
"Hahaha" tawa Anyuna menggelegar ke seluruh penjuru rumah keluarga Melviano.
"Kamu ini kok senang banget sih?" tanya Chalista dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.
"Ya senang lah Kakak Iparku tersayang. Karena akhirnya aku bisa balas dendam" ucap Anyuna yang di iringi oleh tawa jahatnya.
"Ih Kak Yuna" rengek Anyura ketika Kakak Kembarnya mengatakan 'Aku bisa balas dendam'.
Sementara Anyuna tidak mendengarkan rengekan Adik Kembarnya. Baginya tidak ada yang penting.
"Ih, jahat banget sih. Lagian pakai bilang balas dendam di depan Kakak Ipar. Tunggu saja nanti Kak. Jika waktunya sudah pas akan aku balaskan dendamku padamu" batin Anyura dengan senyum licik yang tersungging di wajahnya yang penuh dengan coretan Eyeliner dan Lipstik.
Anyura hanya bisa pasrah ketika Kakak Kembarnya masih mencoret - coret wajahnya dengan Eyeliner berwarna hitam. Mungkin jika Eyeliner nya habis, Anyuna baru akan berhenti mencoret - coret wajah Adik Kembarnya.
Anyura tersenyum kepada Chalista. Sekarang Chalista tidak lagi mencoret - coret wajah Anyura yang akan menjadi Adik Iparnya nanti. Chalista masih punya rasa belas kasihan. Nanti orang tuanya ngamuk kalau penampilan anaknya seperti gelandangan yang tidak terawat.
"Kakak Ipar" panggil Anyura kepada Chalista yang sedang memakan kukis Coklat.
"Iya Yura" jawab Chalista dengan lembut.
"Tolong lepaskan aku dari jeratan singa yang sedang kelaparan ini Kak. Aku tidak mau menjadi mangsanya" rengek Anyura yang tanpa sengaja menyulut api amarah di dalam diri Kakak Kembarnya.
Belum sempat Chalista berkata 'Aku tidak bisa membantumu Yura', Anyuna mengamuk karena di samakan dengan singa yang sedang kelaparan.
"Hei bocah, selama ini aku sabar menghadapi tingkah dan perkataanmu yang menyebalkan. Kenapa kamu samakan aku dengan singa yang kelaparan hah? Padahal dirimu itu lebih mirip dengan Hantu!" ucap Anyuna dengan kilatan amarah di kedua matanya.
"Dasar Singa kelaparan, berani - beraninya kamu menyamakan aku dengan Hantu hah! Silahkan berkaca untuk melihat dirimu yang bagaikan Singa kelaparan" ucap Anyura yang langsung berdiri dari duduknya.
"Udahlah, tidak usah meributkan hal yang tidak penting" ucap Chalista lembut dengan senyuman yang terhias di wajahnya.
Perlahan namun pasti, amarah di dalam diri Anyuna dan Anyura pun mereda.
Baik Anyuna dan Anyura sama - sama mengakui kesalahan mereka. Nampaknya kehadiran Chalista begitu membantu untuk meredakan api amarah yang sedang membara.
"Maafkan aku Kak, aku tak sengaja berkata seperti itu. Aku tak bermaksud untuk menyulut api amarah di dalam diri Kakak" ucap Anyura yang langsung memeluk Kakak Kembarnya.
"Maafkan Kakak yang belum bisa menjadi Kakak yang baik untukmu. Bukannya malah bersabar, Kakak malah membalas kata - kata seperti itu kepada Adik Kembarku" ucap Anyuna yang membalas pelukan Adik Kembarnya.
"Nah, kalau begini kan enak lihatnya" ucap Chalista sembari tersenyum bahagia.
"Iya sih" ucap Anyura dengan tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Lihatlah wajahmu Yura, memang mirip Hantu" ucap Anyuna sembari tertawa kecil.
"Apa katamu?" teriak Anyura.
"Bukan apa - apa" jawab Anyuna dengan santai.
Karena penasaran dengan ucapan Kakak Kembarnya yang menyamakan dirinya dengan Hantu, Anyura mengambil sebuah Cermin yang berada di atas meja kaca.
"Lihatlah, nanti kamu pasti akan terkejut dan marah melihat wajahmu sendiri. Atau bahkan kamu tak bisa mengenali wajahmu sendiri" batin Anyuna ketika melihat Adik Kembarnya berjalan menuju meja kaca untuk mengambil sebuah Cermin.
Dengan perlahan, Anyura mengangkat Cermin tersebut dan mengarahkan ke wajahnya.
Terlihat bayangan wajah seorang gadis yang penuh akan coretan Eyeliner dan Lipstik. Namun lebih dominan coretan Eyeliner. Benar - benar seperti Hantu karena coretan Eyeliner yang ada di mana - mana.
"Aaa, ada apa dengan wajahku? Kengapa menjadi seperti ini?" teriak Anyura yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah keluarga Melviano.
Teriakan Anyura sangatlah dahsyat. Bahkan lebih dahsyat dari pada gempa bumi dan tsunami.
Teriakan Anyura mampu membangunkan Hanna dan Adhitama yang tengah tidur siang di kamar mereka. Teriakan Anyura juga mengganggu Devan dan Devin yang sedang berolahraga di ruang Gym. Teriakan Anyura juga mengganggu Dylan dan Demian yang sedang bekerja di ruang kerja Demian. Teriakan Anyura juga mengganggu Serena dan Amanda yang tengah membuat kue Brownies.
