Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 10 - Kamu Gila!


__ADS_3

"Mama kenapa sih dari tadi senyum - senyum sendiri?" tanya Devan sembari mengerenyitkan dahinya melihat kelakuan sang Mama yang terlihat sangat aneh sekali.


"Lihatlah, Mama mempotret pose romantis kalian tadi. Mama sangat suka dengan hasilnya" ucap Serena sembari memperlihatkan hasil jepretannya kepada Putra pertamanya dan Calon Menantunya.


"Ya ampun Mama" geram Devan di dalam hatinya.


"Seperti prewedding. Ah Mama ini, bisa saja. Sepertinya Mama berbakat menjadi fotografer" batin Chalista di dalam hatinya antara perasaan kagum sekaigus malu kepada Calon Mama Mertuanya.


"Bagimana hasilnya? Bagus bukan? Mama sangat berbakat dalam hal fotografi" ucap Serena sembari tersenyum senang.


"Bagus Ma" ucap Chalista sembari tersenyum kikuk.


"Bagus" jawab Devan dengan singkat.


Devin menggelengkan kepalanya karena mendengar jawaban sang Kakak yang singkat, padat, dan jelas.


"Kak, kalau bicara itu jangan singkat, padat, dan jelas. Agak di panjangkan sedikit" teriak Devin yang berada tak jauh dari tempat Serena, Chalista, dan Devan.


Sontak saja Devan membalikkan tubuhnya dan menatap sang Adik dengan tatapan penuh kemarahan dan kekesalan.


"Coba kamu ulangi lagi perkataanmu" ucap Devan sembari tersenyum licik.


"Menyeramkan juga jika Kak Devan tersenyum seperti ini" dalam hatinya Chalista bergidik ngeri melihat senyuman Devin saat ini.


Devin langsung gelagapan untuk mengulangi perkataannya tadi. Tidak mungkin bagi Devin untuk mengulangi kata - katanya lagi. Bisa - bisa sang Kakak akan menarik semua fasilitas yang Devin miliki sekarang.


"Ah, tidak papa Kak" ucap Devin dengan kikuk.


Devan masih tidak percaya dengan jawaban sang Adik. Jelas - jelas tadi dia mengatakan bicaranya agak di panjangkan sedikit. Jangan singkat, padat, dan jelas.


Dylan bergidik ngeri melihat senyuman Putra pertamanya. Bagaimana tidak? Senyuman itu sama seperti senyuman dirinya di kala dirinya masih muda.


"Haish, kenapa juga Devan harus mewarisi senyuman itu dariku?" gerutu Dylan dalam hatinya karena senyuman Putra pertamanya sama persis dengan senyumannya di kala dia masih muda.


Serena memanyunkan bibirnya. Serena sangat kesal hari ini. Kenapa Kedua Putranya ini harus mewarisi sifat dan kepribadian dari sang Papa. Andaikan Mikhayla Devina Melviano masih hidup. Ah, pasti sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun nyatanya, takdir berkehendak lain.


"Devina, Mama rindu kamu nak. Kamu baik - baik ya di surga sana" batin Serena sembari meneteskan air matanya.


Chalista sadar Calon Mama Mertuanya kini sedang menangis. Entah apa yang membuatnya menangis. Pastinya dia terlihat sangat sedih sekali.


"Mama kenapa nangis?" tanya Chalista sembari menggenggam tangan Calon Mama Mertuanya.


Serena buru - buru menghapus air matanya. Serena tak ingin terlihat lemah di hadapan Calon Menantunya. Apa katanya nanti melihat Calon Mama Mertuanya yang begitu rapuh ini?


"Ah, Mama tidak apa - apa sayang" ucap Serena sembari tersenyum.


Chalista sebenarnya tidak terlalu yakin dengan jawaban sang Calon Mama Mertuanya. Dari wajahnya saja Chalista sudah bisa menebak bahwa Calon Mama Mertuanya sedang merasakan sebuah kesedihan. Namun Chalista tidak akan mencari tahu tentang hal itu untuk sekarang.


