
"Kakak, kenapa kalian seperti itu?" tanya Anyura yang langsung menerobos masuk.
Devan buru - buru melepaskan tangannya yang ada di atas tangan Chalista. Devan sadar posisi seperti ini berbahaya untuk mereka. Apalagi di tambah gadis kecil yang baru akan mempunyai KTP melihatnya.
Devan menormalkan ekspresi wajahnya. Bersikap seperti tidak terjadi apa - apa. Sedangkan Chalista, dia terlihat seperti kepiting rebus dengan pipi yang menjadi berwarna merah.
"Hei bocah, kenapa kamu malah masuk ke dalam sini? Bukankah kamu tadi meminta di ambilkan Baby Oil. Lantas, ada apa kamu kesini?" tanya Devan dengan nada dingin.
"Uh Kak Devan ini, aku berasa berada di kutub utara. Karena nada bicara kakak yang sangat dingin. Uh, dingin. Dasar manusia kutub" umpat Anyura di dalam hatinya.
Devan tahu kalau sekarang Anyura sedang mengumpatkan dirinya, walaupun itu di dalam hatinya.
"Dasar bocah tengik" umpat Devan di dalam hatinya.
"Kakak tahu kamu sedang mengumpatkan Kakak, walaupun itu hanya di dalam hati kamu" ucap Devan yang sukses membuat Anyura merinding sekaligus menelan salivanya.
Glek
Anyura menelan salivanya dengan susah payah. Kata - kata Devan bisa sangat pas sekali dengan kenyataanya.
"Kenapa Kakak selalu sukses mengobrak - abrik jiwaku. Ya Allah, tolonglah hambamu ini" teriak Anyura di dalam hatinya.
Chalista tersenyum lembut sembari menatap wajah Anyura. Chalista tahu bahwa sekarang Anyura sedang meminta pertolongan, walaupun permintaan itu sendiri ada di dalam hatinya.
Senyuman lembut yang tersungging di wajah cantik Chalista sukses membuat Anyura tenang.
Namun, Devan tidak akan membiarkan ketenangan itu berlangsung lama. Devan menatap Anyura dengan tatapan yang mengerikan bagaikan singa yang akan menerkam mangsanya.
"Jawab pertanyaan Kakak tadi Yura" ucap Devan dengan nada dinginnya.
Lidah Anyura mendadak terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Kakak Sepupunya. Seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun kata - katanya tertelan kembali. Entah apa yang membuatnya tertelan kembali.
"Kamu mendengarkan Kakak Yura?" tanya Devan dengan nada dinginnya sembari mendekatkan dirinya kepada Anyura.
Chalista sebenarnya merasa tidak tega dengan Anyura. Namun mau bagaimana lagi? Chalista tidak akan bisa membuat keadaannya menjadi normal kembali.
"Ya Allah, lindungilah Anyura. Hamba mohon Ya Allah" Chalista berdoa di dalam hatinya untuk keselamatan Anyura.
Chalista sangat takut bahwa nanti Devan akan melakukan kekerasan kepada Anyura, Adik Sepupunya sendiri.
"Iya Kak, aku mendengarmu" ucap Anyura dengan nada penuh dengan kepasrahan.
Devan menyungkingkan sebuah senyuman di wajahnya yang tampan. Entah apa arti dari senyuman itu, karena senyumannya sangat misterius dan susah untuk di tebak dan di mengerti.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Devan dengan nada dingin dan ekspresi datarnya.
"A aku kesini ka karena aku pe penasaran sa sama Ka Kakak yang lama ba banget di ka kamarnya" ucap Anyura dengan terbata - bata.
"Anyura, kalau kamu penasaran tunggu saja di sana. Kakak tidak akan melakukan apa - apa ketika Chalista belum halal untuk Kakak" ucap Devan dengan santainya.
Ah, bisa di bayangkan betapa malunya Chalista sekarang. Pipinya berwarna merah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Siapa perempuan yang tidak akan tersipu malu jika seorang laki - laki mengatakan hal seperti yang di katakan oleh Devan tadi? Pastinya perempuan akan tersipu malu kan?
"Kak Devan ini, kenapa dia bicara seperti itu di depan Anyura? Jelas - jelas ucapannya mengarah ke sana" batin Chalista dengan pipi yang bersemu merah.
"Kyaaa, pipinya Kakak Ipar berwarna merah. Lihatlah Kak Devan, Kakak Ipar sangat lucu jika sedang tersipu malu" ucap Anyura sembari menunjuk ke arah Chalista yang sedang menunduk karena tidak ingin di lihat orang jika dirinya sedang tersipu malu.
"Ah, benar kata Yura. Chalista terlihat sangat menggemaskan jika sedang tersipu malu seperti itu" batin Devan sembari tersenyum senang.
"Hahaha, Kak Devan sangat terlihat gemas sekali dengan Kakak Ipar. Aku juga gemas dengan Kakak Ipar. Rasanya aku ingin mencubit pipinya" batin Anyura dengan gemas.
Krek
Pintu kamar terbuka dari luar. Rupanya Serena sengaja membuka pintu kamar Anyuna dan Anyura karena heran dengan Chalista, Devan, dan Anyura yang lama sekali berada di dalam kamar Anyuna dan Anyura.
"Sayang - sayangnya Mama, kenapa kalian lama banget di kamar Si Kembar? Mama udah nugguin lho dari tadi" ucap Serena sembari berekspresi seperti Anak kecil yang sedang merajuk.
"Maafkan Lista Ma" ucap Chalista sembari menghampiri Calon Mama Mertuanya yang sedang merajuk.
"Tidak apa sayang" ucap Serena sembari membelai puncak kepala Chalista dengan lembut.
"Sial, Mama sengaja membuatku terbakar api cemburu" gerutu Devan di dalam hatinya.
