Istri Imutku

Istri Imutku
Ch 31 - Tontonan Drama Gratis


__ADS_3

"Kelihatannya Istriku ini lebih sayang kepada Devan yang beberapa hari lagi akan resmi menjadi Suami sahnya Chalista dari pada menyayangiku. Rasanya aku sangat cemburu kepada Putra Pertamaku sendiri" batin Dylan sembari menyunggingkan senyuman getir di wajahnya yang tampan.


"Ehem" deheman Devan untuk mengacaukan perbincangan asyik yang sedang di lakukan oleh sang Papa dan sang Adik.


Sontak saja Dylan dan Devin langsung menghentikan perbincangan asyik yang sedang mereka lakukan karena mendengarkan deheman dari Devan yang sudah di rencanakan untuk mengacaukan perbincangan asyik yang sedang di lakukan oleh Dylan dan Devan.


Untuk sejenak Dylan dan Devin saling menatap wajah satu sama lain. Setelah puas memandangi wajah tampan milik satu sama lain, Dylan dan Devin langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah tampan milik Devan.


Dylan dan Devin langsung memberikan tatapan tajamnya kepada Devan. Tatapan tajam dari Dylan dan Devin bisa menusuk ke jantung siapa pun yang di berikan tatapan tajam oleh Dylan dan Devin. Eh, maksudnya hati bukan jantung.


Sedangkan Devan yang di berikan tatapan tajam oleh sang Papa dan sang Adik pun hanya terdiam sembari memasang wajah konyolnya serta tak ketinggalan dengan senyuman mengejek yang tersungging di wajahnya yang tampan itu.


"Hahaha, silahkan mengumpati orang tampan sejagad raya yang bernama Muhammad Devan Melviano ini. Maklum, orang tampan pasti kan banyak fans dan juga hatters nya" batin Devan sembari menyunggingkan senyuman mengejek di wajahnya yang tampan.


Babang, kenapa kamu begitu narsis sih? Author sama Readers kan tahu kalau Babang Ganteng itu memanglah tampan dan mempesona. Tapi ya nggak usah narsis begitu. Benar kan?


Sementara itu, Serena justru membulatkan kedua bola matanya. Serena memberikan tatapan tajamnya yang dapat menusuk hingga ke jantung kepada sang Suami dan Putra Keduanya.


Sontak saja nyali Dylan dan Devin hilang entah kemana perginya hanya karena mendapatkan tatapan dari Serena yang merupakan Istri dari Dylan dan Mama dari Devan dan Devin.


Serena menaruh kedua tangannya di pinggang rampingnya. Masih dengan posisinya yang duduk di atas kursi.


"Kalian ini, benar - benar menyebalkan sekali ya" ucap Serena sembari menatap tajam wajah sang Suami dan Putra Keduanya.


Devin terlihat mengerenyitkan dahinya karena mendengarkan ucapan sang Mama yang terlihat seperti sedang memergoki maling yang ingin mengambil barang berharga miliknya.


"Menyebalkan apanya Ma?" tanya Devin dengan dahinya yang berkerut.


Serena menghembuskan nafasnya dengan kasar karena mendengarkan pertanyaan dari Putra Keduanya. Entah Devin memanglah polos atau pura - pura polos. Serena tidak tahu pasti untuk hal itu.


"Nggak mau ngaku juga kamu Vin. Padahal Mama tahu apa yang kamu bicarakan" ucap Serena sembari menatap tajam wajah Putra Keduanya.


Sontak saja Devin makin mengerenyitkan dahinya. Kali ini Devin sangat tidak tahu apa maksud dari sang Mama. Entah kenapa kali ini Devin mendadak jadi telmi, telat mikir.


"Maksud Mama apaan sih? Dari tadi Devin masih nggak mengerti sama perkataan Mama" tanya Devin sembari mengerenyitkan dahinya.


Untuk kedua kalinya Serena menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kepala Serena rasanya sangat pusing gara - gara Putra Keduanya yang terus berkata tidak tahu apa maksud dari ucapannya.

__ADS_1


"Mama tahu kamu sama Papa kamu tadi lagi ngomongin Mama kan?" tanya Serena dengan tatapan menyelidik kepada Putra Keduanya.


Ada satu orang laki - laki tampan yang diam - diam menyunggingkan senyuman mengejek di wajahnya yang tampan. Laki - laki tersebut adalah Muhammad Devan Melviano yang tak lain adalah Devan.


Devin refleks mengusap wajah tampannya dengan ciri khas seperti orang yang sedang frustasi. Memang benar sekarang Devin sangat frustasi dengan sang Mama yang sangat membingungkan.


"Mama, dengarkan Devin. Tadi Devin sama Papa bukan membicarakan Mama" ucap Devin sembari menghembuskan nafas dengan kasar.


Serena semakin membulatkan kedua bola matanya mendengarkan pernyataan dari Putra Keduanya. Serena semakin menatap wajah Putra Keduanya dengan tatapan menyelidik.


"Lalu siapa yang kamu bicarakan?" tanya Serena kepada Putra Keduanya dengan tatapan menyelidik.


"Ah, itu___" ucap Devin yang terpotong karena seseorang yang sudah memotong ucapannya.


Baru saja Devin akan mengatakan tentang fakta dari pembicaraanya dengan sang Papa. Sang Oma sudah datang menghampiri Putra Pertamanya, Menantunya, dan juga Kedua Cucu laki - lakinya dengan membawa semangkuk besar tongseng kambing. Di belakang Hanna terlihatlah Kedua Asisten Rumah Tangga yang mengikuti langkah Nyonya Besar keluarga Melviano ini. Tak tanggung - tanggung, Hanna juga memotong ucapan Devin yang tak lain adalah Cucu laki - lakinya.


