Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 29 - Jangan Kasih Kendur!


__ADS_3

"Apa katamu?" teriak Serena sembari menatap tajam wajah sang Suami.


Sebenarnya Dylan sudah bergidik ngeri dengan tatapan sang Istri yang sudah seperti singa betina yang ingin memakan mangsanya.


"Matilah aku. Salah siapa juga sih buat Istri sendiri ngamuk - ngamuk kayak singa" geruru Dylan di dalam hatinya.


Rasanya Dylan ingin sekali memukuli tubuhnya sendiri. Namun rasanya Dylan tidaklah bisa memukuli dirinya sendiri. Entah apa yang sedang Dylan pikirkan sekarang. Intinya Dylan sekarang sudah merasa sangat frustasi karena Istrinya yang sedang ngamuk - ngamuk karena ulah dirinya sendiri.


Serena yang melihat sang Suami hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaannya pun langsung memalingkan pandangannya ke segala arah.


Dengan kesal Serena melipat mukenahnya yang di pakainya tadi. Sesekali terlihatlah Serena melipat mukenah yang di pakainya tadi dengan kasar. Seakan - akan mukenah tersebut hendak robek.


Seram juga ya kalau Mama Rena lagi marah. Jangan sampai nih Mama Rena pecahin barang - barang berharga miliknya sendiri. Duh, bisa gawat tuh.


Setelah selesai melipat mukenahnya, Serena langsung menaruh mukenahnya di lemari khusus perlengkapan Shalat yang ada di ruang Shalat.


"Jadi Suami kok menyebalkan. Awas saja kalau nanti malam minta jatah. Bakalan aku suruh tidur di kandang anjingnya tetangga" batin Serena yang menggerutu karena kelakuan sang Suami.


Setelah selesai menaruh mukenahnya di lemari khusus perlengkapan Shalat, Serena langsung menggandeng tangan renta milik sang Mama Mertua yang tak lain adalah Hanna.


"Ayo Ma, kita segera pergi dari sini. Rena ngerasain di sini panas karena ada setannya" sindir Serena sembari menggandeng tangan renta milik sang Mama Mertua serta sesekali Serena melirik ke arah sang Suami yang memasang ekspresi wajah yang terlihat sendu dan memelas.


Glek


Dylan menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Seakan hatinya kecewa karena sang Istri menyamakannya dengan setan. Namun semua ini kan juga Dylan sendiri yang memulainya.


Dylan menyunggingkan senyuman licik di wajahnya yang tampan saat sebuah pikiran yang sangat tidak masuk akal memasuki otaknya.


"Iya sayang, kamu benar. Aku adalah setan yang bisa memanaskan ranjang kita" batin Dylan sembari tersenyum licik.


Serena yang melihat sang Suami yang menyunggingkan senyuman liciknya pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Serena sungguh tahu arti dari senyuman sang Suami. Karena Serena sudah lama hidup bersama dengan sang Suami.


"Dasar bodoh, bukan itu maksudku. Kenapa otak kamu itu isinya seperti itu semua?" batin Serena sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Karena tidak mau memikirkan sang Suami yang isi otaknya hanyalah pikiran - pikiran yang tidak masuk akal, Serena melangkahkan kakinya untuk menuju ke dapur. Karena rencananya Serena akan membantu Kedua Asisten Rumah Tangganya untuk membuat hidangan sarapan.

__ADS_1


Selepas kepergian Serena, lutut Dylan tiba - tiba terasa sangat lemas. Hingga akhirnya Dylan terduduk di keramik yang dingin tersebut.


Karena sesama lelaki yang sudah beristri, maka Adhitama sudah sangat paham dengan perasaan dan kondisi yang di alami oleh Putra Pertamanya.


Maka dari itu Adhitama berjalan mendekati Putra Pertamanya untuk memberikan semangatnya. Dylan sudah terlihat seperti orang yang tidak punya semangat untuk hidup.


"Sudahlah, kalau kamu mau Rena nggak ngambek lagi sama kamu ya di bujuk saja. Bukannya malah di diamin saja" ucap Adhitama sembari menepuk pelan kedua bahu Putra Pertamanya.


Perlahan Dylan menatap wajah sang Papa yang kini sedang menepuk kedua bahunya dengan pelan.


"Dylan memang mau membujuk Rena, Pa. Tapi Papa tahu kan kalau Rena tuh paling susah kalau untuk urusan bujuk - membujuk" ucap Dylan dengan pelan sembari tersenyum getir.


Mendengar ucapan sang Papa yang sangat terdengar putus asa, Devan dan Devin pun dengan perlahan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang tampan.


"Ayolah Papa. Papa harus bisa bujuk Mama. Kalau tidak, tamatlah riwayat Papa di kandang anjing milik tetangga" ucap Devin sembari tertawa jahat di akhir kalimatnya.


Mendengar ucapan Putra Keduanya yang terbilang sangat menyebalkan, Dylan malah semakin memasang ekspresi sendu di wajahnya.


"Kamu itu memotivasi Papa apa menakut - nakuti Papa? Kamu kok senang banget sih kalau Papa lagi di landa lautan galau begini?" ucap Dylan sembari tersenyum getir kepada Putra Keduanya.


Karena mendengar ucapan Putra Pertamanya yang terlihat sangat putus asa, Adhitama pun memberikan senyuman terbaiknya untuj Putra Pertamanya yang sedang memikirkan caranya untuk membujuk sang Istri yang sedang ngambek padanya.