"Emm, Mama" panggil Chalista dengan ragu - ragu.


"Ada apa sayang?" tanya Serena sembari membelai lembut pipi chubby milik Chalista.


"Bolehkah Chalista pulang sekarang?" tanya Chalista dengan ragu - ragu.


"Sebenarnya Mama masih ingin berlama - lama dengan Calon Menantu Mama yang cantik jelita ini. Namun jika sayangnya Mama mau pulang ya nggak papa sih. Anak gadis orang nanti di cariin sama Ayahnya kalau belum pulang ke rumahnya" ucap Serena dengan jujur sembari tertawa renyah.


Chalista tersenyum sembari menatap Calon Mama Mertuanya yang sedang tertawa.

__ADS_1


"Baiklah Ma. Chalista pulang dulu ya Assalamualaikum" ucap Chalista sembari menyalami Calon Mama Mertuanya.


"Waalaikumsalam" ucap Serena sembari tersenyum lembut.


Setelah menyalami Calon Mama Mertuanya, kini Chalista akan berpamitan dengan Hanna, Adhitama, Dylan, Demian, Amanda, serta Devin.


"Oma, Lista pulang dulu ya. Assalamualaikum" ucap Chalista sembari menyalami tangan renta milik Hanna.


"Waalaikumsalam Lisa" jawab Hanna sembari mengusap lembut puncak kepala Chalista.


"Oma, namanya Chalista. Bukannya Lisa" ucap Devan yang membenarkan.


"Terserah padaku ingin memanggilnya dengan sebutan apa. Dasar Cucu sialan" teriak Hanna.


Chalista pun beralih menyalami Adhitama yang berada di sebelah Hanna.


"Opa, Lista pamit dulu. Assalamualaikum" ucap Chalista sembari menyalami tangan renta Adhitama.


"Walaikumsalam" ucap Adhitama sembari tersenyum senang.


Setelah menyalami Hanna dan Adhitama, kini Chalista beralih menyalami Demian dan Amanda.


"Aunty, Uncle, Lista pamit dulu. Assalamualaikum" ucap Chalista sembari menyalami Demian dan Amanda secara bergantian.


"Waalaikumsalam" jawab Demian dan Amanda.


"Beruntung sekali Kak Dylan dan Kak Rena mendapatkan Menantu yang cantik dan baik hati" puji Amanda kepada Chalista.


"Ah, Aunty ini. Terima kasih Aunty" ucap Chalista dengan pipi yang bersemu merah.


"Sama - sama sayang" ucap Amanda sembari mengusap lembut pipi chubby milik Chalista.


"Papa, Lista pamit dulu. Assalamualaikum" ucap Chalista dengan canggung sembari menyalami tangan Dylan.


"Waalaikumsalam sayang. Benar sekali apa yang di katakan oleh Amanda tadi" ucap Dylan sembari mengusap lembut puncak kepala Chalista.


Chalista hanya tersenyum menanggapi ucapan Dylan, sang Calon Papa Mertua.


"Devin, aku pulang dulu. Assalamualaikum" ucap Chalista sembari tersenyum lembut.


"Waalaikumsalam Kakak Ipar" ucap Devin yang sengaja menggoda Chalista.


Sontak saja pipi Chalista menjadi bersemu merah karena godaan dari Devin.


"Devan, kamu antarkan Chalista pulang" perintah Serena kepada Putra pertamanya.


"Siap Ma" ucap Devan yang langsung menggenggam tangan Chalista.


"Belum halal Kak" teriak Devin dengan lantang.


Devan tak menghiraukan perkataan sang Adik yang terbilang rese dan bawel menurutnya. Devan hanya menggenggam tangan Chalista sambil sesekali tersenyum senang.


Devan dan Chalista berjalan ke arah mobil Devan yang masih di parkirkan di dalam garasi mobil.


Devan dan Chalista langsung memasuki mobil milik Devan. Devan langsung mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Lalu Devan segera menancapkan gasnya untuk menuju ke rumah Chalista yang berjarak tak jauh dari rumahnya.