"Taraaa, tongseng kambing ala Chef Hanna sudah siap" ucap Hanna sembari menaruh semangkuk besar tongseng kambing di atas meja makan.


"Bibi, kalian duduklah di atas kursi yang masih kosong. Kita akan sarapan bersama" ucap Hanna dengan senyuman hangat yang tersungging di wajahnya yang sudah tidak lagi muda.


Hanna segera menduduki kursi miliknya yang terletak di samping kursi sang Suami. Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano yang menduduki kedua kursi yang masih kosong.


"Ayo semuanya kita sarapan dulu. Pasti udah pada ngiler nih melihat masakan Oma, Mama Rena, dan Kedua Bibi kita" ucap Hanna sembari tertawa kecil.


Devan, Devin, Dylan, Serena, Adhitama, dan Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano hanya menanggapi ucapan Hanna dengan sebuah senyuman kecil.


Devan, Devin, Dylan, Serena, Adhitama, Hanna, dan Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano pun mulai mengisi piring masing - masing dengan nasi, sayur, dan lauk pauk yang telah tersedia di atas meja makan.


Sebelum makan, tak lupa untuk Devan, Devin, Dylan, Serena, Adhitama, Hanna, dan Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano untuk membaca doa terlebih dahulu. Dylan pun memimpin pembacaan doa sebelum menyantap hidangan sarapan pagi masing - masing.


Hanya ada suara dentingan sendok yang tak sengaja bersentuhan dengan piring. Karena di rumah keluarga Melviano menerapkan peraturan dilarang berbicara ketika makan.


"Umm, masakannya enak banget. Ini siapa yang masak sayang?" ucap Dylan sembari melirik sang Istri yang sedang memalingkan pandangannya ke segala arah.


Serena kini tidak lagi memalingkan pandangannya ke segala arah. Serena justru langsung menyantap hidangan sarapannya dengan sedikit tidak berselera. Mungkin karena bawan marah sama sang Suami yang membuat nafsu makan Serena menurun.


"Kalau gulai itu Rena yang masak Lan" ucap Hanna sembari menjelaskan makanan yang di maksud oleh Putra Pertamanya.

__ADS_1


Dylan hanya membalas perkataan sang Mama dengan anggukan kecil dari kepalanya. Dylan kembali menyantap makanannya dengan semangat '45, karena gulai tersebut merupakan hasil masakan dari sang Istri. Keadaan Dylan saat ini sangat berbanding terbalik dengan keadaan sang Istri. Bagaikan langit dan bumi, benar kan?


"Mama, biar Rena saja yang mencuci piringnya" ucap Serena ketika sudah menyelesaikan sarapannya.


"Tidak usahlah Rena, biar Bibi saja yang mencucinya. Benar kan Bi?" tolak Hanna dengan halus kepada Menantunya.


"Ma___" ucap Serena yang terpotong karena salah satu Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano sudah memotong ucapannya.


"Anda benar Nyonya. Itu sudah menjadi kewajiban saya" jawab salah satu Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano dengan senyuman lembutnya.


"Ah, baiklah Ma" jawab Serena dengan pasrah karena tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.


Sesaat suasana menjadi hening karena tidak ada yang memulai pembicaraan di antara Devan, Devin, Dylan, Serena, Adhitama, Hanna, dan Kedua Asisten Rumah Tangga yang bekerja di rumah keluarga Melviano.


"Ma, Pa, Rena mau ke kamar mandi dulu ya" pamit Serena kepada Kedua Mertuanya.


"Baiklah Rena" jawab Hanna dan Adhitama sembari memberikan senyuman lembutnya kepada Menantu mereka yang sangat unik tersebut.


Perlahan Serena bangkit dari posisi duduknya ke posisi berdiri. Dylan pun sudah selesai menyantap hidangan sarapannya. Dylan yang menyadari pergerakan sang Istri pun segera meletakkan sendoknya dan menatap wajah sang Istri.


Baru saja Serena akan melangkah menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur, namun tangan lembutnya sudah di cekal oleh sebuah tangan yang kekar. Pemilik tangan tersebut adalah Dylan, sang Suami.


Menyadari bahwa tangan lembutnya di cekal oleh tangan kekar milik seorang laki - laki yang tak lain adalah tangan milik sang Suami, membuat Serena menatap wajah sang Suami. Namun bukannya dengan tatapan lembutnya, Serena justru menatap sang Suami dengan tatapan tajamnya.


"Lepasin deh. Aku mau ke kamar mandi" ucap Serena dengan nada ketusnya, namun tanpa menghentikan tatapan tajamnya kepada sang Suami.


"Aku akan melepaskan tanganmu, sayang. Asalkan kamu mau memaafkanku" pinta Dylan sembari memasang ekspresi wajah memelas di wajahnya yang tampan.


"Enggak. Pokoknya aku nggak mau. Lepasin dulu" ucap Serena sembari melakukan beberapa upaya untuk melepaskan tangan lembutnya dari cekalan sang Suami.


"Pokoknya maafin dulu baru aku lepasin" ucap Dylan dengan nada tegasnya.


"Nggak mau" jawab Serena dengan nada ketusnya sembari menatap wajah sang Suami dengan tatapan tajamnya.


Terlihatlah di sana Devan diam - diam menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya yang tampan.


"Widih, tontonan drama gratis nih" batin Devan sembari menyunggingkan senyuman bahagia di wajah tampannya.

__ADS_1


__ADS_2