"Ah, benar sekali katamu Opa. Perempuan paling suka kalau dirinya di istimewakan. Contohnya seperti pengakuan cinta atau perlakuan - perlakuan romantis lainnya" jawab Devin yang langsung menyetujui ucapan sang Opa.


Dylan yang mendengar perkataan Putra Keduanya pun langsung memberikan senyuman sinisnya kepada Putra Keduanya.


"Sok tahu banget sih kamu tuh. Memangnya kamu tahu dari mana?" tanya Dylan sembari menatap sinis Putra Keduanya.


"Papa, dengarkan Devin baik - baik. Devin itu selalu jadi most wanted waktu Devin masih sekolah dulu. Sekarang juga Devin menjadi laki - laki idaman di kampus Devin. Begini - gini juga Devin udah pernah beberapa kali pacaran, Pa. Nggak kayak Kak Devan tuh yang jomblo tapi tiba - tiba mau nikah" sindir Devin kepada sang Kakak yang sedang berdiri di sebelahnya.


Devan langsung memberikan tatapan tajamnya kepada sang Adik yang berani menyindirnya secara terang - terangan.


"Kenapa bawa - bawa Kakak?" tanya Devan dengan nada dinginnya sembari menatap wajah sang Adik dengan tatapan tajamnya..


Devin akui bahwa tatapan tajam dari sang Kakak bisa membuat nyalinya terbang melayang di udara. Tatapan tajam yang di berikan sang Kakak kepadanya bisa membuat nyalinya seketika hilang tak berjejak. Seakan Devan punya obat bius yang di suntikkan melalui tatapan tajamnya.

__ADS_1


Haduh, gawat juga nih babang gantengnya Author kalau lagi marah. Author kan jadi takut gara - gara babang gantengnya Author kalau marahnya kayak gitu.


Karena tahu situasi di ruang Shalat sangatlah panas, sepanas lava yang keluar dari gunung berapi, akhirnya Adhitama mengajak Putra pertamanya dan juga Kedua Cucu laki - lakinya untuk segera pergi menuju ke dapur.


"Sudahlah kalian ini. Ayo kita pergi ke dapur. Perut Opa sudah sangat lapar ini. Pasti Oma dan Mama kalian sudah menyiapkan hidangan yang lezat di atas meja makan" ajak Adhitama sembari tertawa kecil.


Dylan langsung beranjak berdiri dari duduknya dengan di bantu oleh Devan, Putra Pertamanya.


"Ayo kita pergi mengisi perut yang sudah keroncongan" ucap Dylan sembari tertawa kecil karena ucapannya sendiri.


Dylan segera menggenggam tangan sang Papa untuk berjalan bersamanya. Dylan dan Adhitama berjalan terlebih dahulu, dan di iringi oleh Devan dan Devin yang mengikuti langkah sang Papa dan sang Opa.


Sesampainya di dapur, benar saja apa yang di katakan oleh Adhitama tadi. Meja makan sudah penuh dengan hidangan sarapan pagi yang di buat oleh Hanna dan Serena, juga dengan bantuan Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano.


Seketika kedua bola mata Dylan langsung berbinar melihat betapa menggiurkannya makanan - makanan yang di masak oleh Sang Istri bersama dengan sang Mama dan juga Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano.


"Wah, di lihat dari tampilannya sudah sangat menggiurkan, apalagi rasanya" puji Dylan kepada sang Istri.


Namun yang di beri pujian hanya diam saja sembari menyibukkan dirinya yang tengah menata piring - piring di meja makan.


Melihat sang Istri yang hanya diam saja tanpa memberi respon terhadap pujian yang di lontarkan kepada sang Istri pun membuat Dylan dengan sigap langsung menghampiri sang Istri.


"Hei, kalau Suami bicara itu di jawab dong" ucap Dylan sembari menepuk lembut kedua bahu sang Istri.


Namun respon dari Serena sama seperti tadi, yaitu hanya terdiam tanpa menjawab ucapan sang Suami. Serena pun semakin menyibukkan dirinya sendiri.


"Sayang, please jangan diamkan aku seperti ini. Aku bisa gila nanti" ucap Dylan dengan nada yang frustasi sembari menjambak rambutnya dengan kuat.


Mendengar teriakan sang Suami membuat Serena menghentikan kegiatannya. Bukannya memimta maaf kepada sang Suami, Serena justru menjewer kedua telinga milik sang Suami.


"Kepala keluarga macam apa yang mengatakan keluarganya sendiri dengan sebutan keluarga gesrek hah?" ucao Serena dengan berapi - api sembari menjewer kedua telinga milik sang Suami.


Sontak saja Dylan mengaduh kesakitan karena jeweran di kedua telinganya yang di berikan oleh sang Istri sangatlah keras.


"Aduh Ma, udah dulu ya jewerin telinga Papa. Sakit Ma" ringis Dylan dengan memasang ekspresi memelas di wajahnya.

__ADS_1


Melihat sang Mama yang sedang asyik menjewer kedua telinga sang Papa membuat Devin memberikan kalimat - kalimat dukungan kepada sang Mama.


"Ayo Ma, hajar terus. Jangan kasih kendur!" ucap Devin sembari tertawa jahat melihat sang Mama yang sedang asyik menjewer kedua telinga milik sang Papa.


__ADS_2