Sontak saja semua orang yang mendengarkan teriakan histeris Anyura langsung menuju ke ruang keluarga untuk memastikan apakah ada sesuatu yang mengganggu mereka.
"Ada ap___" belum sempat Hanna melanjutakan bicaranya, Hanna malah sudah tertawa terlebih dahulu melihat wajah Anyura yang di penuhi oleh coretan Eyeliner dan Lipstik.
Ekspresi wajah Amanda menyiratkan besarnya kepanikan ketika mendengarkan teriakan putri bungsunya. Sampai - sampai dia meninggalkan adonan kue Brownies yang sedang di panggang di dalam oven.
"Adek, wajahmu kenapa? Kok banyak hitam - hitamnya gitu?" tanya Amanda dengan nada yang tersirat dengan besarnya kepanikannya pada saat ini.
"Adek gagal di dalam tantangan Mam. Maka dari itu, Adek harus menerima konsekuensinya, yaitu wajah Adek yang cantik ini harus di coret - coret Mam" ucap Anyura dengan nada yang penuh dengan kesedihan.
Amanda menghampiri putri bungsunya yang sudah mau beranjak dewasa. Amanda memeluk erat putri bungsunya. Tak lupa Amanda menepuk - nepuk pantat Anyura agar dia tidak menangis.
"Cup cup cup, Adek yang cantik nggak boleh nangis ya" ucap Amanda sembari menepuk - nepuk pantat putri bungsunya.
Bukannya menjadi tenang karena ada sang Mama, Anyura justru menangis dengan kencang. Bahkan tangisan Anyura sekarang lebih kencang dari teriakkannya tadi. Mungkin warga se kompleks akan mendatangi rumah keluarga Melviano karena mendengar suara tangisan Anyura.
"Huaaa" Anyura menangis di pelukan sang Mama.
"Cup cup cup, kan udah besar. Ayo berhenti nangisnya" ucap Amanda sembari mengusap - usap punggung putri bungsunya.
Tangisan Anyura pun mereda. Anyura melepaskan pelukannya dengan sang Mama. Banyak pasang mata yang melihatnya dengan kondisi yang paling menyedihkan seperti ini.
__ADS_1
"Lho, wajah Adek jadi hitam semua lah gara - gara Adek tadi tangis" ucap Amanda sembari tertawa kecil.
"Yura, wajahmu jadi hitam semua" ucap Chalista dengan hati - hati karena takut menyinggung perasaan Anyura.
Sontak saja Anyura mengangkat Cermin yang telah di letakkan di atas meja kaca. Anyura mengarahkan Cermin berukuran sedang itu ke arah wajahnya.
Dan benar kata Mama dan Calon Kakak Iparnya bahwa wajahnya menjadi hitam semua. Ketika Anyura membalikkan tubuhnya, terlihat Hanna menahan tawanya dengan Adhitama yang juga duduk di kursi roda.
"Aaaa, apa itu? Apakah ada hantu di rumah kita Kak?" teriak Devin dengan histeris.
"Apa katamu? Hantu? Ti____" ucap Devan yang terpotong karena tawanya sendiri.
Bukannya berteriak histeris seperti Devin, Devan justru tertawa terpingkal - pingkal seperti Hanna.
"Hahaha" tawa Devan yang membahana ini menggelegar ke seluruh penjuru rumah keluarga Melviano.
Devan berjalan dengan langkah yang tertatih - tatih menuju ke arah Chalista yang masih duduk dengan senyuman manis yang tersungging di wajahnya.
Devan pun mendudukkan tubuhnya di sofa yang masih kosong yang tepat berada di sebelah Chalista.
Entah Devan sadar atau tidak bahwa dirinya sekarang tengah memeluk Chalista di hadapan banyak orang. Oma, Opa, Mama, Papa, Om, Tante, Adik, dan Sepupunya menyaksikan adegan Devan memeluk Chalista yang berstatus menjadi Calon Istrinya.
Devin masih berdiri di sana. Entah kenapa Devin rasanya takut untuk menghampiri Anyura yang di sangkanya Hantu karena wajahnya yang menjadi hitam semua.
"Ehem, belum muhrim Van. Nanti kalau udah muhrim di pelukin jangan di pelukin aja. Gas pol juga harus" goda Dylan kepada Anak dan Calon Menantunya yang dalam posisi paling berbahaya seperti itu.
Devan melepaskan pelukannya dengan Chalista. Devan tersenyum kepada gadis yang sudah berstatus menjadi Calon Istrinya itu.
"Yang wa wajahnya hitam se semua ini si siapa?" tanya Devin dengan gugup.
"Yura Vin" ucap Demian di iringi oleh tawa kecilnya.
"Yura, ini benaran kamu apa bukan?" tanya Devin sembari mendekatkan dirinya kepada Anyura yang telah dia sangka sebagai Hantu yang ada di rumahnya.
"Aku bukan Yura. Tapi aku___" ucap Anyura yang menjeda ucapannya.
"Maafkan Yura ya kak Devin. Tapi kali ini Yura nggak tahan banget buat ngerjain kak Devin" batin Anyura sembari tersenyum licik.
"Hantuuuu" ucap Anyura sembari bergaya seperti hantu.
Sontak saja itu membuat Devin ketakutan. Devin bahkan berteriak histeris ketika Anyura mengatakan bahwa dirinya bukanlah Yura, melainkan Hantu.
__ADS_1
"Aaaa, tolong. Ada Hantu" teriak Devin dengan histeris sembari berlari kesana kemari untuk meminta pertolongan kepada seseorang.