujian hal percintaan bahkan sebelum aku merasakan apa itu namanya cinta'batinku memohon pada yang pencipta alam.
Selama bersama aku merasa dicintai oleh lelaki ini walau sikap kaku mendominasi karna ia adalah Jordan Harison lelaki sedingin kulkas freezer.
Aku sudah berbicara dengan keluarga mas Jordan semalam dirumah mas Jordan aku diterima dengan baik ah aku merasa kehangatan keluarga mendominasi.
Saat ini kami dalam perjalanan setelah dalam penerbangan. Aku memperhatikan lelaki yang menguasai pikiran dan hatiku ini.
'apa ia gugup?'batinku bertanya.
"Sayang kenapa diam saja?"tanyaku memastikan apa ia gugup atau tidak.
"Tak apa, nata jika kakekmu tak setuju kita menikah dan menolak ku, apa kamu tak meninggalkan aku?"tanyanya merasa gugup, aku kira mas Jordan tak akan gentar walau hanya bertemu kakek karna ia adalah lelaki yang berdominan bijak selalu pandai dalam segala hal.
"Tenangkan dirimu mas, kakek pasti menerima mu, kamu lelaki baik dan tak mungkin ditolak"ucapku meyakinkan tersenyum lembut padanya.
"Baiklah Baby aku akan berjuang"ucapnya mantap, aku merotasi bola mataku, secara lelaki ini sangat membuatku seperti ah entahlah.
"Berjuang apa sayang bertemu saja belum"jawabku menyindir dengan tersenyum lembut padanya walau sering bercanda.
"Liat saja nanti aku akan memenangkan hati kakekmu bukan seperti mantanmu yang bodoh itu"cibirnya padaku, hah kami sudah seperti pasangan unik saja.
Kami ini pasangan yang unik, aku juga baru sekarang merasa flas respon dengan orang padahal dulu dengan mas Ferry tak pernah begini.
💮💮💮💮
Kami sampai setelah beberapa menit dal perjalanan aku membunyikan bell rumah menunggu orang membukanya.
Ting tong
__ADS_1
Ting tong
Tak lama seorang perempuan paru baya membuka pintu ia adalah art yang mengabdi sejak aku kecil bi Jum.
"Eh non nata pulang, ayok masuk non tuan besar menunggu di halaman belakang."ucap bi Jum mempersilahkan kami masuk, memberi tau keberadaan kakek Tampa aku bertanya.
"Iyah bi Jum"jawabku tersenyum kearahnya.
"Ayok mas kamu harus menghadang didepan kakek"ucapku mengajak mas Jordan masuk.
"Ya"
Kami masuk dan kakek menyambutku dengan antusias dan ia memandang mas Jordan dengan tatapan interogasi.
Aku berlalu meninggalkan 2 lelaki beda generasi itu, dan pergi kedapur membantu bibi, aku sengaja agar memberikan ruang pada mereka berdua.
"Apa tujuanmu kesini anak muda?"tanya kakek dengan intes.
"Melamar Natallya apa lagi"jawab mas Jordan enteng.
"Dia wanita yang bertahta di hati ini"jawab mas Jordan tulus.
Kakek mengangguk kepala dan merasa lelaki ini baik, walau dingin tapi ada ketegasan dalam ucapannya dan tulus mencintai cucunya.
"Kapan kalian akan menentukan tanggal perhatikan?"tanya kakek dengan santai.
"Apa anda setuju?"bukan menjawab mas Jordan malah bertanya kembali.
Kakek tersenyum dan memandang mama Jordan dengan wajah serius.
"Tentu saja, aku setuju asal kamu tak menyakiti cucuku dia sudah menderita dengan lelaki pecundang itu"jawab kakek tegas.
"Terimakasih, saya dan nata akan memutuskan nanti jika tepat, saya juga memiliki rencana"ucap mas Jordan
"Apa rencana kalian?"tanya kakek penasaran dengan wajah heran.
__ADS_1
"Kami akan menikah dan menjadikan pernikahan kami kejutan untuk lelaki bodoh itu"jawab mas Jordan menggebu-gebu.
"Ya segera lah atur, kakek sangat ingin membunuhnya tapi masih ditahan untuk menyiksanya denga Apa yang setimpal."ucap kakek.
Aku berjalan dan membawa kue serta teh hangat untuk kedua lelakiku.
"Apa yang kaliam bahas?"tanyaku penasaran apa yang dibahas aku mendengar pembicaraan mereka tapi tak jelas.
"Kakek menyetujui kalian menika, aku memberi restu padanya"ucap kakek membuatku cengong.
"Kok bisa?"tanyaku dengan syok.
Bagaimana tidak dulu aku saja meminta restu saat menikah dengan mas Ferry tak di setujui sekarang dengan mudahnya kakek merestui kami.
"Tentu saja, aku lelaki yang tampan"ucap mas Jordan bangga dengan lecaya diri ia berucap depan kakek dan diriku.
Aku hanya melongo mendengar jawaban absur darinya.
'Hmm apa ini definisi yang tulus dan yang jahat'batinku merasa aneh.
💮💮💮💮💮
Disisi lain Ferry yang baru pulang dihadang mamanya.
"Kapan kamu dan Laras akan jadi istrimu lama sekali mama rasa kalian mempersiapkan pestanya?"tanya mama Rida yang kesal kepada anak dan calon menantunya.
"Sisa 2 hari lagi ma baru akan terlaksana, kami akan bagi undangan dahulu selama 2 hari"jawab mas Ferry, dengan wajah lelah campur bahagia.
"Yah cepat lah mama sudah tak punya penghasilan, mama tak sabar meminta uang dari Laras"jawab mama Rida membayangkan dia akan di belikan tas branded jika pergi shopping dengan Laras.
"Tentu saja"jawab mas Ferry santai.
"Jangan lupa undang mantan istri gajah mu"ucap mama Rida memberi saran.
"Jelas aku akan menghinanya sepuas-puasnya nanti di acara ku ma"jawaban antusias, ingin sekali dia memberikan luka padaku.
__ADS_1