"Yura, bersihkanlah wajahmu" ucap Serena sembari tersenyum lembut kepada Anyura yang memegang botol Baby Oil.
"Baiklah Ma" ucap Anyura yang langsung memasuki kamar mandi yang ada di dalam Kamar Anyura dan Anyuna.
Setelah kepergian Anyura, Serena tersenyum. Entah apa arti dari senyuman tersebut. Yang pastinya, senyuman yang tersungging di wajah Serena sangatlah misterius dan mengerikan.
"Huh, pasti akan ada bencana setelah ini" gerutu Devan di dalam hatinya.
"Hahaha, rasakan itu bocah tengik. Kan belum halal, jadi aku bisa menguasai Calon Menantuku saat ini" batin Serena sembari tersenyum misterius.
Serena membalikkan badannya untuk berbicara kepada Putra pertamanya.
"Van, kamu ikutlah dengan Mama. Ada sesuatu yang akan Mama berikan padamu" ucap Serena sembari tersenyum misterius.
"Ya Allah, ada apa lagi setelah ini?" batin Devan sembari mengacak - acak rambutnya dengan frustasi.
"Ikuti saja Devan, nanti kamu akan senang ketika mengetahui rencana yang telah Mama siapkan untuk kalian berdua nanti" batin Serena sembari tersenyum senang.
Serena berjalan mendahului Devan sembari menggandeng Chalista, sang Calon Menantu. Seakan tak ingin lepas dengan Calon Menantunya, Serena semakin mengeratkan gandengannya dengan Chalista. Tentu saja hal ini tidak luput dari pengelihatan Devan yang super tajam.
"Beda banget sikap Mama semenjak aku membawa Chalista beberapa jam yang lalu" batin Devan sembari tersenyum senang.
Devan mengikuti langkah dua wanita yang berjalan di depannya. Sesampainya di ruang keluarga, Serena langsung memberikan Devan sebuah paper bag yang berisi stelan tuxedo untuk Devan.
"Apa isinya Ma?" tanya Devan sembari mengerutkan dahinya.
"Buka sendiri kalau kamu mau tahu" ucap Serena dengan santai.
Karena penasaran, Devan membuka paper bag yang di berikan oleh sang Mama. Hanna, Adhitama, Anyuna, Amanda, Demian, Devin, dan Dylan penasaran apa isi dari paper bag tersebut.
__ADS_1
Dengan perasaan deg - degan, Devan membuka paper bag tersebut.
Kriek
Kedua bola mata Devan membulat ketika mendapati stelan tuxedo yang ada di dalam paper bag tersebut.
"Untuk apa Mama memberiku tuxedo?" batin Devan yang menerka - nerka.
Devan mengeluarkan tuxedo dari dalam paper bag tersebut. Hanna, Adhitama, Dylan, Amanda, Demian, Chalista, Anyuna, dan Devin membulatkan bola matanya ketika melihat stelan tuxedo yang keluar dari paper bag tersebut.
"Hah, kenapa isinya stelan tuxedo?" batin Chalista yang bertanya - tanya.
"Maksud Mama bagaimana?" tanya Devan sembari menunjukan stelan tuxedo tersebut kepada sang Mama..
"Nggak ada maksud apa - apa, ganti bajumu dengan tuxedo itu" ucap Serena sembari mendorong tubuh Devan agar pergi mengganti pakaiannya.
Devan hanya pasrah mendengar penuturan sang Mama. Jika tidak di penuhi kehendaknya, maka Serena akan marah besar kepadanya.
"Anak pintar" batin Serena sembari tersenyum senang.
Tak butuh waktu lama untuk Devan mengganti pakaiannya dengan tuxedo yang di berikan oleh sang Mama. Terlihat di sana Devan berjalan beriringan dengan Anyura yang sudah selesai membersihkan wajahnya.
"Ayo semuanya, kita menuju taman belakang" ucap Serena dengan gembira.
Semuanya bergerak menuju taman belakang. Hanna dan Adhitama berjalan menggunakan tongkat sebagai alat bantu, dan di dampingi oleh Serena serta Amanda.
"Ada apa ini? Kenapa Mama memintaku untuk menuju ke taman belakang ketika aku sudah menggunakan tuxedo?" batin Devan yang menerka - nerka.
Ketika sudah sampai di taman belakang, Serena langsung memberikan instruksi kepada Devan dan Chalista agar berdiri di tempat yang sudah dia tentukan.
"Devan, Lista, ayo ke sini" ucap Serena dengan gembira.
Devan dan Chalista berjalan menuju ke tempat yang sudah Serena tentukan. Tentunya dengan senyum yang di paksakan.
Terlihat di sana Serena sudah memegang sebuah kamera bermerk Canon. Devan dan Chalista menerka - nerka dalam pikiran merka sendiri.
"Ada apa dengan Mama?" batin Devan dan Chalista.
"Devan, rangkul pinggangnya Lista" ucap Serena yang memberi aba - aba.
Devan pun melakukan apa yang sang Mama katakan. Tentunya dengan sedikit keberatan.
"Lista, letakkan kedua tanganmu di leher Devan" ucap Serena yang memberi aba - aba.
Chalista pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Calon Mama Mertuanya. Tak lupa Chalista menyunggingkan senyum terpaksanya.
"Senyum" teriak Serena.
Devan dan Chalista tersenyum dengan pose mereka yang terbilang romantis ini.
Cekrek
__ADS_1
Serena telah mendapatkan potret romantis Putra pertamanya dan Calon Menantunya. Serena tersenyum puas dengan hasilnya.
"Seperti prewedding. Jika nanti Devan dan Chalista prewedding pasti hasilnya akan sangat memuaskan" batin Serena sembari tersenyum senang.