Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 17 - Calon Besan


__ADS_3

"Kamu termasuk kategori anak durhaka" ucap Serena dengan ekspresi wajahnya yang menyiratkan kekesalan yang paling dalam.


Sontak saja Devin langsung mengerutkan dahinya. Dalam benaknya menerka - nerka kenapa sang Mama memasukkannya di dalam kategori anak yang durhaka. Tak lupa Devin melayangkan beberapa kalimat - kalimat protes atas ucapan sang Mama yang memasukkannya ke dalam kategori anak yang durhaka.


"Lho lho lho, kok Mama memasukkan Devin ke dalam kategori anak durhaka?" tanya Devin dengan dahi yang berkerut.


Serena terlihat menyunggingkan senyumannya. Senyuman tersebut terlihat sangat misterius. Entah apa arti dari senyuman tersebut. Hanya Serena sendiri yang tahu artinya.


"Hmmm gimana ya" ucap Serena dengan ekspresi seperti orang yang sedang mempertimbangkan suatu hal.


"Karena kamu mau ajak Lista dan Aurel nggak bilang - bilang sama Mama, jadi Mama memasukkan kamu dalam kategori anak yang durhaka" ucap Serena sembari tersenyum misterius.


"Ih Mama, kan Devin kasih kejutan buat Mama. Masa iya Mama memasukkan Devin ke dalam kategori anak yang durhaka" ucap Devin sembari memanyunkan bibirnya.


Kelakuan Devin yang seperti anak kecil yang sedang meminta permen ini sontak saja mengundang tawa Devan, Chalista, Serena, Dylan, Aurel, Demian, dan Amanda.


"Hahaha" tawa Devan, Chalista, Serena, Dylan, Aurel, Demian, dan Amanda yang menggema di ruangan aula perusahaan Melviano Corporation.


"Ih, kalian ini kenapa tertawa sih? Memangnya ada yang lucu gitu?" tanya Devin yang semakin memanyunkan bibirnya.


"A ada. Ka kamu yang lu lucu ka kayak anak ke kecil yang me meminta pe permen" ucap Devan dengan terbata - bata karena sedang menahan tawanya.


Chalista menghentikan tawanya. Sementara Devan, Serena, Dylan, Aurel, Demian, dan Amanda masih saja menertawakan Devin yang terlihat seperti anak kecil.


Chalista terdiam sejenak. Chalista memandang Devan dengan tatapan yang susah untuk di artikan.


"Ternyata kalau Kak Devan sedang tertawa kadar ketampanannya bertambah" batin Chalista sembari menyunggingkan senyumannya.


"Haish, ada apa dengan aku ini? Kenapa aku malah memikirkan tentang Kak Devan?" gerutu Chalista di dalam hatinya.


Melihat Chalista yang menghentikan tawanya membuat Devan juga menghentikan tawanya.


Devan terdiam sejenak. Devan memandang Chalista dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kenapa dia tersenyum sendiri seperti itu? Sebenarnya apa yang dia pikirkan hingga membuatnya tersenyum sendiri? Tapi jujur saja, Chalista sangat manis jika tersenyum. Apalagi di tambah dengan kedua lesung yang ada di kedua pipinya. Uh, sangat manis" batin Devan sembari menyunggingkan senyumannya di wajah tampannya.


"Eh, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku malah memikirkan Chalista? Sebenarnya apa yang salah dengan otakku ini? Haish" gerutu Devan di dalam hatinya.


Karena Chalista dan Devan sudah berhenti tertawa, Serena, Dylan, Aurel, Demian, dan Amanda pun menghentikan tawanya.


Terlihatlah ekspresi wajah Devin yang seperti di tekuk dan bibirnya yang masih di manyunkan.


"Devin, sini Mama setrika wajahmu biar tidak kusut lagi" ucap Serena sembari tertawa kecil.

__ADS_1


"Mama, apakah Mama berfikir wajahku ini pakaian yang kustut dan bisa di rapikan dengan menggunakan setrika?" ucap Devin dengan nada kesal.


"Emmm, iya. Mama fikir begitu" ucap Serena sembari mencubit gemas kedua pipi Putra Keduanya.


"Mamaaaa" teriak Devin dengan nada kesal ketika sang Mama mencubit kedua pipinya.


Serena pun melepaskan cubitannya. Namun Serena tetap tak menghiraukan teriakan Putra Keduanya yang sudah kesal terhadap perlakuan sang Mama. Serena hanya memasang wajah cerianya kembali. Seperti tidak terjadi apa - apa.


Tanpa di sadari, ada sepasang Suami Istri yang sedang mendekat ke kursi khusus keluarga Melviano. Sepasang Suami Istri tadi bisa mendengar suara tawa dan teriakan yang berasal dari kursi khusus keluarga Melviano.


"Bukankah itu Chalista? Aku sangat mengenal Putriku sendiri walau hanya melihatnya dari belakang" batin Chandra sembari melihat punggung Chalista.


"Tuan Chandra" panggil Dylan ketika menyadari adanya rekan bisnisnya bersama sang Istri.


Deg


Deg


Deg


"Apakah yang di maksud oleh Papa itu adalah Tuan Chandra Ayahku?" batin Chalista yang menerka - nerka.


"Halo Tuan Dylan" ucap Chandra dengan senyuman kikuknya.


"Silahkan duduk di sini Tuan Chandra dan Nyonya Dewi" ucap Dylan sembari mempersilahkan Chandra dan Dewi menduduki dua kursi khusus keluarga Melviano yang masih kosong.


"Oh tidak, nama itu adalah nama Ayah dan Ibu tiriku. Apa yang harus aku lakukan? Mama dan Papa pasti belum mengenalku sebagai anak tunggal dari Ayah" batin Chalista di dalam hatinya.