Selama perjalanan, hanya di isi dengan keheningan dan kesunyian. Tak ada satu pun yang memulai percakapan di antara mereka. Chalista lebih nyaman berfantasi dengan dunianya sendiri. Sementara Devan berfokus mengemudikan mobilnya dengan hati - hati.

__ADS_1


"Saat diam pun kamu tetap cantik dan menggemaskan. Bagaimana ketika kamu tertidur?" batin Devan sembari tersenyum.


Tak terasa sudah 15 menit perjalanan di tempuh oleh Devan dan Chalista dari rumah keluarga Melviano ke rumah keluarga Chalista.


Saat Chalista hendak turun, tangan Devan mencekal pergelangan tangan Chalista.


"Kenapa Kak?" tanya Chalista dengan lembut.


"Berapa nomor ponselmu?" tanya Devan kepada Chalista.


"Kemarikan ponsel Kakak. Biarkan aku menulisnya" ucap Chalista sembari menunggu Devan untuk mengeluarkan ponselnya.


Devan mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Devan pun memberikan ponselnya kepada Chalista agar Chalista menuliskan nomor ponselnya di dalam ponsel Devan.


Chalista mulai menuliskan nomor ponselnya di dalam ponsel milik Devan. Tak butuh waktu lama, Chalista telah selesai menuliskan nomor ponselnya.


"Lista memberikan nama kontak Lista dengan nama Chalista ya Kak. Jadi Kakak mudah untuk mencarinya" ucap Chalista sembari tersenyum.


Chalista pun mengembalikan ponsel milik Devan kepada Devan.


"Oh iya, terima kasih ya Kak" ucap Chalista sembari melangkah pergi memasuki rumahnya.


Selepas kepergian Chalista, Devan langsung menancapkan gasnya untuk kembali ke rumahnya.


Devan tersenyum sembari mengemudikan mobilnya yang membelah jalanan ibu kota Jakarta.


"Menggemaskan" batin Devan sembari tersenyum senang.


Seperti biasanya, dalam waktu 15 menit Devan telah sampai di rumah keluarga Melviano


Sesampainya di rumah keluarga Melviano, Devan langsung memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


Setelah itu, Devan langsung bergegas memasuki rumah dengan ekspresi wajahnya yang datar, sedatar jalan tol.


Serena melihat Putra pertamanya yang sudah kembali pun langsung mengajak Devan untuk makan malam, karena hari sudah malam.


"Devan, ayo kita makan malam. Semua orang sudah ada di meja makan" ucap Serena dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Iya Ma" ucap Devan sembari berjalan ke arah dapur.


Sesampainya di sana, benar saja kata sang Mama. Semua orang sudah ada di meja makan. Hanya saja Devan yang belum ada di meja makan.


"Hei Cucu sialan, ayo makan" ucap Hanna dengan sedikit berteriak.


Devan langsung menuju ke arah kursinya yang berada tepat di samping kursi Devin.


"Emm, Devan" ucap Adhitama dengan suara baritonnya.


"Iya Opa" jawab Devan dengan santainya.


"Kapan kamu akan melamar Chalista secara resmi?" tanya Adhitama dengan tatapan yang serius.


"Besok Opa" ucap Devan yang membuat semua orang terkejut.


Prang


Serena tak sengaja memecahkan mangkuk yang di bawanya. Serena terlalu kaget dengan jawaban yang di berikan oleh Devan. Begitu juga dengan Dylan, Adhitama, Hanna, Demian, Amanda, Anyuna, dan Anyura yang juga merasa terkejut.

__ADS_1


"Kamu ini gila ya Devan. Gimana coba mau melamar Anak orang keesokan harinya. Banyak barang - barang yang akan di beli untuk seserahan hantaran lamaran Devan. Mama sih bisa saja membelikan semua barang tersebut dengan waktu singkat. Tapi jangan mendadak kayak gini. Dari dulu kamu suka banget sama hal yang mendadak seperti ini" ucap Serena yang merasa sangat terkejut.


__ADS_2