"Baiklah Tuan" ucap Chandra yang langsung menduduki salah satu kursi khusus keluarga Melviano yang masih kosong. Di susul dengan duduknya Dewi di kursi yang berada di sebelah Chandra.


Chalista yang semula menundukkan kepalanya kini berani mengangkat kepalanya kembali. Chandra melirik Putrinya yang tengah duduk di sebelah Calon Suaminya. Untuk sejenak pandangan Ayah dan Anak ini beradu. Hingga Chandra sendiri yang membuka suaranya untuk berbicara kepada Chalista.


"Lista, kenapa kamu bisa ada di sini? Rupanya Devin tadi pagi menjemputmu untuk datang ke acara penyambutan CEO baru ini" ucap Chandra sembari tersenyum senang.


"Apa. Kenapa bisa ada si anak sialan itu di sini?" batin Dewi yang terkejut.


Dylan dan Serena mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Chandra kepada Chalista seakan mereka mempunyai hubungan dekat. Begitu juga dengan Demian dan Amanda yang pikirannya menerka - nerka tentang keakraban Chandra dan Chalista.


"Tuan Chandra, apakah anda mengenal Chalista?" tanya Dylan dengan dahinya yang berkerut.


Chandra menyunggingkan senyumanya. Chandra yakin bahwa keluarga Melviano belum mengenal Chalista sebagai Putri tunggal dari Chandra, kecuali Devan, Devin, dan Aurel.


"Saya sangat mengenalnya Tuan Dylan. Karena Chalista ini adalah putri tunggal saya" ucap Chandra sembari tersenyum lembut.

__ADS_1


"Akhirnya Ayah memberi tahu seluruh anggota keluarga Melviano" batin Chalista yang lega sembari menghembuskan nafas dengan panjang.


"Oh iya? Kenapa Tuan Chandra tidak pernah memperkenalkan Chalista ke publik" ucap Dylan dengan ekspresi yang menyiratkan keterkejutan yang sangat mendalam.


"Saya memang tidak memperkenalkan Chalista ke publik demi keamanannya. Nama Chalista juga tidak saya sematkan nama Marga keluarga kami agar tidak ada yang mengincar dirinya. Saya menginginkan agar Chalista hidup nyaman tanpa ada yang mengincar dirinya" ucap Chandra sembari tersenyum lembut.


"Jadi berita Tuan Chandra memiliki seorang Putri dua puluh tahun yang lalu itu benar" ucap Dylan yang langsung di beri anggukan kecil oleh Chandra.


"Nama Safitri di dalam nama Chalista juga saya ambil dari nama belakang Almarhumah Bundanya, Tiara Safitri" ucap Chandra sembari tersenyum getir.


Dylan, Serena, Demian, Amanda, Devan, Devin, Chalista, dan Aurel hanya bisa tersenyum mendengar penuturan dari Chandra. Hanya Dewi saja yang terlihat murung dan tidak tersenyum.


"Sebenarnya ada apa dengan mereka?" batin Dewi yang menerka - nerka.


"Jujur saja Tuan Chandra, saya baru mengetahui jika anda mempunyai seorang Putri yang sangat cantik" ucap Serena sembari tersenyum senang.


Chandra hanya membalas ucapan Calon Besannya dengan sebuah senyuman yang tersungging di wajahnya yang terbilang tampan.


Dylan dan Chandra pun memulai membahas masalah bisnis mereka. Biasalah, bapak - bapak pembisnis pasti akan mengobrolkan masalah bisnis. Bukan seperti ibu - ibu yang topiknya bisa berganti - ganti, dari ghibah jadi gosip. Haduh, dasar ibu - ibu rempong.


"Bagaimana bisnismu Tuan Chandra?" tanya Dylan kepada Calon Besannya.


"Alhamdulillah ada kemajuan. Saya lihat perusahaan Melviano Corporation semakin maju ya saat ini" ucap Chandra sembari tersenyum lembut.


"Alhamdulillah. Ini juga berkat bantuan dari Devan. Dia suka membantuku sebelum menjadi CEO di perusahaan ini" ucap Dylan sembari tertawa kecil.


"Wah, enaknya Tuan Dylan mempunyai dua jagoan yang siap membantu memajukan perusahaan Melviano Corporation" ucap Chandra sembari tersenyum senang.


"Iya, Alhamdulillah Tuan Chandra. Saya di kasihnya anugrah dua jagoan itu" ucap Dylan sembari tertawa kecil.


"Saya yakin Devan akan mengikuti jejak Papanya yang sangat handal mengelola sebuah perusahaan yang sangat besar. Anda sangat beruntung sekali Tuan Dylan mempunyai Putra seperti Devan" ucap Chandra sembari tersenyum senang.


"Aamiin. Semoga saja Devan bisa membawa perusahaan Melviano Corporation ini semakin maju" ucap Dylan sembari tersenyum lembut.


"Emm, Tuan Dylan. Tanpa di sadari kita sekarang sudah menjadi Calon Besan lho" ucap Chandra sembari tertawa kecil.


"Hahaha, benar kata anda Tuan" ucap Dylan sembari tertawa kecil.


"Senang berbesan dengan anda Tuan Dylan dan Nyonya Serena" ucap Chandra sembari tertawa kecil.


"Senang juga berbesanan dengan anda Tuan Chandra dan Nyonya Dewi" ucap Dylan sembari tersenyum senang.


"Hei hei, apa maksudnya berbesanan ini? Salah satu Putra dari tuan Dylan dan Nyonya Serena tidak akan menikah kan dengan Chalista?" batin Dewi yang merasa keheranan.

__ADS_1


__ADS_2